Kamis, 13 Dec 2018
radarkudus
icon featured
Hukum & Kriminal

Terdakwa Dituntut Delapan Tahun, Istri Korban Tak Terima

Pengeroyokan Berujung Pembunuhan di Grobogan

25 April 2018, 07: 45: 59 WIB | editor : Panji Atmoko

DIJAGA: Sejumlah personel dikerahkan untuk mengamankan sidang kasus pengeroyokan berujung pembunuhan dengan korban Anang Tri Hidayat di PN Purwodadi kemarin.

DIJAGA: Sejumlah personel dikerahkan untuk mengamankan sidang kasus pengeroyokan berujung pembunuhan dengan korban Anang Tri Hidayat di PN Purwodadi kemarin. (SIROJUL MUNIR/RADAR KUDUS)

GROBOGAN – Keluarga korban pengeroyokan berujung pembunuhan Anang Tri Hidayat tidak terima ketika Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Purwodadi Sri Wisnu Respati membacakan tuntutan di PN Purwodadi kemarin (24/4).

JPU menuntut delapan tahun hukuman kepada tiga terdakwa. Mereka ditengarai melanggar pasal 170 KUHP tentang penganiayaan.

Sidang penganiayaan yang menyebabkan Anang Tri Hidayat tewas di Jalan MT Haryono ini untuk tiga terdakwa, yaitu Untung Prastyo, Dwi Yudha, serta Dwi Ariyanto. Selain ketiganya, satu terdakwa menjalani sidang di Mahkamah Militer Semarang.

Akibat rendahnya tuntutan dalam sidang tersebut, keluarga korban tidak terima. Bahkan, Fina, kakak perempuan korban guling-guling sembari berteriak-teriak. Perempuan berkerudung tersebut juga melakukan adegan menginjak seseorang. Hal itu diduga dilakukan terdakwa kepada adiknya. Aksi tersebut mendapatkan penjagaan ketat dari aparat Satuan Sabhara Polres Grobogan.

Fina bersama keluarga tidak terima jika terdakwa hanya dituntut delapan tahun penjara, bukan 12 tahun penjara. Begitu juga dengan istri korban, Safigotun Nakma tidak terima tentang tuntutan JPU. Dia menangis dan meminta hakim menghukum seberat-beratnya.

”Tidak terima suami saya diinjak-injak sampai mati. Terdakwa harus dihukum seberat-beratnya,” kata Safigotun sambil mengaku hukuman tidak setimpal itu membuatnya menjadi janda dan mengurusi anak semata wayang.

Sementara itu, kuasa hukum keluarga korban Evarisan mengatakan, tuntutan jaksa harus dimaksimalksan sampai 12 tahun penjara. ”Kami minta terdakwa dihukum semaksimal mungkin seperti pasal 170 KUHP, maksimal 12 tahun penjara. Kasus pembunuhan jelas seperti yang terungkap dalam fakta persidangan,” kata Evarisan.

Sementara itu, JPU Kejari Grobogan Sri Wisnu Respati mengaku, tuntutan sudah sesuai prosedur yang berlaku. Apalagi kedua belah pihak sudah dipertemukan. Namun, dari pihak keluarga korban menolak damai. ”Pasal dan tuntutan sudah sesuai prosedur untuk perbuatan yang dilakukan terdakwa,” ujarnya.

(ks/mun/ris/aji/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia