Selasa, 23 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Jepara

Ratusan Santri Antusias Ngaji Ihya bersama Gus Ulil Abshar

23 Juli 2018, 10: 26: 24 WIB | editor : Ali Mustofa

SAMPAIKAN: Gus Ulil Abshar Abdalla menyampaikan kajian kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali di Omah Joglo Gus Nung, kompleks Pondok Pesantren Hasyim Asy'ari Bangsri pada Jumat (20/7) malam.

SAMPAIKAN: Gus Ulil Abshar Abdalla menyampaikan kajian kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali di Omah Joglo Gus Nung, kompleks Pondok Pesantren Hasyim Asy'ari Bangsri pada Jumat (20/7) malam. (M. KHOIRUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

BANGSRI – Ratusan jamaah memadati Omah Joglo Gus Nung, kompleks Pondok Pesantren Hasyim Asy'ari Bangsri pada Jumat (20/7) malam. Bahkan jamaah perempuan yang sempat ada di teras joglo harus pindah ke halaman. Karena jamaah laki-laki semakin banyak berdatangan.

Pasalnya ratusan jamaah tersebut antusias mendengarkan kajian kitab oleh Gus Ulil Abshar Abdalla dalam Kopdar (kopi darat) Ngaji kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Kegiatan yang digelar Lakpesdam NU Jepara itu diikuti oleh para aktivis NU Jepara dan para santri sekitar 300 orang.
Agama adalah akhlak yang mulia. Pengertian ini sangat sederhana tapi mendalam. Nabi Muhammad SAW ditanya oleh para sahabat mengenai apa itu agama? Tiga kali Nabi menegaskan akhlak yang mulia. "Apa kamu tidak paham, bahwa akhlakmulia itu, menahan marah!" tegas Nabi. Kutipan ini disampaikan Gus Ulil Abshar Abdalla dalam kajian kitab tersebut.  "Betapa sederhana pengertian dan praktik agama yang diajarkan Nabi. Ini sangat relevan dengan konteks sosial saat ini. Di mana banyak orang mempersulit pengertian agama dan bahkan kalau tidak sesuai dengan pemahamannya, dikatakan sebagai tidak beragama," kata Gus Ulil.
Seorang Sufi besar bernama al-Fudlail, kata Gus Ulil, menceritakan ada seorang perempuan di zaman Nabi yang berpuasa setiap hari dan beribadah setiap malam. Akan tetapi, perempuan itu membuat sakit hati tetangganya dengan lisannya.
"Tidak ada sisi baiknya perempuan itu. Perempuan itu termasuk penghuni neraka," tegas Nabi seperti dikisahkan al-Fudlail. Menurut Gus Ulil, kisah ini sangat relevan dengan kehidupan sosial yang sudah sangat jauh dari substansi agama ini.
Gus Ulil merefleksikan kehidupan sosial saat ini yang penuh dengan ujaran kebencian, prasangka buruk, adu domba antar elemen dan berbagai fitnah yang dapat mengarah kepada disintegrasi sosial.
Bahkan ada kelompok yang mengesampingkan keberagamaan kelompok lain, hanya karena pemahaman berbeda. Tuduhan mengkafirkan kelompok lain dan menghalalkan darah orang yang bukan kelompoknya, sempat mewarnai kehidupan keagamaan akhir-akhir ini.
"Ini pemahaman agama yang sangat tertutup dan memberatkan orang yang hendak mendekat kepada agama. Padahal Islam mengajarkan agama sangat sederhana dan nyaman bagi manusia," papar Gus Ulil.

(ks/zen/war/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia