alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Ada Kebanggaan di Pasar Pragolo

06 Agustus 2018, 21: 28: 04 WIB | editor : Ugik Wepe

direktur radar kudus baehaqi

direktur radar kudus baehaqi (dok. radar kudus)

Share this      

 

SABTU malam (malam Minggu) kemarin, saya diundang untuk menghadiri pemilihan Duta Wisata Kabupaten Pati. Sebagai direktur Jawa Pos Radar Kudus didaulat menyerahkan hadiah juara favorit. Pemenangnya ditentukan lewat balot yang diterbitkan Radar Kudus setiap hari selama beberapa hari.

Baca juga: Selamat! Riksa dan Salwa Jadi Juara Duta Wisata Jepara 2018

Selayaknya perhelatan ratu-ratuan, banyak dandanan dan pakaian gemerlap. Acara dihadiri Bupati Pati Haryanto dan Wakil Bupati Saiful Arifin. Seluruh peserta mengenakan pakaian batik Pati. Kebanyakan untuk bawahan. Baik laki-laki maupun perempuan. Itu bagian dari cara membanggakan batik Pati. Batik Pesantenan dan Bakaran. Sudah mulai terkenal di nusantara.

Malam itu bupati dan wakil bupati juga mengenakan. Saya juga (hehehe...) Memakai batik bakaran produksi Sri P. Sarni yang malam itu juga ikut pergelaran di Pasar Pragolo Pati, tempat acara. Saya serius memperhatikan batik-batik dengan berbagai motif itu.

”Kita harus bangga terhadap produk daerah sendiri,” kata Safin -panggilan Saiful Arifin. Panggilan itu sama dengan nama hotel miliknya di Pati. Dia tidak hanya mengenakan batik bakaran dasar sogan, juga memakai sepatu kulit. ”Sepatu saya ini juga asli Pati,” katanya sambil menjulurkan kakinya yang memakai pantofel hitam.

Ternyata bupati juga mengenakannya. ”Saya juga,” kata saya tak mau kalah. Saya beli di Pasar Pragolo Pati Rp 120 ribu. Safin tertawa. Pasar itu menjadi ruang pamer roduk-produk kerajinan dan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) asli Pati.

Soal sepatu itu ada yang menarik. Seorang penyanyi yang mengisi hiburan nyaris jatuh. Dia mengenakan sepatu berhak tinggi warna silver gemerlap. Perkiraan saya sekitar 15 sentimeter. Mula-mula jalannya menarik. Jentat-jentit. Tiba-tiba sempoyongan. Sepatunya tidak terlalu kuat menahan badannya. Untung, dia bisa menguasai keadaan. Sekalian dilepas sepatu itu. Dia nyeker sepanjang menyanyikan lagu kedua.

Kebanggaan terhadap produk daerah sangat penting. Saya juga menangkapnya di Semarang. Kamis malam lalu saya ditugasi Manajer Iklan Radar Semarang Sugiyanto ke Simpang Lima Semarang. Persisnya ke toko Istana Brilian di ujung tenggara Lapangan Pancasila. Bukan untuk membeli kue yang dijual di toko itu, melainkkan menyerahkan penghargaan Cullinary Award. Penerimanya Nanda Djoenaedy, pemilik toko itu.

Sembari menunggu pelaksanaan, saya bersama GM Radar Semarang Iskandar diajak ke lantai II. Dari sana terlihat deretan stan makanan yang hampir memenuhi pinggiran Simpang Lima. Saya sering ke situ kalau lagi lapar tengah malam. Banyak orang luar kota juga nongkrong di sana. Obrolannya macam-macam. Mulai dunia malam, kehidupan sehari-hari, sampai perkembangan politik terkini. Asyik.

Kalau masih sore bisa menikmati gemerlap kereta hias yang hilir-mudik di bibir alun-alun. Semakin menarik karena lalu lintas di sekelilingnya sedang ramalan alias ramai tapi lancar. Sudah lama saya ingin mencoba kereta hias atau ada yang menyebut becak hias itu, tapi belum kesampaian.

”Semarang harus punya sesuatu yang membanggakan,” kata Nanda memecah konsentrasi saya yang waktu itu tertuju ke Lapangan Pancasila. Sudah banyak. Tapi masih belum seberapa dibanding perkembangan kota yang sekarang dipimpin Wali Kota Hendrar Prihadi. Masih diperlukan banyak ikon baru. Saya setuju.

Salah satu yang membanggakan itu adalah cake bikinan Nanda. Kue itu hanya dijual di tokonya di pojok Simpang Lima itu. Penampilannya tidak berbeda dengan kue-kue lain. Yang istimewa adalah kualitasnya. Bisa tahan tiga bulan. Itu karena dikemas kedap udara. Sudah mendapat sertifikat dari Sucofindo.

Museum Rekor Indonesia (Muri) mencatatnya sebagai kue yang memiliki ketahanan terlama. Padahal, waktu itu masih 58 hari. Tahun 2004. Sekarang sudah tahan lebih dari tiga bulan. Banyak orang yang membelinya sebagai oleh-oleh. Pernah ada rombongan dari Korea yang satu orang membeli 20 boks untuk dibawa ke negaranya.

Malam itu di tokonya juga sedang ada turis. Rambutnya pirang. Mengenakan celana cekak. Juga membeli Brilian Cake. Dua boks. Ada juga makanan lain. Istana Brilian sekaligus menjadi toko oleh-oleh yang lengkap dan menjadi ikon wisata Semarang. ”Kalau cake bikinan kami, hanya kami jual di sini,” ujar Nanda yang sebelum membuat kue telah terkenal sebagai distributor bahan kue. Sampai sekarang.

Keistimewaan lain, adalah komposisi bahannya. Cynthia Margareta, istri Nanda, yang meracik. Tidak sembarangan. Resepnya diperoleh dari wangsit. Lengkap dengan gram-gramannya. Cynthia yang sangat cantik (menurut saya) seorang paranormal. Nanda kena imbas. Dia juga belajar fengsui dan hongsui. Saya sempat minta nasihat. ”Sekarang Bapak sabar dulu. Enam bulan lagi akan membahagiakan,” katanya mengenai kondisi yang saya alami. Wah, lama sekali. Tapi, tak apa. Istiqomah saja.

Radar Semarang memberikan penghargaan Cullinary Award kepada pemilik kuliner yang memiliki keistimewaan. Sekaligus memberikan rekomendasi kepada masyarakat. Brilian Cake telah menjadi kuliner yang beda dan membanggakan. ”Saya tidak mau membuka cabang di tempat lain. Biarlah menjadi kebanggaan Semarang,” tegas Nanda.

Banyak daerah yang memiliki produk lokal. Tidak sedikit pula yang berkualitas bagus. Tinggal bagaimana membuat produk itu menjadi membanggakan. Nanda, Cyinthia, Haryanto, dan Safin telah memberi contoh. Mereka konsisten mengembangkan dan menjadikan produk itu kebanggaan bagi daerahnya.

Mula-mula harus dibanggakan secara lokal. Kemudian akan menjalar ke daerah sekitar. Selanjutnya menjadi ikon wisata. Kelak akan terkenal di mancanegara. (hq@jawapos.co.id)

(ks/lin/aji/JPR)

 TOP