Selasa, 23 Oct 2018
radarkudus
icon featured
Features
Solichin, Difabel yang Mau Bekerja Keras

Ke Sekolah-Sekolah dengan Tongkat, Ciptakan Wayang Robot

Kamis, 20 Sep 2018 22:00 | editor : Ali Mustofa

Solichin

Solichin (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

Meski menjadi seorang difabel, Solichin tak menyerah. Ia bekerja keras memeras keringat dengan berjualan mainan di sekolah-sekolah. Dari tangannya ia membuat wayang kekinian untuk dolanan anak.

 ACHMAD ULIL ALBAB, Pati

Sejak lahir Solichin tak pernah bisa berjalan. Kakinya cacat entah kenapa. Untuk menyambung hidup, dia berjualan mainan di sekolah-sekolah tingkat dasar. Penghasilannya hanya cukup untuk makan dan memutar modal untuk jualan lagi.

Anak-anak di SD N Bleber mengerumuni dagangannya di depan pagar sekolah pada Jumat (14/9) siang itu. Saat itu jam istirahat memang sudah tiba. Saking banyaknya anak yang berdesak-desakan membuat Solichin yang berbadan gemuk tak kelihatan.

Solichin yang mengenakan kaos gelap di tubuhnya yang hitam legam itu duduk lesehan di depan barang dagangannya. Dia menjual mainan seperti mobil-mobilan, gasing, hingga mainan anak perempuan.

Solichin juga menjual mainan buatan tangannya sendiri. Semacam wayang. Bukan wayang seperti yang selama ini ada. Ia mengkreasikan dengan bentuk robot karakter film-film. Bahannya dari kertas bekas. Selain mainan, pria tambun ini menjual jajanan ringan.

Solichin yang sejak kecil cacat tersebut tak bisa jalan. Dia harus ngesot. Untuk mendukung mobilitasnya dia kadang memanfaatkan jasa ojek. Seperti saat kulakan di Pasar Tayu.

Selain di SD N 1 Bleber, warga Desa Karangsondo Kecamatan Cluwak ini berjualan di beberapa sekolah SD. Namun, pria kelahiran Pati, 5 Agustus 1982 lebih banyak jualan di SD N 1 Bleber. ”Anak-anak di sini baik. Mereka mau membantu saya membelikan makan dan minum. Sehingga tak perlu repot. Saya suka,” katanya.

Solichin saat ini lebih banyak hidup sendiri. Sebenarnya dia masih punya keluarga. Masih punya saudara kandung, masih punya ayah. Namun dia lebih memilih jarang di rumah. Paling sebulan dua kali Solichin pulang. Katanya, dia tak mau merepotkan orang rumah.

Kegiatan jualan mainan ini telah dilakoni Solichin sejak 1991. Awalnya dia menjualkan barang orang. Kemudian mulai mandiri sekitar 1999. Solichin berjualan dengan kulakan sendiri.

Melihat Solichin memang seringkali membuat iba. Solichin beberapa kali pernah ditawari modal usaha oleh seseorang. ”Ada yang menawari tambahan modal. Supaya saya jualan di daerah desa sendiri, supaya tak repot. Namun saya sendiri merasa keberatan. Saya kerasan jualan di sekitar sini (SDN 1 Bleber, red). Saya seperti diterima di sini. Anak-anak baik. Gurunya juga,” kata Solichin.

Keuntungan sehari dalam berdagang, Solichin bisa mengantongi Rp 20 hingga Rp 25 ribu. Uang tersebut cukup untuk kulakan dan memutar modal. Bahkan sering kali harus tombok saat memutar modal. Seperti saat ngojek untuk kulakan barang dagangan di Pasar Tayu.

Selain jualan di sekolah-sekolah, Solichin juga jualan di tempat-tempat les anak-anak. Semisal saat ada les karawitan, atau les pelajaran. Solichin kadang menyempatkan untuk menggelar dagangannya di sana.

Saat ini Solichin masih terus berjualan. Tanpa lelah. Dia yang ditawari bantuan dalam bentuk modal, punya keinginan lain. Misalnya kalau ada yang mau membantu lebih baik memodali transportasi. Solichin ingin punya sepeda motor sendiri yang dimodifikasi untuk orang cacat seperti dirinya.

Sebab, saat berjualan, Solichin harus tertatih-tatih berjalan dengan menggunakan tongkat. Dulu malah hanya ngesot. Untuk membawa barang dagangan, dia dibantu orang sekitar. ”Ya mungkin lebih baik punya kendaraan sendiri. Supaya bisa mendukung aktivitas berjualan,” harap Solichin.

(ks/him/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia