alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Ada Kerajaan Duarawati di RS Bhina Rembang

23 April 2018, 07: 30: 59 WIB | editor : Ugik Wepe

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (dok.)

Share this      

Ada tiga info menarik ketika saya ke Rembang minggu lalu. Salah satunya, Hotel Fave penuh. Itulah hotel terbaik di Rembang. Jarang sekali hotel itu full book. Maklum Rembang kota kecil. Juga bukan kota destinasi wisata. Maka, kalau hotelnya penuh, itu luar biasa.

Info lain, Rumah Sakit Bhina Bhakti Husada segera beroperasi. Itu rumah sakit baru tipe C di belahan selatan Kota Rembang. Bangunannya sudah jadi. Megah. Peralatannya sudah tersedia. Lengkap. Semua baru. Dari Jepang dan Swedia. Ini rumah sakit terbaik di Kota Garam itu.

FOTO BERSAMA: Atna Tukiman (empat dari kiri) saat menerima rombongan Jawa Pos Radar Kudus yang dipimpin Direktur Baehaqi (lima dari kiri) baru-baru ini.

FOTO BERSAMA: Atna Tukiman (empat dari kiri) saat menerima rombongan Jawa Pos Radar Kudus yang dipimpin Direktur Baehaqi (lima dari kiri) baru-baru ini. (radar kudus)

Hotel Fave dan RS Bhina dibangun oleh Atna Tukiman. Warga setempat. Dia pengusaha sukses yang merangkak dari bawah. Usaha awalnya hanya sebuah koperasi. Kecil. ‘’Bangunannya sudah tidak ada. Dulu sewa. Hanya bangunan rumah biasa. Kecil sekali,’’ kata Atna mengenang awal dia berusaha.

Saya mendapat kesempatan luar biasa untuk melihat seisi rumah sakit sebelum dioperasikan. Dari lantai satu sampai lantai enam. Atna sendiri yang mengantar bersama dr. Ella Nurlaila, direktur utama rumah sakit itu. Semua lantai diberi nama pewayangan. Yang paling atas bernama Duarawati. Sangat filosofis.  Itu nama kerajaan yang dipimpin Sri Kresna. Raja ini memiliki kemampuan menyembuhkan segala penyakit.

Selama berkeliling rumah sakit itu saya memiliki kesan RS Bhina tidak jauh berbeda dengan Rumah Sakit Keluarga Sehat di Pati milik Benny Purwanto. Mulai dari klinik, ruang perawatan, laboratorium, sampai ruang operasi. Benny adalah konsuultan rumah sakit. Sama dengan dr Ella. Karena itu mereka paham betul rumah sakit yang baik. Apalagi didukung dengan dana yang cukup.

Dana Atna diperoleh dari mesin usahanya yang lain. KSP Bhina Raharja. Dulu koperasi itu kecil. Kini telah menggurita. Bukan hanya di Rembang, tetapi di Jawa Tengah. Bahkan telah mendapat izin untuk mengembangkan sayap di Indonesia. Dari koperasi yang terus menyumbangkan pundi-pundi kekayaan ini Atna melebarkan sayap di bidang minyak dan gas. Ada SPBU dan SPBE.

Jangan tanya berapa kekayaannya. Dia pasti tidak mau menjawab. Bahkan saya iseng bertanya berapa biaya untuk membangun rumah sakitnya dia tegas mengatakan, ‘’Itu rahasia perusahaan.’’ Yang pasti, dari koperasi, minyak, dan gas itulah dia bisa membangun hotel dan rumah sakit. ‘’Semua kami dedikasikan untuk masyarakat Rembang,’’ ujarnya.

Di Rembang kebutuhan ruang perawatan itu sekitar 600 tempat tidur. Kenyataannya baru terpenuhi 325. Yang terbanyak di rumah sakit pemerintah. Kelak RS Bhina melengkapinya dengan 250 tempat tidur. Itu masih belum ideal. ‘’Yang penting jangan sampai masyarakat kesulitan ruang perawatan. Kasihan. Selama ini mereka harus ke luar kota untuk rawat inap,’’ kata Atna.

Agar pengelolaannya profesional, dia menunjuk dr Ella dan para profesional lain. Namun di balik mereka tetap ada keluarga. Atna melibatkan saudara-saudara kandungnya dan anak-anaknya dalam semua bisnisnya. Tetapi dia terbuka juga. Bidang yang tidak mereka kuasai diserahkan kepada profesional.

Hotel dan rumah sakit yang dibangun Atna akan semakin mempercepat berkembangnya Kabupaten Rembang. Selama ini Kota Garam itu terseok karena, selain lokasinya yang jauh dari pusat ibu kota provinsi (paling timur di pantai utara), juga keterbatasan fasilitas. Rumah sakit akan mendongkrak kesehatan masyarakat. Dengan demikian akan meningkatkan produktivitas. Sedangkan hotel mendukung perekonomian.

Ke depan Rembang juga semakin maju dengan segera berdirinya perguruan tinggi negeri. Bupati Abdul Hafidz telah menjalin kerja sama dengan Universitas Diponegoro Semarang. Pemkab telah sepakat menghibahkan tanah delapan hektare. Kelak juga akan dibantu pendanaan. Perguruan tinggi ini akan menyerap mahasiswa dari eks Karesidenan Pati.

Hotel, rumah sakit, dan perguruan tinggi adalah upaya nyata membangun daerah. Hafidz bisa menyinergikannya dengan baik meskipun tidak memiliki dana yang cukup.

(ks/lin/aji/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia