Senin, 24 Sep 2018
radarkudus
icon featured
Cuitan

Dirgahayu Indonesia, Selamat Ulang Tahun Dahlan Iskan

Sabtu, 18 Aug 2018 07:15 | editor : Panji Atmoko

direktur radar kudus baehaqi

direktur radar kudus baehaqi (dok. radar kudus)

DI saat banyak orang memperingati Hari Kemerdekaan, saya melakukan ritual lain. Mengunjungi guru saya Dahlan Iskan. Guru jurnalistik. Guru wartawan se-Indonesia. Kemarin (17 Agustus 2018) dia berulang tahun ke-68. Hari ulang tahunnya sama dengan ulang tahun kemerdekaan Indonesia.

Sekitar pukul 10.15, rumah Dahlan di Taman Sakura Surabaya kelihatan sepi. Banyak mobil berjajar di jalan depan rumah. Di dalam ternyata ramai. Ada serombongan tamu yang mengenakan seragam merah putih. Dahlan mengenakan T-shirt hijau tua, senada dengan baju yang dikenakan istrinya Nafsiah Sabri. ‘’Tadi kami upacara,’’ ujar Dahlan.

MESRA: Dahlan Iskan menyuapi istrinya Nafsiah disaksikan Baehaqi dan Ny. Vikram.

MESRA: Dahlan Iskan menyuapi istrinya Nafsiah disaksikan Baehaqi dan Ny. Vikram. (vikram for radar kudus)

Setiap tanggal 17 Agustus Dahlan selalu mengikuti upacara Hari Kemerdekaan. Tahun lalu di Pasar Atum Surabaya. Tahun ini di Graha Pena Surabaya. Kali ini bersama komunitas senam dan kelompok gamelannya. Dahlan melakukan senam secara rutin di depan gedung yang didirikannya kemudian menjadi kantor pusat grup Jawa Pos. Setelah upacara kemarin mereka juga bermain gamelan di rumah Dahlan.

Tahun lalu saya bersama karyawan Jawa Pos Radar Kudus juga mengunjungi Dahlan sebelum beliau berangkat upacara. Kemudian setelah upacara ngobrol panjang lebar mengenai berbagai hal terutama koran. Kali ini hanya bersama Vikram Angkola Hutasuhut dan istrinya. Vikram adalah mantan anak buah Azrul Ananda, putra sulung Dahlan Iskan. Teman-teman Radar Semarang sebenarnya ingin ikut tetapi lagi banyak kesibukan.

Seperti berbagai kesempatan bertemu Dahlan sebelumnya, kemarin saya diterima di ruang makan. Ada hidangan istimewa yang belum pernah saya lihat sebelumnya di mana pun. Nasi hawai. Ditempatkan di tampah anyaman bambu. Di atasnya masih ada kertas bertulisan Happy Birthday Kaik Dahlan. Saya tak sempat bertanya arti Kaik.

Sepintas nasi tersebut seperti  nasi goreng tanpa kecap. Namun ada potongan-potongan cabe hijau, merah, dan tomat muda yang mendominasi permukaan. Terlihat juga potongan daun bawang dan petai.

Lauknya ayam yang terpendam di bawah permukaan nasi. Ini seperti nasi mandi ala Arab Saudi yang ayam atau dagingnya disembunyikan di bawah nasi. Bedanya nasi mandi hanya kelihatan nasi dengan lemak banyak mengkilat. Di sebelah tampah nasi, ada semangkuk besar gulai. Berkali-kali tuan rumah mempersilakan saya makan. Bahkan Pak Dahlan sendiri yang mengambilkan piring.

Pak Dahlan mengawali makan. Dia mengambil ayam yang tersembunyi di balik nasi. Hanya ayam yang terus diemil. Disusul Bu Nafsiah. ‘’Ibu doyan makan tetapi harus dibatasi,’’ kata Dahlan. Kelihatannya nikmat sekali.  Saya minta izin ke Bu Dahlan untuk tidak makan karena sedang puasa Dzulhijjah. Beliau memaklumi.

Obrolan di ruang makan itu mengalir deras disertai canda tawa. Di depan saya, Dahlan menyuapi istrinya. Mesra sekali. “Sekarang Ibu kelihatan langsing,’’ puji Dahlan. Memang jauh dibanding sebelum beliau sakit bulan Puasa lalu. Berat badannya turun sembilan kilogram. Dahlan menyarankan turun lagi biar nanti semampai.

Berat badan Bu Dahlan turun bukan karena sekarang masih sakit. Beliau sehat. Makannya banyak. Tetapi jenis makannya dibatasi. Tidak makan nasi. Tidak makan sebagian besar sayur. Tidak makan gula. ‘’Pokoknya tidak makan semua yang ada di muka bumi,’’ kelakar Dahlan. Bu Dahlan yang pernah saya dampingi ketika berziarah ke makam Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dan Sunan Muria, tertawa ngakak.

Tidak makan sebagian besar makanan ternyata tidak membuat Bu Dahlan lemas. Sebaliknya beliau justru jauh lebih sehat. Sangat inspiratif. Hanya saja, aktivitasnya masih dibatasi setelah operasi batu ginjal di Surabaya dilanjutkan di Samarinda.

Operasi organ penting lanjutan tidak dilakukan di Jakarta atau Surabaya yang kata banyak orang memiliki dokter dan peralatan lebih lengkap. Bahkan tidak di luar negeri. ‘’Samarinda memiliki peralatan yang lengkap. Dokternya hebat. Nyentrik. Ramah. Rambutnya segini,’’ kata Bu Dahlan sambil memegang kedua pundaknya.

Di samping memuji istrinya, Pak Dahlan juga memuji saya. Hehehe. “Baehaqi kelihatan muda,” ujarnya. Mendapat pujian itu rasanya mak nyes. Saya yang lagi introspeksi setelah berkali-kali harus bertekuk lutut pada karyawan jadi lebih bersemangat. “Berapa umurmu kok masih kelihatan muda?” tanya Pak Dahlan. Saya jawab, sepuluh tahun lebih muda dibanding Pak Dahlan. “Sudah dapat pendamping?” timpal Bu Dahlan. “Beliau ke sini untuk meminta rekom,” sahut Vikram mengenai saya yang sekarang lagi jomblo.

Saya memiliki keterikatan emosional yang sangat dalam dengan Dahlan. Sama dengan sebagian besar wartawan di grup Jawa Pos. Bahkan di luar Jawa Pos. Saya masuk Jawa Pos tahun 1985 ketika Abah Dahlan –panggilan anak-anak dan istri kepada Dahlan- baru tiga tahun mengembangkan Jawa Pos.

Beliaulah yang mengajari menulis saya beserta teman-teman seangkatan. Cara mengajarnya unik. Di samping model kelompok, beliau memberi contoh langsung. Berkali-kali saya didudukkan di samping beliau untuk memperhatikan tulisan yang diedit. Bahkan beliau mengajak langsung terjun ke lapangan. Bagi Dahlan, pendidikan kewartawanan adalah penularan. Saya meyakini itu dan terus mengembangkannya.

Pak Dahlan adalah guru jurnalistik sepanjang masa. Beliau adalah guru gurunya guru. Sebagian besar koran di Indonesia yang ada sekarang, termasuk di luar grup Jawa Pos, mengikuti gaya beliau. Selamat ulang tahun Pak Bos, semoga panjang umur dan terus menularkan ilmu kepada kami, penerusmu. (hq@jawapos.co.id)

(ks/zen/aji/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia