Senin, 24 Sep 2018
radarkudus
icon featured
Features

Budi Utomo, Seniman Kriya Kudus yang Berdayakan Warga Sekitar

Lebih Suka Garap Proyek Swasta

Selasa, 14 Aug 2018 10:40 | editor : Panji Atmoko

MAESTRO LOKAL: Om Tomi saat ditemui di teras rumah bersama hasil karyanya.

MAESTRO LOKAL: Om Tomi saat ditemui di teras rumah bersama hasil karyanya. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Seniman kriya asal Kota Kretek Budi Utomo ketika mengerjakan proyek patung hampir selalu melibatkan pemuda sekitar. Pelibatan masyarakat sekitar ini beberapa kali diapresiasi pemerintah maupun warga.

 

SAIFUL ANWAR, Kudus

 

RUMAH di gang 13 Undaan Lor itu tampak etnik. Beberapa patung tertanam di tengah taman. Ada lukisan wayang punokawan di pagar tembok. Serta beberapa topeng menempel di dinding. Pemandangan ini menegaskan si empu rumah seorang seniman.

Itulah kediaman Budi Utomo atau biasa disapa Om Tomi. Rambut panjang yang ditutup topi serta aura wajahnya tampak dingin memberi kesan tersendiri saat wartawan koran ini menemuinya. Sekilas, Om Tomi tampak sangar. Tapi setelah dekat dengan dirinya, kepribadian pria itu ternyata ramah.

Keseharian sosok yang juga ketua RW 3, Desa Undaan Lor, Undaan, saat ini lebih banyak dihabiskan menggarap proyek-proyek untuk pembangunan gapura, tugu, atau relief di masjid-masjid. Sebab, penggarapannya butuh tenaga kerja banyak. Dengan begitu, dia bisa mengajak pemuda sekitar turut menggarapnya.

”Sedih saya kalau melihat pemuda-pemuda tak punya kerjaan. Kalau proyek seperti itu kan butuh orang banyak. Bisa 10-15 orang. Jadi saya rekrut mereka,” tutur pria kelahiran Kudus, 21 Juni 1976 itu.

Beberapa proyek yang biasa digarapnya yakni tugu, adipura, taman, serta patung. Tidak hanya di Kudus, dia juga pernah mendapatkan pekerjaan untuk menggarap di Grobogan, Pati, bahkan Surabaya.  

Om Tomi mengaku lebih suka mendapat proyek dari perorangan daripada instansi pemerintah. Sebab, kalau perorangan minim potongan-potongan dari berbagai pihak sehingga keuntungannya lebih banyak.

”Kalau instansi biasanya banyak yang minta potongan-potongan. Yang ini minta 20 persen, ada yang minta 10 persen. Mending perorangan, harganya segini, pasti,” papar pria bergelar sarjana seni ISI Jogjakarta tersebut.

Dalam sebulan, ia mengaku, tidak pasti ada berapa proyek yang bisa digarapnya. Nah, bila sedang sepi, Om Tomi memanfaatkannya dengan membuka jasa lukis wajah. Untuk ukuran standar 60x40 cm, dia mematok tarif Rp 350 ribu untuk hitam putih.

”Kalau minta warna sekitar Rp 1,5 juta,” kata bapak tiga anak ini.

Selain itu, bila mendekati Lebaran, dia sering mendapat tawaran membikin ogoh-ogoh. Dalam waktu yang cukup mepet, Om Tomi mengaku akhirnya mampu menyelesaikan lima buah ogoh-ogoh. ”Untuk desa sendiri satu, yang lain pesanan dari luar kota,” terang dia.

Pada Lebaran lalu, Om Tomi salah satunya membuat ogoh-ogoh replika almarhum Gus Dur. Karyanya itu ternyata mendapat apresiasi pencinta ulama kondang itu. Usai Lebaran, replika mantan presiden Indonesia itu dibeli salah satu warga Desa Wonosoco, Kudus, untuk dipajang di rumah.

Meski menikmati aktivitasnya saat ini, namun dia mengaku masih ingin berkarya seni untuk  agenda pameran. Sebab, rekan-rekannya di Jogjakarta masih sering memintanya ikut di agenda pameran yang diadakan di Kota Gudeg.

”Untuk tahun ini saya benar-benar mau berkarya (bikin patung) lagi. Soalnya dari teman-teman sana, khusus tahun ini wajib. Saya sudah absen di pameran tahun-tahun sebelumnya,” tambah dia.

(ks/ful/zen/aji/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia