Selasa, 20 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Cuitan
Catatan Umrah Direktur Radar Kudus (5)

Isak Tangis ketika Menghadap Penguasa

Selasa, 06 Nov 2018 22:47 | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

USTAD Tahir Sasmita tiba-tiba terisak. Bicaranya terhenti saat mengajak untuk melafakan niat umrah. Ketika melanjutkan menjadi terbata-bata. “Labbaikallahumma umrotan (Aku sambut pangilanMu, ya Allah, untuk berumrah),” suaranya bergetar.

Saya terbawa pembimbing umrah itu. Menjadi terharu. Ikut menitikkan air mata. Saat itulah umrah dimulai setelah mengambil miqot di Bir Ali (Dzul Hulaifah). Selanjutnya harus banyak-banyak membaca talbiyah, bacaan puji- pujian kepada Allah. Juga meninggalkan semua larangannya.

Sejak mengenakan pakaian ihram di hotel Gloria Madinah saya sudah merasa menjadi kecil. Menjadi hamba yang akan menghadap penguasa seluruh alam. Hanya dengan dua lembar pakaian tanpa jahitan.

DOAKAN: Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang Baehaqi di sekitar ka’bah bersama jamaah umrah lainnya.

DOAKAN: Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang Baehaqi di sekitar ka’bah bersama jamaah umrah lainnya. (baehaqi)

Meski sudah berpakaian ihram, saat itu belum  resmi menjalakan ibadah umroh. Umrah baru dimulai di Bir Ali. Itulah tempat memulai umrah atau haji bagi jemaah yang berangkat dari Madinah. Bagi penduduk Mekah miqot di Tan’im, pintu masuk Makkah dari arah Madinah.

Sembilan tahun lalu tempat miqot Bir Ali yang dibangun Sayidina Ali bin Abi Tholib ini kecil. Sekarang sudah besar. Lantainya luas berkarpet tebal. Tempat wudlunya banyak. Halamannya asri dengan pohon yang rindang. Sumur-sumur yang dulu dibikin Sayidina Ali sudah ditutup. Diganti air muncrat. Sayang seluruhnya tak mengalir.

Bir Ali tidak jauh dari Madinah. Hanya setengah jam perjalanan dengan bus. Dari sini lanjut ke Makkah. Jalannya bebas hambatan. Mulus tanpa ada geronjalan seperti di Indonesia. Masing-masing jalur terdiri atas tiga lajur. Bus yang saya tumpangi selalu meluncur kencang. Konstan.  Dari monitor kecepatan terlihat antara 120 - 140 kilometer per jam.

Pemandangannya gurun dan gunung. Dari atas bus terlihat nyaris di sepanjang perjalanan ada air menggenang. Berarti sebelumnya ada hujan. Tampaknya deras dan merata. Meski demikian, saat saya melintas udara cerah. Matahari bersinar terang. Suhu 27 – 28 derajar Celsius. Masih lebih dingin dibanding suhu di Semarang dan sekitarnya  yang saat itu mencapai 33 derajar Celsius.

Sejatinya terlintas keinginan untuk naik kereta dari Madinah ke Makkah. Kereta cepat itu telah diresmkan pengoperasiannya sebulan lalu. Tiketnya sekitar 60 real sekali jalan (Saya belum tahu pastinya). Memang masih dalam taraf percobaan. Resminya baru 2019.

Kereta listrik itu dirancang dengan kecepatan lebih dari 300 km/jam. Sehingga menjadi kereta tercepat di Timur Tengah. Bisa mengangkut penumpang sekitar 60 juta orang setahun. Sembilan tahun lalu ketika saya menjadi panitia haji di Arab Saudi stasiun kereta di Makkah mulai dibangun.

Kereta ini menghubungkan lima stasiun di Makkah, Jeddah, Bandar Udara Internasional Abdul Aziz, King Abdullah Economic City di Rabigh, dan Madinah. Kelak seluruh jemaah haji dan umrah Indonesia tidak perlu naik bus. Baik mereka yang turun pesawat di Jedah maupun Madinah. Semua bisa naik kereta.

Dengan kereta tersebut, jalur Madinah – Mekah bisa ditempuh hanya dua jam. Akan membuat jemaah haji maupun umrah nyaman. Sedangkan sekarang perjalanan dengan bus memakan waktu enam jam. Kemarin saya yang berangkat dari Madinah ukul 14.00 tiba di Mekah pukul 20.00 waktu setempat.

Sekitar pukul 22.00 saya mulai memasuki area masjid. Jalan menjadi semakin cepat. Tak sabar lagi segera melihat keagungan Tuhan. Begitu memandang ka’bah isak tangis saya pecah lagi. “Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan wibawa pada kakbah ini. Tambahkan pula pada orang-orang yang memuliakan, mengagungkan, dan menghormatinya, di antara mereka yang berhaji atau berumrah dengan kemulliaan, keagungan, kehormatan, dan kebaikan,” demikian saya berdoa.

Suasana Masjidil Haram saat itu tidak terlalu ramai (menurut saya). Pelataran yang mengelilingi ka’bah tidak penuh. Kira-kira jemaah tidak sampai seperdelapan dari pelaratan yang berlantai marmer itu. Saya yang semula mengambil jarak sekitar lima meter dari ka’bah bisa mendekat hingga sekitar tiga meter. Salip-salipan antarjemaah masih lancar. Di tempat sa’i juga sama.

Meskipun mendekati tengah malah suhu tidak dingin seperti di Madinah. Alat ukur di HP saya menunjuk angka 27 derajar Celsius. Ibadah menjadi nyaman.

Atas kebesaran Allah saya mengakhiri seluruh rangkaian ibadah umrah persis Pukul 00.00. Sungguh kebetulan. Tidak saya buat-buat. “Segala puji bagi Allah yang telah menyelesaikan manasik kami. Ya Allah, tambahkanlah kami iman, keyakinan, dan pertolongan,” doa saya yang terakhir setelah memotong rambut tanda penutup umrah. Mata berlinang lagi. Terisak lagi. (hq@jawapos.co.id)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia