Minggu, 19 Aug 2018
radarkudus
icon featured
Features

Pengalaman Hafizh Khasyi, Siswa MAN 2 Kudus Ikuti Pertukaran Pelajar

Sempat Rasakan Berpuasa di Amerika

Kamis, 21 Jun 2018 07:15 | editor : Panji Atmoko

BERHARGA: Hafizh Khasyi Al Farizi (dua dari kanan) seusai menjalani proses wisuda sebagai pertukaran pelajar di Enterprise High School, Amerika Serikat, Sabtu (26/5) lalu.

BERHARGA: Hafizh Khasyi Al Farizi (dua dari kanan) seusai menjalani proses wisuda sebagai pertukaran pelajar di Enterprise High School, Amerika Serikat, Sabtu (26/5) lalu. (DOK. PRIBADI)

Hafizh Khasyi Al Farizi, siswa MAN 2 Kudus baru saja menyelesaikan studi di Amerika Serikat. Kini dia bisa berlebaran bersama keluarga. Sebab, setahun terakhir ini dia mengenyam studi di Enterprise High School.

UMMMI NAILA RIZQIYYA, Kudus

 

LEBARAN kurang tiga hari Hafizh Khasyi AlFarizi menginjakkan kaki di Indonesia. Setahunterakhir ini dia menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Dia berangkat ke Amerika sejak 15 Agustus 2017 lalu. Dia mengikuti pertukaran pelajar (student exchange) yang diselenggarakan Bina Antarbudaya Pusat.

Selain menjalani studi pertukaran pelajar, dia merasakan sensasi. Dia menjalani Ramadan di negeri Paman Sam. Menunaikan ibadah puasa bersama antarumat beragama. Dia pun menjalani toleransi dan adaptasi dengan lingkungan dan orang sekitar.

Dia merasakan toleransi dari warga Amerika yang luar biasa. Meskipun mereka tidak puasa tapi saling menghormati. ”Pernah suatu ketika ada teman sekelas rela tidak makan. Menahan lapar hanya karena menghormati saya yang sedang puasa. Dengan begitu saya malah menjadi semangat dan tidak lemas,” kesannya.

Pria kelahiran Bandar Lampung, 10 Mei 2000 ini berhasil menyelesaikan studi di Amerika. Setelah diwisuda oleh kepala Enterprise High School Sabtu (26/5) lalu. Selepas itu, pada 12 Juni siswa diperkenankan pulang ke daerah masing-masing. Tentunya untuk merayakan libur Idul Fitri 1439 H bersama keluarga.

”Senang sekali. Lega rasanya bisa kembali ke tanah air. Bisa mudik Lebaran. Kumpul bersama keluarga di hari raya,” ucapnya kemarin.

Selain itu, kepulangan cowok yang beralamat di RT 7 RW 2, Desa Cepokosawit, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali ini harus menyelesaikan studi yang tertunda di MAN 2 Kudus. Dia kembali ke kelas XII lagi untuk bisa lulus madrasah.

Anak pertama dari pasangan Sumarno dan Ida Widaningsih ini mengaku, untuk bisa ikut pertukaran pelajar menjalani proses seleksi yang panjang. Termasuk bisa lolos menjalani pendidikan di sekolah negeri terbaik kedua di negara bagian Oregon. Yaitu Enterprise High School (kategori II A).

Pria bertubuh tambun ini pergi ke Amerika Serikat berkat Kennedy Lugar YES Program. Program beasiswa penuh pertukaran pelajar ke Amerika yang disponsori oleh U.S. Department of State dan diurusi oleh organisasi Bina Antarbudaya di Indonesia. Program tersebut dikhususkan bagi siswa kelas X di SMA/MA/sederajat di seluruh Indonesia.

”Berbagai tahapan seleksi telah saya jalani. Mulai tahap tes tingkat provinsi, tes tingkat nasional, tahap pengisian, dan seleksi berkas internasional. Prosesnya tidak mudah. Sangat panjang dan agak ribet,” kenangnya.

Dia bersaing dengan sekitar 7.000 pendaftar dari seluruh Indonesia. Hasilnya termasuk dari 79 siswa yang lolos dan berangkat ke Amerika tahun 2017/2018. Di sana, Hafizh tinggal bersama orang tua dan dua adik angkat di kota Enterprise, negara bagian Oregon, Amerika Serikat. Keluarga itu berprofesi sebagai analis kesehatan di sebuah rumah sakit dan desainer interior rumah.

Selama tinggal di Amerika Serikat, banyak sekali pengalaman yang didapat. Terutama keseharian warga. Orang-orang di Amerika sangat disiplin waktu. Mereka selalu tepat waktu dalam melakukan apapun. Mereka juga selalu memanfaatkan waktu sebaik mungkin. ”Jadi tinggal di Amerika itu membuat saya menjadi lebih mandiri dan lebih menghargai waktu. Jangan sampai terbuang sia-sia,” tegasnya.

Awalnya Hafizh agak kesulitan menyesuaikan ritme keseharian. Namun, lama-kelamaan bisa menyesuaikan dan terbiasa.

Untuk sekolah, dia masuk hanya empat hari. Mulai Senin sampai Kamis. Sedangkan Jumat sampai Minggu libur. Sementara jam efektif sekolah dari pukul 07.55 hingga pukul 15.34 waktu setempat.

”Saya masuk dalam kelas XII atau senior class. Di Amerika, siswa yang memilih mapel-mapel yang diinginkan. Saya memilih konsentrasi pendidikan psikologi. Saya mengambil kelas US history, modern problem, English, biologi, dan psikologi,” jelasnya.

Dari pengalaman tersebut, bersekolah di Amerika membuatnya lebih memahami bahwa nilai dan kepintaran bukanlah faktor penentu kesuksesan seseorang. Namun, life skill, pengalaman, dan pemahaman akan materi yang dipelajari dan pengaplikasian juga memiliki pengaruh besar dalam kesuksesan seseorang.

Keahlian di bidang akademik maupun nonakademik juga didapat Hafizh. Selain sering menjuarai lomba debat bahasa Inggris sewaktu SMA, dia berprestasi selama di Enterprise High School. Beberapa prestasi diraihnya, salah satunya meraih juara V kompetisi gulat (wrestling championship).

Setelah lulus MAN nanti, dia berencana melanjutkan kuliah sesuai bidang yang ditekuni sekarang. ”Saya ingin kuliah mengambil jurusan hubungan internasional (HI) atau psikologi,” harapnya.

(ks/ela/ris/aji/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia