Senin, 24 Sep 2018
radarkudus
icon featured
Jepara

Terumbu Karang di Karimunjawa Boleh Dipandang, Jangan Disentuh

Rabu, 12 Sep 2018 20:09 | editor : Ali Mustofa

TAK MENYENTUH KARANG: Wartawan Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi melakukan snorkeling di atas terumbu karang dan kerumunan ikan di sekitar Pulau Menjangan Kecil, Karimunjawa, Jepara.

TAK MENYENTUH KARANG: Wartawan Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi melakukan snorkeling di atas terumbu karang dan kerumunan ikan di sekitar Pulau Menjangan Kecil, Karimunjawa, Jepara. (DOK PRIBADI BAEHAQI)

JEPARA – Kelestarian terumbu karang di Kepulauan Karimunjawa dikhawatirkan terancam. Terutama terumbu karang di laut dangkal yang menjadi favorit wisatawan umum. Hal ini sejalan dengan semakin banyaknya peminat snorkeling. Di antara mereka belum bisa berenang. Mereka sering menyentuh terumbu karang yang mestinya dilestarikan.

Semakin banyaknya peminat snorkeling itu, mengikuti meningkatnya wisatawan ke Karimunjawa lantaran dibukanya penerbangan ke sana. Pesawat NAM Air melayani rute Bandara A. Yani Semarang ke Bandara Dewadaru di Karimunjawa sejak 1 Agustus 2018 lalu. Sepekan tiga kali. Minggu, Rabu, dan Jumat. Setiap penerbangan membawa sekitar 50 penumpang dengan pesawat ATR 72-600.

Wartawan koran ini Baehaqi yang ke Karimujawa dengan pesawat juga melakukan snorkeling di beberapa tempat. Di antaranya di Takak Sendok dan Menjangan Kecil. Ketika sampai di Menjangan kecil, sudah ada lima perahu yang menunggui wisatawan melakukan snorkeling. Masing-masing perahu membawa sekitar 15-20 penumpang. Di Takak Sendok ada empat perahu.

BENING: Air di perairan Karimunjawa terlihat bening hingga terlihat terumbu karang.

BENING: Air di perairan Karimunjawa terlihat bening hingga terlihat terumbu karang. (DOK PRIBADI BAEHAQI)

Wartawan koran ini menyaksikan, banyak wisatawan yang belum pandai ber-snorkeling. Bahkan, mereka sama sekali tidak bisa berenang. Tetapi, mereka mamaksakan diri demi menikmati pemandangan bawah laut. Akibatnya kaki mereka sering menyentuh karang. Terlihat banyak karang yang patah. Di samping tidak indah lagi, juga menghambat pertumbuhannya.

Snorkeling cenderung dilakukan di laut dangkal. Di sekitar Menjangan Kecil ada karang yang hampir menyebul ke permukaan laut. Demikian juga di Takak Sendok. Wartawan koran ini mengukur ketinggian beberapa bagian karang. Ada yang ketinggiannya 20 sentimeter dari permukaan laut. Beberapa pe-snorkeling malah sengaja berenang dengan memegangi karang tersebut. Padahal karang itu mudah patah.

Para pemandu sudah memberi peringatan, baik sebelum berangkat maupun ketika pe-snorkeling mau mencebur ke laut. Tetapi, mereka tak kuasa menghalangi pe-snorkeling yang lepas dari pengawasannya.

Untuk menjaga kelestarian karang yang langka tersebut, tampaknya perlu ketegasan dari pemerintah. Snorkeling tidak boleh dilakukan di lokasi karang yang dangkal. Minimal di kedalaman tiga meter agar kaki pe-snorkeling tidak menyentuh karang.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia