Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Grobogan

Cari Nafkah dengan Memulung Sampah, Dua Bocah Putus Sekolah

19 April 2018, 08: 53: 38 WIB | editor : Panji Atmoko

MIRIS: Alinda Susi Lestari (kiri) dan Purwanti Endang Adinda Lestari (kanan) bersama ibu dan adiknya di rumahnya, Desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan, kemarin.

MIRIS: Alinda Susi Lestari (kiri) dan Purwanti Endang Adinda Lestari (kanan) bersama ibu dan adiknya di rumahnya, Desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan, kemarin. (INTAN M SABRINA/RADAR KUDUS)

Share this      

Seragam putih dan merah tidak lagi dikenakan Alinda Susi Lestari, 9, dan Purwanti Endang Adinda Lestari, 10. Keduanya putus sekolah. Kakak beradik ini memilih menelusuri tempat sampah satu ke tempat yang lain. Yakni, memulung.

 

INTAN M SABRINA, Grobogan

 

RUMAH Alinda Susi Lestari, 9, dan Purwanti Endang Adinda Lestari, 10, sempit. Ukurannya sekitar 5 x 7 meter persegi. Rumah yang berdiri di atas lahan PT KAI dan pinggir Sungai Lusi ini dihuni lima orang. Beralaskan semen dan berdinding papan kayu, mereka tinggal bersama dengan ibu dan dua adiknya.

Tidak ada perabotan rumah RT 1 RW 2, Desa Getasrejo, Kecamatan Purwodadi yang mewah. Kondisi ekonomi yang pas-pasan itu yang memaksa Alinda dan Purwanti mengakhiri asa untuk mendapat pendidikan. Mereka memilih membantu orang tua. Mereka berjuang mencari nafkah dengan menjadi pemulung.

”Anak memulung sejak setahun lalu. Ketika saya mengandung anak kelima dan saya berhenti memulung. Saya sudah melarang mereka memulung, tapi tidak mau. Saya suruh sekolah juga tidak mau, malah memilih memulung,” kata ibu dari Alinda dan Purwanti, Susilowati.

Keduanya pernah menduduki bangku sekolah. Purwanti bersekolah sampai kelas III SD. Alinda hanya sampai di bangku II SD. Mereka juga sempat berpindah-pindah sekolah, dari SDN 6 Kuripan, SD Kalongan, hingga SDN 1 Getasrejo.

Tak hanya itu, kakaknya, Purwanto Adi Kurniawan, 14, lebih dulu putus sekolah. Dia memilih merantau sebagai pekerja bangunan di sekitar Purwodadi.

Sedangkan ayahnya, Joko Lestari, 34, menjadi pengamen jalanan di terminal. Sementara Susilowati, 34, tidak lagi menjadi pemulung. Karena dia merawat dan menjaga anaknya yang berumur 4 tahun dan 9 bulan.

Dia merasa bimbang bila kembali memulung. Anak yang masih kecil tidak ada yang menjaga dan merawat. Jika tidak bekerja, Purwanti dan Alinda putus sekolah. ”Kami sudah lama membolos. Sebenarnya ingin sekolah tapi kasihan ibu tak ada uang. Tak ada yang bantu. Bapak juga jarang pulang,” imbuh Purwanti.

Sedangkan salah satu guru SDN 6 Kuripan Amalia mengaku, kini tidak memiliki murid bernama Purwanti dan Alinda. ”Sebelumnya murid sini. Namun, telah lama tidak masuk sekolah. Bahkan, sudah keluar dari dapodik,” ujarnya.

Selama sekolah, keduanya mendapatkan bantuan sejak 2014. Bahkan sampai Agustus tahun lalu mereka masih mendapatkan Program Indonesia Pintar (PIP). Bantuan terakhir tersebut mereka ambil Desember lalu.

”Setelah itu, mereka tidak pernah datang lagi ke sekolah. Sehingga bantuan tersebut harus dicabut. Padahal, setiap ketemu di jalan saya kerap meminta kembali sekolah. Namun, mereka malah lari,” jelasnya.

Terpisah, Kepala UPTD Grobogan Djoko Muljono langsung menyambangi rumah kedua bocah tersebut. Djoko mengajak mereka kembali ke sekolah. Baginya ini menjadi PR. ”Kami meminta orang tua agar kedua anaknya kembali ke sekolah. Kami juga membujuk keduanya agar bisa dipindah di sekolah terdekat di SDN 1 Getasrejo. Mereka juga akan kami berikan seragam baru,” ujarnya.

Menurutnya, sangat perlu pendekatan khusus untuk bisa mengembalikan mereka ke sekolah. Setelah dilacak, mereka pernah pindah ke SDN 1 Getasrejo ini, meskipun baru dititipkan dan belum dimasukkan administrasi.

”Kami langsung datang ke sekolah tersebut agar keduanya bisa dipindahkan. Ternyata penjelasan sekolah, keduanya pernah bersekolah di sini. Tak lama masuk, mereka kembali bolos dan tidak pernah masuk sekolah lagi,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut terjadi lagi, kali ini mereka mengajak guru hingga siswa kelas II dan III di sekolah tersebut untuk bisa merangkul. Sehingga keduanya nyaman sekolah kembali. Sebab, mereka butuh perhatian khusus.

(ks/int/ris/aji/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia