Sabtu, 17 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Features
Astri Agustin, Kenalkan Tari di Tiga Benua

Rela Cari Sponsor Sendiri saat Akan Pentas di Tiongkok

Kamis, 01 Nov 2018 19:33 | editor : Ali Mustofa

GO INTERNATIONAL: Astri Agustin Ayudiani saat pentas di Univeresity of California, Los Angeles (UCLA) dengan diiringi gamelan yang dibawakan orang Amerika Serikat.

GO INTERNATIONAL: Astri Agustin Ayudiani saat pentas di Univeresity of California, Los Angeles (UCLA) dengan diiringi gamelan yang dibawakan orang Amerika Serikat. (DOK. PRIBADI)

Kecintaan terhadap seni tari mengantarkan Astri Agustin Ayudiani melanglang buana ke tiga benua, Asia, Afrika, dan Amerika. Dia tak rela kesenian yang dicintai itu punah. Saat ini, dia pun mulai merintis membuat sanggar.

Reza Eka Saputra, Kudus

KECINTAAN terhadap seni tari ditunjukkan Astri Agustin Ayudiani. Tak sekadar belajar tari tradisional, dia juga sudah membawakan di tiga benua, Asia, Afrika, dan Amerika.

Astri, begitu dia dipanggil. Awal mula saat TK, dia melihat ibunya mendampingi muridnya menari. Karena hal itu, dia tertarik untuk mempelajari seni tari. Di sanggar tari, gadis asal Desa Wergu Wetan, Kota, Kudus, ini, mempelajari dasar menari dari orang yang dianggapnya sebagai kakek.

Dia sempat berhenti menari selama beberapa tahun, karena kakek tersebut meninggal. Sehingga dia tak punya guru untuk belajar. Tetapi, berkat kecintaannya terhadap tari, dia melanjutkan kegemarannya tersebut. Dengan mengikuti latihan di sanggar lain.

Saat SMP, dia bahkan memperdalam ilmu kesenian. Dia merantau ke Jogjakarta. SMKI Jogjakarta menjadi pilihannya untuk menimba ilmu. Selain sekolah kesenian, dia juga memperdalam bakat menarinya di Sanggar Tari Pujo Kusuman Jogjakarta. Kedua kegiatan tersebut, semakin membuatnya mencintai tari.

”Bagi saya, menari itu sangat asyik. Ketika mendengar suara alunan musik gamelan, rasanya badan ini ingin bergerak,” kata anak bungsu dari tiga bersaudara itu.

Putri pasangan Sunardi dan Septiyani ini, kemudian melanjutkan kuliah di Institut Seni (ISI) Jogjakarta. Di ISI dia mengambil jurusan seni tari. Sehingga sangat menjurus dengan bakatnya tersebut.

Berkat kepiawaiannya berlenggok, dia mengoleksi beberapa prestasi. Prestasi yang paling berkesan baginya, saat menjadi pemeran terbaik putri festival sendra tari tingkat Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ). Sebab, prestasi itu didapatkan di provinsi orang dan pusat dari berbagai kesenian.

Perempuan kelahiran Kudus, 4 Agustus 1994 tersebut, juga sering mengisi beberapa acara pentas tari. Bahkan, dia pernah mengisi pentas tari di luar negeri. Afrika pernah dikunjunginya pada 2014. Keberuntungan membawanya bersama empat penari lain. Acara tersebut bertajuk ”Harare International Festival Art”. Saat itu, dia diundang Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk mementaskan kesenian tari Indonesia. Dia membawakan tari nusantara.

Setelah itu, dia juga pernah mengisi acara di Amerika Serikat. Tepatnya di Univeresity of California, Los Angeles (UCLA) pada 2014 lalu. Dia di sana mengisi acara kolaborasi antarinstansi. Saat itu, musik gamelan pengiringnya dimainkan orang Amerika Serikat. Dia membawakan tari golek menak dan tari panji semirang.

”Awalnya tak menyangka diiringi orang luar negeri. Setelah sampai sana, ternyata memang benar. Jadi, di UCLA itu mereka juga mempelajari tentang gamelan,” ujarnya.

Setelah menari di Afrika dan Amerika, ternyata pengalaman tersebut membuatnya ketagihan. Dia kemudian mengikuti festival pentas seni teater di Tiongkok. Dia membawakan drama musikal. ”Ghrrroookg” merupakan judul drama musikal tersebut. Di mana menceritakan tentang pembalakan liar.

Perjalanannya menuju Tiongkok tidak mudah. Jumlah orang di tim yang banyak, tentunya membutuhkan dana cukup besar. Mereka pun mencari sponsor sendiri. Dia sempat pesimistis untuk bisa berangkat ke Negeri Tirai Bambu itu. Tetapi dengan kegigihan tim untuk mencari sponsor, akhirnya mereka semua bisa berangkat.

Setelah melanglang buana, saat ini dia memiliki keinginan untuk membuat sanggar tari sendiri. Hal itu sudah menjadi cita-citanya sejak lama. Bahkan, dia sudah menabung untuk membeli kostum tari.

”Saya ingin agar seni tari tradisional terus dilestarikan. Para pekerja seni memang harus sabar. Selalu membuat inovasi baru agar diterima orang banyak,” ujarnya.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia