Senin, 24 Sep 2018
radarkudus
icon featured
Cuitan

Tiga Puluh Menit ke Karimunjawa

Rabu, 12 Sep 2018 18:19 | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (DOK. RADAR KUDUS)

Wisata ke Karimunjawa, Jepara, kini semakin nyaman. Perjalanan dari Semarang cukup setengah jam. Malah kurang. Bukan lagi tergantung kapal. Sekarang bisa naik pesawat terbang.

Sudah lama saya ingin ke Karimunjawa dengan pesawat terbang. Semula saya mengincar tanggal 1 Agustus 2018. Saat itu kali pertama NAM Air melayani rute Semarang - Karimunjawa secara reguler. Namun, kehabisan tiket. Hari-hari berikutnya masih penuh. Berikutnya lagi kesempatan saya yang tidak memungkinkan. Akhirnya ketemu tanggal 7 September 2018.

NAM Air mulai melayani rute Semarang – Karimunjawa 1 Agustus 2018. Pesawatnya kecil. Jenis ATR 72-600. Tinggi terbangnya hanya 3.000 kaki. Bandingkan dengan boing yang 200 penumpang saja setinggi 18.000 kaki. Kapasitasnya 72 penumpang. Tetapi, hanya diisi sekitar 50 kursi. Itu karena landasan Bandara Dewadaru cukup pendek. Hanya 1.200 meter. Penerbangan itu melengkapi moda transportasi yang ada selama ini.

Bersama saya sepesawat ada belasan turis mancanegara. Sebagian naik dari Bandara A. Yani. Sebagian lagi sudah ada di pesawat sebelumnya. Saya tidak tahu dari mana. Ketika balik ke Semarang juga ada belasan bule dan warga asing lainnya. Bagi mereka perjalanan ke Karimunjawa tentu semakin simpel.

Selama ini, untuk ke Karimunjawa, yang disebut-sebut sebagai Balinya Jawa, hanya bisa dilakukan dengan kapal laut. Ada dua jenis kapal yang melayani rute itu. Yaitu speed boat dengan waktu tempuh dua jam dari Jepara dan feri dengan lama perjalanan 6 jam. Itu tidak efektif bagi orang yang memiliki dana cukup.

Sekarang, dengan pesawat terbang, perjalanan cukup setengah jam. Jumat (7 September lalu) saya mencoba ke sana dengan pesawat tersebut. Semula jadwal keberangkatan 14.45 WIB. Tapi, mundur sampai sejam lebih. Dari Bandara A. Yani Semarang pesawat meninggalkan landasan pukul 16.10 WIB. Mendarat di Bandara Dewandaru, Karimunjawa, pukul 16.33 WIB. Pengalaman pertama yang tidak begitu baik bagi saya.

Keterlambatan malah berulang ketika saya meninggalkan Karimunjawa Ahad kemarin. Penerbangan seharusnya pukul 15.40. Tetapi pesawat baru muncul satu setengah jam kemudian. Saya yang akan melanjutkan perjalanan ke Surabaya akhirnya harus menunda perjalanan lanjutan tersebut.

Penundaan penerbangan semakin menyengsarakan karena bandara Dewadari sangat kecil. Ruang tunggunya di dalam kedung tidak cukup menampung seluruh penumpang NAM Air. Apalagi, kalau pesawatnya lebih besar. Luberannya ditempatkan di halaman gedung. Kemarin saya harus menunggu di halaman itu sekitar satu jam.

Bandara Dewadaru terletak di ujung Pulau Kemojan. Sedangkan pusat kota di ujung Pulau Karimunjawa. Kedua pulau telah dihubungkan dengan jalan darat yang dibangun dengan mengurung laut. Ada jembatan sebagai tapal batas. Perjalanan dari bandara ke kota membutuhkan waktu 30 menit dengan mobil.

Perjalanan dari bandara ke kota melewati pantai paling favorit di Karimunjawa. Tanjung Gelam. Pasirnya putih. Bisa digunakan untuk menikmati sunset. Banyak wisatawan bule yang berjemur di pantai itu. Wisatawan domestik menikmatinya untuk bermain. Perjalanan juga melewati hutan mangrove yang disebut-sebut terbaik di Indonesia.

Sebelum ada penerbangan terjadwal, Bandara Dewadaru hanya melayani penerbangan perintis. Yaitu pesawat-pesawat kecil yang dicarter. Misalnya, ketika saya mendarat di sana sudah ada pesawat Airfast yang parkir. Pesawat itu meninggalkan bandara Minggu pagi. Kemudian Minggu sore datang lagi.

Pesawat NAM Air pun sebenarnya masih tergolong carter. Tetapi dioperasikan reguler tiga kali seminggu. Yaitu Minggu, Rabu dan Jumat. Pesawat itu terkoneksi dengan rute-rute lain.

Meski pengalaman pertama cukup membuat tangis, saya masih bisa merasakan kebahagiaan lain. Bisa merasakan Hari Minggu lebih lama di Karimunjawa dibanding penumpang yang naik kapal. Penumpang kapal harus berkemas pukul 10.00. Sedangkan saya empat jam lebih lambat. Jadi, bisa menikmati Karimunjawa sedang sepi. Di hari Minggu lagi. Bersama bule-bule dari berbagai negara.

Hari minggu Karimunjawa sepi karena nyaris seluruh wisatawan domestik pulang. Itu berbeda dengan tempat-tempat wisata lainnya. Mereka sudah di Pulau itu sejak Jumat. Jadwal kepulangan paling cepat yang memungkinkan hanyalah Minggu. Kalau tidak pulang hari itu, mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak.

Ke Karimunjawa dengan pesawat terbang memang tidak murah. Saya harus membeli tiket Rp 850.000 sekali jalan dari Bandara A. Yani atau Rp 1.700 ribu  pergi-pulang. Bandingkan dengan tiket kapal cepat yang hanya sekitar Rp 250.000 atau kapal feri yang tidak sampai Rp 100.000. Itu belum biaya angkutan lokal dari bandara ke pusat kota.

Meski sudah ada pesawat terbang, belum ada moda tranportasi umum dari bandara ke kota. Saya sempat kesulitan. Satu-satunya kendaraan yang bisa membawa ke kota adalah mobil carter. Untuk perjalanan pulang-pergi saya membayar Rp 800 ribu per mobil. Mobil ini bisa terasa murah apabila diisi lima orang.

Ya, begitulah. Untuk bisa nikmat harus keluar uang lebih banyak. (hq@jawapos.co.id)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia