Senin, 24 Sep 2018
radarkudus
icon featured
Ekonomi

Produk Unggulan Pertanian Kudus Ikuti Expo di Soropadan

Senin, 30 Jul 2018 22:12 | editor : Ali Mustofa

PROMOSI: Kadin Pertanian dan Pangan Kudus Catur Sulistiyanto menunjukkan olahan keripik pisang byar khas Dawe yang sudah dikemas modern.

PROMOSI: Kadin Pertanian dan Pangan Kudus Catur Sulistiyanto menunjukkan olahan keripik pisang byar khas Dawe yang sudah dikemas modern. (DINAS PERTANIAN DAN PANGAN FOR RADAR KUDUS)

TEMANGGUNG – Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus kembali mengikuti Gelar Promosi Agiribisnis (GPA) 2018 yang digelar Pemprov Jateng. Acara yang berfungsi mempromosikan potensi agribisnis kabupaten/kota se-Jawa Tengah ini, berlangsung dari tanggal 26-30 Juli 2018 di Pusat Pelayanan Agribisnis Petani Agro Center Soropadang Kabupaten Temanggung.

Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus dikawal langsung Catur Sulistiyanto S.Sos MM, selaku kepala dinas. Dari Kudus menempati stan nomor 10. Dalam stan bernuansa kayu tersebut, dihadirkan seluruh potensi unggulan dari petani di wilayah Kudus. Misalnya, Jambu Kesuma merah khas Desa Menawan, Gebog; jeruk pamelo; bibit duku sumber; pisang gebyar; mangga; jambu kristal; kopi Muria; dan berbagai produk olahan hasil pertanian serta berbagai produk hasil perikanan.

GPA Soropadan 2018 ini dibuka langsung Gubernur Jateng Ganjar Pranowo didampingi Staf Ahli Menteri Pertanian RI, Dr Ir Ani Andayani serta jajaran forkopinda Provinsi Jateng tanggal 27 Juli 2018.

BUKA: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo didampingi Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi serta Ani Andayani (staf ahli Kementan RI), Yuni Astuti (Kadistanbun Jateng) dan perwakilan Kemenkominfo RI memukul ke

BUKA: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo didampingi Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi serta Ani Andayani (staf ahli Kementan RI), Yuni Astuti (Kadistanbun Jateng) dan perwakilan Kemenkominfo RI memukul ke (DINAS PERTANIAN DAN PANGAN FOR RADAR KUDUS)

Ganjar Pranowo dalam sambutanya mengatakan, teman GPA tahun 2018 atau ke-8 ini adalah Modernisasi Pertanian Jawa Tengah Menuju Kedaulatan Pangan. Selain untuk efektivitas dan efisiensi juga bisa menarik minat pemuda agar terjun ke dunia pertanian. Sebab, pertanian sekarang berbeda dengan zaman dulu yang identik dengan kotor tanah. Tetapi karena adanya modernisasi peralatan mesin pertanian, maka semua proses penanaman sampai panen menggunakan mesin. ”Kalau dulu kan membuat tangan jadi kasar. Jadi nanti para pemuda khawatir ditolak ceweknya,” gurau Ganjar Pranowo.

”Tetapi sekarang dengan adanya mesin seperti combine harvester, selain tidak kepanasan dan tangan tidak kasar juga bisa sambil nyetel lagu-lagu dari HP-nya terus pakai earphone. Sehingga nanti ada regenerasi pertanian,” lanjutnya.

Melalui GPA ini, kata Ganjar, bertujuan untuk meningkatkan akses pasar global melalui forum temu usaha antarpetani dan buyer lokal, nasional, maupun internasional. Selain itu, meningkatkan akses kemitraan dan akses petani terhadap informasi teknologi pertanian dan meningkatkan pendapatan petani melalui kesejahteraan.

”Kami berharap Pusat Pelayanan Agribisnis Petani Agro Center Soropadan sebagai tempat penyelenggaraan GPA, bisa menjadi semacam laboratorium dan edukasi. Sehingga tidak hanya untuk ekspo, tetapi menjadi percontohan kualitas pertanian terbaik serta tempat pemuda belajar pertanian modern. Provinsi Jawa Tengah juga sudah memiliki Perda Nomor 5 tahun 2016 untuk melindungi petani,” tandasnya.

Melalui perda ini, gubernur meminta pada bupati dan walikota agar membuat pasar-pasar induk hasil pertanian pada level kecamatan.

Ani Andayani, staf ahli Kementan RI bidang Infrastruktur Pertanian mengungkapkan, Kementerian Pertanian terus melakukan program perbaikan infrastuktur serta saluran irigasi untuk mencukupi kebutuhan air petani. Untuk itu, pihaknya berharap daerah-daerah mencari dan survei lokasi sumber air.

”Air adalah kebutuhan utama untuk pertanian yang tidak bisa tergantikan sampai saat ini. Kita programkan untuk pembangunan 30 ribu embung di seluruh Indonesia. Sehingga saat hujan bisa menampung air yang dipergunakan ketika musim kemarau tiba. Selain itu untuk anggaran bantuan alsintan dinaikkan jadi 300 persen. Hal ini sebagai upaya membantu petani menekan biaya produksi dan waktu tanam. Jadi sudah waktunya modernisasi pertanian tidak hanya dibudidaya, tapi juga paska panen,” ujar Ani Andayani.

Dicontohkan, manfaat penggunaan mesin rice transplanter untuk tanam dan combine harvester saat panen. Pada saat tanam di satu hektare lahan dulu secara tradisional membutuhkan 10-15 orang dengan waktu satu minggu. Namun dengan menggunakan rice transplanter waktunya hanya tiga jam dan tenaga 3 orang. Begitu pula ketika panen, lahan satu hektare membutuhkan tenaga 20-an orang dengan waktu satu hari penuh serta biaya Rp 5-6 jutaan. Dengan menggunakan combine harvester hanya membutuhkan tenaga tiga orang, waktunya tidak sampai setengah hari dan biaya Rp 2,5 jutaan.

Sementara itu, Dinas Pertanian dan Pangan Kudus memboyong semua produk unggulan hasil pertanian dan olahannya untuk mengisi stan pada GPA 2018. Pada pertama, pengunjung banyak melirik dan membeli jambu kesuma merah produk khas Desa Menawan, Gebog.

Catur Sulistiyanto, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kudus bahkan turun langsung ke lokasi perkebunan di Desa Menawan guna memastikan kualitas jambu berwarna merah ini merupakan khas dan tidak ada saingannya. Hal ini terbukti dari semua panen jambu kesuma merah ini langsung dibawa ke Jakarta oleh tengkulak. Sehingga produk berkualitas nomor wahid dari Kudus ini dikonsumsi kelas menengah ke atas di ibukota Indonesia.

”Hari pertama kami membawa 115 kilogram sebagai perkenalan untuk pengunjung Suropadan. Ternyata peminatnya sangat tinggi. Kalau tidak kami stop, maka hari kedua bisa kehabisan,”  jelas Puji Lestari, penyuluh pertanian yang menjaga stan saat dikunjungi Catur Sulistiyanto.

Tingginya minat pengunjung ini, membuat tim Dinas Pertanian dan Pangan Kudus mendatangkan lagi pada hari kedua 100 kg sekaligus stok untuk hari ketiga. Selain itu, juga banyak pengunjung yang menanyakan tentang bibit jambu kesuma merah. Sebab, mereka tertarik untuk membudidayakan di daerah masing-masing.

Stan nomor sepuluh ini juga menampilkan kopi khas Muria, dan makanan olahan hasil pertanian yang sudah dikemas. Khusus produk keripik pisang byar dari Kecamatan Dawe merupakan hasil binaan mahasiswa Universitas Diponegoro yang sedang KKN tahun 2018.

”Ini kemasannya bagus dan menarik minat pembeli. Karena itu kami bawa untuk GPA Soropadan. Sebab, keripik pisang byar ini juga khas,” ujar Catur Sulistiyanto sambil menunjukkan produk dari Desa Margorejo dan Kajar.

(ks/lil/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia