Selasa, 23 Oct 2018
radarkudus
icon featured
Kudus

Penjamasan Sakral, Jalur Peziarah Dialihkan

Selasa, 28 Aug 2018 07:00 | editor : Panji Atmoko

PUSAKA SUNAN KUDUS: Prosesi penjamasan pusaka Kiai Cinthaka peninggalan Sunan Kudus oleh KH. Faqihudin di area Tajug Menara Kudus kemarin.

PUSAKA SUNAN KUDUS: Prosesi penjamasan pusaka Kiai Cinthaka peninggalan Sunan Kudus oleh KH. Faqihudin di area Tajug Menara Kudus kemarin. (YM3SK FOR RADAR KUDUS)

KUDUS – Keris Kiai Cinthaka, pusaka peninggalan Sunan Kudus dijamas kemarin. Prosesi penjamasan digelar di sekitar tajug kompleks Menara Kudus dan Makam Sunan Kudus. Acara yang diselenggarakan oleh pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) itu berlangsung sakral.

Penjamasan dimulai sekitar pukul 07.00 hingga 09.30. Tak hanya pusaka Kiai Cinthaka, dua mata tombak peninggalan Sunan Kudus juga ikut dijamas oleh KH. Faqihudin.

Ketua YM3SK M. Najib Hasan mengungkapkan, penjamasan keris peninggalan Sunan Kudus ini rutin dilakukan tiap tahun. Pelaksanaannya tidak berpatokan kalender dan pasaran, tetapi berpatokan hari dan tanggal. Yakni hari Senin atau Kamis setelah hari Tasyrik (tanggal 11, 12, dan 13 Dzhulhijjah). ”Tahun ini setelah hari Tasyrik yang jatuh pertama adalah hari Senin. Jadi penjamasan dilakukan hari ini (Senin, Red),” terangnya.

Dikatakan, penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kudus ini berlangsung tertutup. Bagi peziarah yang datang diarahkan untuk masuk lewat pintu belakang. Tak diperbolehkan masuk lewat pintu depan. ”Hal ini dimaksudkan supaya prosesi jamas keris berjalan sakral. Terkait pemilihan petugas penjamas, merupakan arahan serta rekomendasi dari almarhum KH. Ahmad Basyir (penjamas sebelum KH. Faqihudin),” ujarnya.

Prosesi penjamasan ini, diawali ziarah ke makam Sunan Kudus. Setelah itu baru prosesi inti, penjamasan. Penjamasan dimulai dengan mengeluarkan pusaka yang semula tersimpan rapi di atap tajug.

Pusaka tersebut mula-mula direndam dengan air campuran jeruk nipis dan sekam ketan hitam. Setelah itu diberi warangan, menyan, dan wewangian nonalkohol dari Makkah.

Usai direndam, pusaka Kiai Cinthaka dibungkus lagi dan diletakkan kembali di atap tajug. Sementara dua mata tombak yang ikut dijamas dikembalikan ke mimbar pengimaman Masjid Menara Kudus. ”Penjamasan ini dilakukan sebagai upaya perawatan terhadap benda pusaka. Selain itu, juga untuk mengingat sejarah ketokohan Sunan Kudus,” ucapnya.

Setelah penjamasan selesai, dilanjutkan tahlil, bancaan jajan pasar, dan makan bersama dengan menu opor ayam panggang. ”Acara makan opor ini sudah dibakukan sejak 15 tahun terakhir. Konon, opor ayam menjadi kegemaran kanjeng Sunan Kudus,” terangnya.

Ritual penjamasan ini, juga menjadi pembuka rangkaian acara buka luwur makam Sunan Kudus. Buka luwur sendiri digelar 10 Muharam mendatang. 

(ks/ela/lin/aji/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia