Sabtu, 17 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Features
Rajendro Sumarjono, Guru SMPN 2 Rembang

Ajarkan Semua Instrumen, Langganan Prestasi Nasional

Jumat, 08 Jun 2018 09:51 | editor : Ali Mustofa

PELESTARI: Rajendro Sumarjono, guru Seni Budaya SMPN 2 Rembang getol mengembangkan seni karawitan.

PELESTARI: Rajendro Sumarjono, guru Seni Budaya SMPN 2 Rembang getol mengembangkan seni karawitan. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Rajendro Sumarjono dikenal sebagai penari. Namun, dia putar haluan melatih karawitan. Ini bermula keprihatinan anak-anak yang kurang greget mencintai musik tradisional tersebut. Kini anak didiknya mampu memainkan gamelan dan menorehkan prestasi.

WISNU AJI, Rembang

SEDIH hanya menjadi penonton setiap ada lomba karawitan. Perasaan itu membuat Rajendro Sumarjono terketuk. Dia tidak ingin daerah tertentu yang mendominasi. Namun, Rembang harus ikut memberi warna.

Delapan tahun silam dia berputar otak. Dia ingin anak didiknya di SMPN 2 Rembang  berkontribusi. Akhirnya wadah dibuat. Salah satunya membuka ektrakurikuler. Diputuskannya membuka ekstrakurikuler karawitan.

Gebrakan yang diambil itu mendapat respon positif dari kepala sekolah. Amanah ini sebagai modal dia merintis sampai berhasil.

Guru Seni Budaya SMPN 2 Rembang mengatakan, ektrakurikuler karawitan yang dibimbingnya sejak 2010 lalu. Semua berangkat dari lomba musik tradisional di tingkat eks karisidenan. ”Saya melihat yang maju hanya beberapa partisipan. Dari situ saya berkeinginan berkontribusi,” kenang pria kelahiran Sragen, 5 November 1959.

Akhirnya ektrakurikuler karawitan menjadi unggulan. Sesuai keinginan sekolah. Makanya alat penunjang dipenuhi untuk mempersiapkan siswa mengikuti lomba-lomba. ”Kalau itu saya diminta mencari ektrakurikuler unggulan selain batik. Keputusan saya karawitan, sekaligus dalam rangka nguri kebudayaan.,” terangnya.

Dari situ dia menyiapkan lomba-lomba. Persiapan awal yang dimatangkan ikuti Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Lalu tahapan kedua Rajendra berpacu meningkatkan skill anak-anak.

Targetkan dapat memainkan semua instrument gamelan. Tentu diseleksi. Sebab, anak didiknya banyak. Jumlahnya mencapai ratusan. Sampai akhirnya lima anak yang dijadikan tim inti dalam rangka ikuti lomba. ”Ini bukan perkara mudah, sebab basic saya penari. Namun, semua harus dapat teratasi, makanya saya harus berkorban dan semangat,” ujarnya.

Termasuk, melibatkan beberapa rekan. Utamanya sesama seniman yang ahli di bidangnya, seperti penabuh gamelan profesional. Karena anak dituntut dapat memainkan semua instrument musik.

Gayung bersambut. Anak-anak didiknya all out. Mereka sangat senang diajak latihan, baik siang, sore bahkan malam hari. Tentu semua harus atas izin dan sepengetahuan orang tua masing-masing siswa.

”Jadi saya harus mengikuti keinginan anak. Karena latihan rutin dilakukan setiap hari Rabu dan Sabtu, mulai pukul 15-30 sampai 17.00. Begitupun fleksibel saat ada lomba,” katanya.

Atas semua usaha yang dilakukan anak didik akhirnya mendulang prestasi terbaik di tingkat provinsi. Begitupun hingga di level nasional. Semua ini tidak lepas keuletannya memberikan pelajaran seni musik tradisional.

Pada 2013 anak didiknya menjadi terbaik di level nasional. Bahkan sekolahnya kerap digunakan studi banding. ”Kami patut berbangga, peminatnya disini rata-rata 80 sampai 90 anak mengambil pilihan ektra karawitan,” bangga warga RT 4 RW 1, Desa Kabongan Kidul,, Rembang.

Untuk mengulang kesuksesan, dia meyeleksi anak-anak menyiapkan lomba yang sama. Makanya dicari terampil menabuh dan cepat hafalkan. Selain targetnya sebelum pensiun tahun depan mencetak muri tampil bareng-bareng.

(ks/ris/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia