Senin, 17 Dec 2018
radarkudus
icon featured
Features
Duka Keluarga Korban Lion Air JT-610

Sempat Video Call hingga Baru Saja Pulang Kampung

Panky Pradana dan Bambang Rozali Usman

30 Oktober 2018, 08: 52: 00 WIB | editor : Panji Atmoko

TEGAR: Ayah Panky, Bambang (kaus putih), warga Kelurahan Kalidoro, Pati, di rumahnya kemarin.

TEGAR: Ayah Panky, Bambang (kaus putih), warga Kelurahan Kalidoro, Pati, di rumahnya kemarin. (SRI PUTJIWATI/RADAR KUDUS)

Ratusan penumpang pesawat Lion Air JT-610 dari Jakarta ke Pangkal Pinang terjatuh kemarin pagi. Dari ratusan penumpang, di antaranya ada warga Pati, Panky Pradana Sukandar, 29, dan warga Kudus, Bambang Rozali Usman, 46.

SRI PUTJIWATI-JAMAL ABDUN NASHR, Pati-Kudus

Suasana rumah Bambang Rozali Usman, korban asal Kudus.

Suasana rumah Bambang Rozali Usman, korban asal Kudus. (JAMAL ABDUN NASHR/RADAR KUDUS)

__________________________________________________________________________________________________

SIANG kemarin kondisi rumah orang tua Panky Sukandar di Kelurahan Kalidoro, Kecamatan Kota, Pati, sepi. Hanya ada beberapa mobil diparkir di halaman rumah. Mereka teman-teman ayah Panky, Bambang.

Panky merupakan salah satu korban pesawat Lion Air JT-610 dari Jakarta ke Pangkal Pinang terjatuh kemarin pagi. Pada saat awak media mendatangi rumah korban, Bambang sedikit kaget.

Ia akhirnya menemui awak media. Pertemuan ini singkat. Hanya sekitar lima menit. Saat mengobrol, Bambang menangis sesenggukan. Dia juga meminta doa restu kepada warga, supaya diberikan mukjizat keselamatan kepada putra tersebut. Panky merupakan putra sulung dari tiga bersaudara pasangan Bambang dan Santi. Dia bertugas di PT Blue Bird.

”Ya memang benar putra kami berangkat menggunakan pesawat Lion Air itu (JT-610). Dari Jakarta ke Pangkalpinang. Tujuannya mau ke Bangka. Ada tugas di sana,” kata pria yang pernah menjabat sebagai Kabag Hukum Setda Pati ini sambil sesenggukan.

Dia mengaku, dia kali pertama mendapatkan kabar pesawat itu terjatuh dari kantor dan tetangga putranya. Sebelum kejadian ini, dia tak merasakan firasat apa-apa.

Semalam sebelum pesawat itu jatuh atau Minggu (28/10), dia sempat video call dengan putranya. Saat itu putranya masih di Jakarta. Lalu, paginya bertolak ke Bangka. Tak banyak yang disampaikan saat video call.

Sementara itu, Lurah Kalidoro, Kecamatan Pati Kota, Arif Imawan, membenarkan Panky merupakan warga asli Desa Kalidoro. Namun, dia sudah tak tinggal di Pati setelah bekerja. Ia mengaku kurang mengetahui pekerjaan Pangky. Sebab, setelah lulus SMA jarang pulang ke Bumi Mina Tani. Korban yang lulus dari SMAN 1 Pati, kemudian kuliah dan bekerja di luar daerah.

Sekitar dua tahun lalu, Panky menikah dengan warga Kendal. Dia biasanya hanya pulang saat Lebaran. Panky merupakan sulung anak kembar tiga. ”Sejauh ini yang kami kenal Panky sosok yang baik dalam bergaul di masyarakat,” ucapnya.

Sebagaimana yang diketahui, ada 181 penumpang pesawat Lion Air JT-610. Dari ratusan awak pesawat, empat dikabarkan merupakan warga Bumi Mina Tani. Salah satunya yang sudah jelas merupakan penumpang adalah Pangky.

Satu korban lagi, ada warga Kabupaten Kudus, Bambang Rozali Usman, 46. Dia merupakan warga RT 2/RW 9, Desa Pasuruhan Lor, Jati, Kudus.

Rumah bercat kuning itu, ramai dikunjungi para tetangga tadi malam. Mereka berdatangan untuk menyatakan belasaungkawa. Puluhan kursi disiapkan untuk tamu yang datang di depan rumah korban. Sejumlah tetangga laki-laki berkumpul di halaman rumah korban. Sementara tamu perempuan terlihat memenuhi bagian ruang tamu.

Kakak kandung korban, Agus Budi Suharto, menuturkan, keluarganya menerima berita pesawat nahas itu dari televisi. Sebelumnya, istri korban sempat mencoba menghubungi menggunakan telepon. Namun tak ada jawaban. ”Biasanya kalau sudah mendarat itu kontak dengan istrinya. Ini kok enggak,” ujarnya.

Keluarga korban sempat kaget saat mengetahui berita dari televisi. Sehari sebelumnya, korban baru saja pulang ke Kudus. Korban sempat dua hari di kampung halamannya. Sebelum akhirnya kembali ke Pangkal Pinang, Bangka Belitung, dengan menumpang pesawat Lion Air JT 610. ”Ahad malam berangkat ke Stasiun Poncol, Semarang. Terus naik kereta ke Jakarta. Dari Jakarta naik pesawat ke Pangkal Pinang,” katanya.

Saat ini, keluarga korban memilih menunggu proses evakuasi di rumah. Sementara itu, anak pertama korban yang telah bekerja di Makassar telah menuju Jakarta. Tahun ini, merupakan tahun ketiga korban ditugaskan di Bangka Belitung. Setelah sebelumnya di Medan. Saat ini, dia bekerja sebagai kepala Sub Bagian Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) Bangka Belitung.

Korban yang merupakan anak ke-10 dari 12 bersaudara ini, meninggalkan seorang istri bernama Imas Heniyati. Sementara tiga orang anak yang ditinggalkan, masing-masing bernama Maulana Usman, Farah Fatimah, dan Rahmatullaili.

Rencananya, setelah jasad korban ditemukan oleh tim evakuasi akan dimakamkan di kampung halamannya, Kudus. ”Nanti kalau sudah ketemu dibawa ke sini (rumah duka, Red). Keluarganya kan di sini,” ucapnya.

(ks/lin/zen/put/aji/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia