Selasa, 21 Aug 2018
radarkudus
icon featured
Cuitan

Ada Cinta di Keluarga Dahlan Iskan

Senin, 18 Jun 2018 11:02 | editor : Ali Mustofa

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (DOK. RADAR KUDUS)

Begitu Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengumukan hari raya jatuh pada 15 Juni 2018, saya segera beranjak ke rumah sakit. Ny. Nafsiyah Dahlan Iskan berada di sana. Masih di ICU sebuah rumah sakit swasta di Surabaya. Habis operasi. Saya mementingkan untuk menjenguk beliau daripada hiruk-pikuk menyambut Lebaran.

Banyak orang lain yang sakit seperti Bu Dahlan. Tidak sedikit orang yang prihatin seperti Pak Dahlan. Bahkan banyak juga yang melebihi keduanya. Puasa mengajarkan kita berempati. Merasakan penderitaan sesama. Dan, hari raya adalah puncak membangun ketulusan hati dengan bersilaturahmi dan bermaaf-maafan.

Saya sangat sedih ketika mendengar Ibunda Tri Sutristyaningsih, manajer iklan Jawa Pos Radar Semarang, juga masuk rumah sakit pada malam hari raya sampai sekarang. Dua tetanggga di Kudus meninggal persis di hari Lebaran.

Begitu tiba di rumah sakit saya langsung menuju ruang tunggu ICU. Salah seorang mantan wartawan Jawa Pos sudah berada di sana. Tetapi, Bu Dahlan sudah tidak lagi di ICU. Baru beberapa saat dipindah ke ruang perawatan. Nazaruddin, kolega saya, itu belum tahu tempat perawatan Bu Dahlan.

Atas informasi orang dekat Pak Dahlan, saya mengetahui ruang perawatan itu. Di lantai I. ‘’Biasanya beliau memilih ruang paling pojok,’’ ujar Nazaruddin. Benar. Saat itu Bu Dahlan baru saja tidur. Ny. Ivo, istri Azul Ananda, mantan dirut Jawa Pos, menemui saya, Vikram (mantan anak buah Azrul) dan istrinya. Azrul tiduran di bed sebelah Bu Dahlan.

‘’Di ruang ICU tidak bisa tidur. Maka begitu dipindah ke ruang perawatan beliau langsung tidur,’’ kata Ivo.  Sedangkan Pak Dahlan menyempatkan diri pulang ke rumah. Merapikan rumah untuk menyambut Bu Dahlan ketika pulang nanti.

Ruang perawatan Bu Dahlan itu ternyata biasa-biasa saja. Memang ada sofa, bed penunggu, dan televisi. Tetapi, tidak mewah seperti ruang VVIP. Itu menunjukkan kepribadian Pak Dahlan dan istrinya. Suka hidup sederhana.  Padahal, beliau termasuk orang kaya yang bisa membayar kamar berapapun harganya.

Sebelum Bu Dahlan dipindah ke ruang perawatan, Pak Dahlan menunggui di ruang tunggu ICU. Bersama keluarga pasien lain dari semua lapisan masyarakat. ‘’Dari tadi malam sampai sekarang saya belum tidur,’’ kata Dahlan ketika saya menjenguk untuk kali pertama. Itulah bukti lain kesederhanaan Pak Dahlan.

Saya sudah dua kali menjenguk Bu Dahlan. Yang pertama Minggu malam, 11 Juni 2018, selepas berbuka puasa. Saat itu Pak Dahlan lagi berbuka juga. Dia bersama Isna, anak nomor dua. ‘’Saya tiba tadi malam,’’ ujar Dahlan. Beliau tiba dari Amerika langsung ke rumah sakit. Raut mukanya kelihatan kusut (menurut saya). ‘’Capek,’’ akunya. Sudah begitu, semalam tidak tidur dan hanya duduk di ruang tunggu.

Ketika Bu Dahlan harus masuk rumah sakit, bahkan harus dioperasi, Pak Dahlan berada di Amerika. Di pedalaman. Dia mengasingkan diri sejak sebelum Ramadan. Kabarnya menghindari hiruk-pikuk politik di tanah air (saya tidak berani mengonfirmasi). Maka, ketika diberitahu istrinya masuk rumah sakit, dia tidak bisa segera pulang. Harus mencari tiket dan menunggu penerbangan.

Begitu mendarat dari Amerika, dia langsung ke rumah sakit. Menunggui istrinya sehari semalam tidak tidur. Tidak sahur juga. Bahkan ketika harus tidur, beliau tidak  pulang ke rumah. Harus indekos di rumah belakang rumah sakit. Tidak di hotel.

Anak-anak, menantu, dan cucu juga sangat menyayangi Bu Dahlan. Merekalah yang mengantar ke rumah sakit dan menungguinya selagi Pak Dahlan di Amerika. ‘’Perkembangannya banyak sekali. Tadi saya pamiti, umi gini-gini,’’ kata Azrul sambil manthuk-manthuk menirukan ibunya. Azrul tertawa. Pak Dahlan tersenyum. Demikian juga istri Azrul dan adiknya, Isna.

Kali pertama menjenguk Bu Dahlan itu, saya sangat beruntung. Memang tidak bisa masuk ke ruang ICU. Tetapi bisa bertemu Pak Dahlan beserta dua anak, dua menantu, dan cucu-cucunya. ‘’Dua hari lagi sudah keluar ICU,’’ kata Pak Dahlan. Saat itu Bu Dahlan sudah bisa diajak berkomunikasi. Ginjalnya yang terkena invenksi sudah dioperasi. Tinggal menunggu pemulihan.

Pak Dahlan benar. Pada malam takbiran, saya menjenguk lagi. Bu Dahlan sudah dipindah ke ruang perawatan. ‘’Sudah baik. Sudah minta disiapin menthok dua. Kalau sudah begitu kami semua lega,’’ kata Ny. Ivo. Yang dimaksud menthok adalah dada ayam. Biasanya pada malam hari raya Bu Dahlan menyiapkan sendiri masakan untuk keluarganya. Hari-hari biasa juga.

Masakan favoritnya soto banjar. Beliau memang orang Banjar. ‘’Tidak ada orang yang bisa memasak soto banjar seenak masakan ibu,’’ kata Dahlan menyanjung istrinya. Soto ini juga termasuk hidangan wajib setiap hari raya.

Pada hari raya ketika para pembantu rumah tangga pulang kampung, banyak orang kaya kelimpungan. Ada yang mengungsi ke hotel, ada pula yang memesan katering. Bu Dahlan beda. Beliau selalu memasak sendiri.

Saya banyak belajar dari kesahajaan Bu Dahlan. Sepulang dari rumah sakit saya langsung memasak opor ayam dan menggodok ketupat yang sudah saya siapkan siang harinya. Itulah masakan wajib saya di hari Lebaran. Hari-hari lain saya juga memasak. Repotnya bukan main. Ketika anak-anak ikut mudik ke Kudus kemarin, sempat kelimpungan juga. Mencari warung makan tidak mudah. Mau memasak kesulitan berbelanjanya.

Saya juga banyak belajar dari Pak Dahlan dan anak-anaknya. Mereka sangat menyayangi Bu Dahlan. Perempuan yang mereka anggap luar biasa. Beliau tunjukkan dengan berkumpul di rumah sakit sebelum dan setelah salat Idul Fitri. Yang laki-laki memakai baju putih lengan panjang. Yang perempuan berbaju hijau.

Saya meniru keluarga Pak Dahkan juga berkumpul bersama ketiga anak saya. Setelah salat Idul Fitri, kami ‘’berkumpul’’  bersama perempuan yang kami cintai di Sidoarjo. Kemudian bersama-sama melesat ke Kudus untuk ‘’menemui’’ ibu dan bapak kandung saya yang telah mendahului kami. (hq@jawapos.co.id)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia