Senin, 17 Dec 2018
radarkudus
icon featured
Features
Rusmani, Penggagas Biogas Limbah Ternak Ayam

Manfaatkan Peralatan Bekas, Belajar Olah Limbah Secara Otodidak

16 Oktober 2018, 21: 51: 19 WIB | editor : Ali Mustofa

BERINOVASI: Rusmani menunjukkan biogas yang diciptakan dari limbah kotoran ayam di rumahnya Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong, Pati, kemarin.

BERINOVASI: Rusmani menunjukkan biogas yang diciptakan dari limbah kotoran ayam di rumahnya Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong, Pati, kemarin. (SRI PUTJIWATI/RADAR KUDUS)

Rusmani berhasil memanfaatkan biogas dari limbah ternak ayam miliknya. Ide ini berawal dari masalah sepele. Supaya ratusan ayam yang dipelihara tidak mengeluarkan bau. Akhirnya ia kelola jadi biogas yang bermanfaat.

SRI PUTJIWATI, Pati

LUAS lahan yang dimiliki Rusmani, 47, di Desa Kedungbulus, Kecamatan Gebong, Kudus mencapai 1,2 hektare. Lahan tersebut dimanfaatkan untuk rumah, usaha, kebun kelor, hingga wisata edukasi. Bahkan di sana ia memelihara sekitar 100 ayam yang limbahnya diolah menjadi biogas.

Suami Muryati ini mengaku, menciptakan biogas satu tahun lalu. Sekitar 100 ayam yang dikelola anaknya. Supaya bau kotoran ayam tidak menyengat, dirinya mempunyai ide membuat biogas dari limbah itu. Supaya bau dari dampak memelihara ayam tidak terlalu menyengat dan mengganggu warga sekitar.

“November 2017 lalu saya mulai memelihara ayam. Biasanya menimbulkan bau tak sedap. Nah supaya limbahnya tidak mengganggu tetangga, saya mencari cara. Yakni mengolahnya menjadi biogas. Biasanya biogas dibuat dari kotoran sapi, saya mencoba dari kotoran ayam. Prosesnya secara otodidak. Saya berpikir kotoran ayam itu sudah mengandung gas dan tinggal mengolahnya,” tuturnya.

Dirinya mempelajari sistem kerja biogas. Pria yang mengaku hanya lulusan MTs ini mengatakan proses pembuatan biogas dari kotoran ayam disalurkan ke penampungan dari peralatan bekas. Amoniak dari limbah itu diolah di dalam kantong plastik (blung) untuk memisahkan antara gas dan air.

“Kali pertama membuat gas itu mencari banyak referensi dan langsung berhasil. Hanya saja harus mengumpulkan limbah selama sepekan baru bisa diolah menjadi biogas. Pembuatan biogas itu kini dapat saya manfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi tidak hanya dapat mengurangi bau limbah dari peternakan ayam,” ucapnya.

Ayah dari empat anak ini mengatakan, biogas yang diciptakan secara sederhana memberikan dampak besar secara ekonomi. Ia tak perlu membeli gas untuk bahan bakar memasak. Karena sudah diambilkan dari biogas itu. Bahkan biogas itu apinya lebih biru dari gas biasa. Selain itu ia memanfaatkan kotoran untuk pembuatan pupuk untuk menyiram tanamannya.

“Kami masih berupaya untuk membuat inovasi lainnya. Kami hanya meyakini beternak di lingkungan padat penduduk tetap bisa dilakukan asalkan mampu mengolah kotoran ayam menjadi biogas,” ucapnya.

Di lahannya itu ada banyak tanaman seperti sawi, kembang kol, hingga okra yang diolah menjadi kopi dan makanan lainnya. Tak heran, di rumahnya tersebut kerap dijadikan wisata edukasi untuk warga.

Wisata edukasi itu dikelola oleh istrinya. Terutama kampung kelor yang digagas sejak 2016 lalu. Ribuan pohon kelor yang ditanam dimanfaatkan menjadi olahan makanan seperti mie kelor, cendol, cake, puding, dan lainnya. 

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia