Sabtu, 17 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Pati

Empat Gunungan Dihadirkan di Sembahyang King Ho Ping

Kamis, 30 Aug 2018 07:05 | editor : Panji Atmoko

DOAKAN ARWAH LELUHUR: Sembahyang King Ho Ping di Kelenteng Hok Tik Bio Pati berjalan khidmat kemarin.

DOAKAN ARWAH LELUHUR: Sembahyang King Ho Ping di Kelenteng Hok Tik Bio Pati berjalan khidmat kemarin. (SRI PUJIWATI/RADAR KUDUS)

PATI – Tradisi ulambana atau disebut sembahyang King Ho Ping (sembahyang rebutan) dilaksanakan khidmat di Kelenteng Hok Tik Bio Pati kemarin. Selain mendoakan arwah leluhur, ritual ini untuk mengenang jasa Gus Dur sebagai pejuang kelenteng. Ritualnya diakhiri berebut sandang, pangan, dan papan yang disediakan panitia.

Dalam upacara itu ada lima gunungan sedulur papat pancer lima seperti filosofi Jawa. Ada beberapa sesaji seperti pecel lele, sayur bening, jajanan pasar yang hanya ada di kalenteng Jawa.

Sejak pukul 10.30, warga sekitar sudah berkerumun di luar pagar Kelenteng Hok Tik Bio Pati. Mulai dari orang tua, remaja hingga anak-anak. Selama berjam-jam, masyarakat menunggu ritual sembahyang di dalam kelenteng. Sejumlah sesaji telah disiapkan di dalamnya.

Sementara itu di teras kelenteng juga ditata sesaji seperti nasi, arak, olahan daging, buah-buahan, dan jajanan pasar yang diletakkan di dalam baki. Sementara itu di halaman kelenteng sudah ada lima gunungan yang berisi makanan, kopi, teh, sayur, buah dan lainnya.

Di antara gunungan, ada kaus, baju, celana, dan mi instan. Semuanya digantung. Di halaman kelenteng juga ada puluhan tempat minum kendi yang diletakkan di atas meja. Kendi itu diberi bendera yang tertulis nama leluhur. Usai berdoa pukul 12.30, pintu dan pagar kelenteng dibuka. Warga yang sudah menunggu lama langsung menyerbu dan memperebutkan isi gunungan. Ada yang membawa plastik besar untuk mengumpulkan makanan.

Ketua Kelenteng Hok Tik Bio Pati Eddy Siswanto menyampaikan, sembahyang King Ho Ping ini untuk mendoakan arwah dan leluhur yang dikenal atau tidak. Juga mendoakan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur karena sudah berjasa memperjuangkan kelenteng yang dulunya tak bisa melaksanakan ritual.

“Sembahyang rebutan diakhiri dengan pembakaran Thai Se dengan harapan tak ada sifat-sifat buruk dan kesialan melanda sepanjang tahun. Juga berdoa diberikan kemakmuran, keselamatan, dan kedamaian,” kata Eddy yang juga koordinator Gusdurian Pati ini.

Eddy menambahkan, dulunya sembahyang rebutan hanya ada di kalangan keluarga Tionghoa. Karena kelenteng sudah berbaur masyarakat Jawa, maka dilengkapi lima gunungan sedulur papat pancer lima seperti filosofi Jawa.

(ks/put/zen/aji/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia