Selasa, 23 Oct 2018
radarkudus
icon featured
Features
MA Roudlotul Mubtadiin di Festival Pelajar

Dilengkap LCD, Bentuk Terinspirasi Asian Games

Jumat, 21 Sep 2018 17:15 | editor : Ali Mustofa

MEGAH: MA Roudlotul Mubtadiin Balekambang bersama karya 3D wall magazine mereka saat Festival Pelajar Radar Kudus Biro Jepara 2018.

MEGAH: MA Roudlotul Mubtadiin Balekambang bersama karya 3D wall magazine mereka saat Festival Pelajar Radar Kudus Biro Jepara 2018. (Dok. Pribadi)

MA Roudlotul Mubtadiin putri Balekambang kembali meraih prestasi dalam lomba 3D Wall Magazine Festival Pelajar Jawa Pos Radar Kudus Biro Jepara 2018. Tahun sebelumnya mereka menduduki juara tiga. Tahun ini mereka berhasil menyabet juara pertama.

FEMI NOVIYANTI, Jepara

HASIL tak akan mengingkari proses. Hal itulah menjadi prinsip dari para pelajar MA Roudlotul Mubtadiin Balekambang yang tergabung dalam tim 3D Wall Magazine tahun ini.  Untuk mendapatkan hasil terbaik, mereka rela menghabiskan waktu di luar jam sekolah membuat karya.

Pembimbing tim 3D Wall Magazine sekolah tersebut, M Ali Subhan mengatakan, pada lomba tahun ini mereka membuat gambaran sebuah negara. Dari atas ada tebing dan air terjun. Air itu bermuara ke pedesaan sampai perkotaan. Tebing dan air terjun itu terinspirasi dengan perhelatan Asian Games kemarin.

Ali Subhan melanjutkan, mading yang mereka buat memiliki tema Pajakmu Prestasiku. Itu merupakan penjabaran dari tema besar lomba mading bertema Pajak, Pelajar dan Pendidikan. ”Sehingga konsep yang telah dibuat awal kami mencoba memasukkan unsur-unsur yang sekiranya ada hubungannya dengan tema utama,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Dia melanjutkan, agar mading yang mereka buat sesuai tema, maka mereka menambahkan beberapa miniatur seperti SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, kantor pajak, rumah sakit, dan beberapa miniatur lainnya.

Di sisi lain dia tahu, sebuah mading itu harus ada pesan yang disampaikan. Bukan hanya bentuk dari miniatur yang bagus saja. ”Sehingga kami buat dan tata sedemikian rupa. Ada beberapa berita, artikel, puisi, karikatur, pantun yang isinya itu tentang manfaat pajak pada dunia pendidikan,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, di dalam mading tersebut ada sebuah layar LCD yang dikonsep selayaknya videotron. Layar tersebut digunakan menarik perhatian pengunjung. Sekaligus mempermudah para pembaca untuk memahami tentang manfaat pajak pada umumnya dan pendidikan pada khususnya. ”Karena mereka tidak perlu membaca, tetapi cukup mendengarkan,” ujarnya.

Untuk mempersiapkan itu semua, mereka menghabiskan waktu sekitar satu pekan. Mereka mengerjakan di waktu-waktu yang sekiranya tidak mengganggu kegiatan pondok. ”Biasanya kami buat mulai pukul 20.00 WIB sampai 02.00 WIB. Di hari terakhir sampai tidak tidur,” tuturnya.

Hal itu dilakukan karena kegiatan para anggota padat. Kalau pagi sekolah formal sampai siang, kemudian pukul 14.00 WIB. Mereka harus mengikuti sekolah wajib pondok sampai sore. ”Dilanjutkan pengajian Alquran sampai ba’da Isya,” urainya.

Disinggung mengenai kendala, Ali Subhan menyatakan, konsep yang mereka buat awalnya sebuah gambar 2D. Kemudian diaplikasikan ke 3D. ”Saat kami buat ada beberapa yang tidak match. Akhirnya kami seketika berfikir ulang berinovasi kembali. Terutama pada konsep jalan dan penataan gedung-gedungnya,” jelasnya.

Untuk bahan, mereka sempat kehabisan pada malam terakhir pembuatan. Saat itu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. ”Prinsip kami adalah hasil itu tidak akan pernah mengingkari proses. Jadi besar kecilnya hasil yang didapatkan itu sebanding dengan keringat yang kami keluarkan. Pronsip ini kami dapatkan dari pengasuh pesantren. Selalu kami pegang dalam melakukan segala hal,” imbuhnya.

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia