Senin, 17 Jun 2019
radarkudus
icon featured
Features
Menelusuri Tempat Pijat Plus-Plus di Kota Kretek

Hand Job Rp 160 Ribu, Oral Rp 200 Ribu

02 Maret 2018, 08: 28: 21 WIB | editor : Ali Mustofa

Hand Job Rp 160 Ribu, Oral Rp 200 Ribu

Selain hotel yang sering disalahgunakan, di Kudus mulai marak praktik pijat. Tak hanya untuk lelah, tapi juga plus-plus. Satpol PP pun sudah menyegel lima dari 20-an tempat tersebut. Jawa Pos Radar Kudus tertarik menelusurinya. Pemijatnya bisa melayani hand job dan oral seks.

JARUM jam menunjukkan pukul 11.00. Jawa Pos Radar Kudus masuk ke salah satu ruko di Kecamatan Mejobo. Ruko itu dikenal untuk massage alias pijat. Di bagian luarnya, terdapat banner berukuran 1x3 meter. Tulisannya disebutkan melayani pijat.

Masuk ke tempat tersebut, ada dua perempuan. Yang satu bernama Mawar (bukan nama sebenarnya), 23 tahun. Yang satunya Melati (bukan nama sebenarnya), 30 tahun. Mawar merupakan pekerja di tempat pijat itu. Sementara Melati adalah pemilik tempat pijatnya.

”Ada satu lagi (sebut saja Bunga). Tapi dia tidak berangkat. Usianya sama (23 tahun),” kata pemilik tempat pijat Melati kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Wajah Mawar cukup cantik. Bibirnya memakai lipstik merah merona. Bedaknya cukup tebal menempel di muka ovalnya. Tubuhnya ideal. Dia mengenakan baju dan celana hitam dengan bando pita. Rambutnya lurus sepunggung. Dibiarkan terurai. ”Mau pijat kan Mas?” ucap Mawar dengan tersenyum.

Untuk pijat, harganya dipatok Rp 60 ribu. Waktunya selama 30 menit. Di ruko tersebut memiliki luas 4 x 6 meter. Di dalamnya disekat menjadi tiga kamar. Dengan masing-masing kamar luasnya hanya 1,5 x 2,5 meter. Sekatnya dari triplek setinggi dua meter.

Ketika wartawan koran ini mengiyakan untuk pijat, pemiliknya langsung menyuruh masuk ke dalam salah satu bilik kamar. Terserah milih yang mana saja. Saat itu kosong semua. Belum ada pelanggan.

Disinggung paket pijat plus-plus, sang pemilik meminta wartawan memelankan suaranya. ”Kalau ngomong yang itu (pijat plus-plus), pelan-pelan saja Mas. Nggak enak didengar orang lain. Masuk saja ke dalam (kamar pijat, Red) nanti dijelaskan,” ucapnya.

Dia pun meminta Mawar mendampingi masuk ke kamar. Dari tiga bilik kamar itu, yang dipilih paling ujung. Agak jauh dari pintu masuk. ”Sebelum pijat tolong lepas pakaiannya Mas,” kata Mawar.

Di kamar itu ada gantungan pakaian. Pelanggan rata-rata hanya memakai celana pendek saat dipijat. Baju dan celana panjang ditaruh di gantungan tersebut.

Memijatnya menggunakan handbody. Pelanggan diminta tidur tengkurap. Mawar mulai memijat dari kaki. Kemudian ke punggung dan naik ke tangan.

Ketika memijat itulah obrolan kian serius. Ditanya pijat plus-plus, Mawar mengaku bisa. Untuk hand job tarifnya ditambah Rp 100 ribu. Jika oral seks dia minta digenapkan Rp 200 ribu.

Saat ditanya lagi, apakah ada layanan making love (ML). Mawar dnegan tegas bilang tidak ada. ”Kalau ML, aku nggak mau. Tapi kalau yang lain tidak apa-apa. Di sini juga tidak ada layanan seperti itu (ML),” ungkapnya sembari memijat.

Selain itu, di tempat itu pemijatnya dilarang memijat dengan telanjang. Dia mengaku, upah yang diterima itu, bosnya hanya memperoleh keuntungan dari tarif pijat saja. Yakni Rp 60 ribu. Sementara sisanya menjadi haknya. Mawar mengaku terpaksa melakukan pekerjaan ini karena kebutuhan ekonomi.

Setelah dari ruko tersebut, Jawa Pos Radar Kudus menyisir tempat pijat lainnya. Lokasinya di kota. Dekat jalan pantura. Di tempat itu, wartawan dilayani Ayu (nama samaran), 32. Dia pun menjelaskan tarif pijat di tempatnya. Lebih mahal dari sebelumnya, yakni Rp 80 ribu. Bedanya, ketika disinggung soal pijat plus-plus, Bunga langsung membalas ada. Tarifnya Rp 150 ribu untuk hand job. Jika oral tambah jadi Rp 180 ribu.

Di tempat ini lebih luas dari sebelumnya. Ukuran rukonya 4x10 meter. Hanya disekat dua kamar. Tiap kamarnya cukup luas. Bisa untuk memijat beberapa orang sekaligus. Jumlah pemijatnya sendiri ada empat orang. Usianya rata-rata di atas 30-an. ”Banyak lelaki yang datang ke sini untuk pijat (plus-plus). Tapi kami tidak menyediakan layanan itu (ML),” ucapnya. Adapun jam buka, di tempat pijat ini buka dari pagi sampai malam sekitar pukul 20.00.

Sementara itu, tempat pijat plus-plus di Kudus punya cara masing-masing untuk bisa lolos dari razia. Bahkan ada yang belum pernah sama sekali dirazia. Salah satunya yang didatangi Jawa Pos Radar Kudus.

Di lokasi pertama yang disambangi, yakni di Kecamatan Jati, ada beberapa trik yang digunakan. Pertama bermain di jam buka. Mereka memilih buka mulai pukul 09.00 sampai 16.00.

Hal itu disampaikan Melati (nama samaran), bos tempat pijat plus-plus. Dia mengaku, tempat pijatnya pernah diintai petugas Satpol PP Kudus. ”Sekarang banyak razia tempat pijat plus-plus. Di sini pernah diintai Satpol PP. Jika tidak hati – hati bisa ikut disegel. Makanya agar tidak curiga bukanya mulai jam 09.00 pagi sampai jam empat sore,” ujarnya.

Selain itu, di tempatnya hanya ada dua karyawan sebagai pemijat, yakni Mawar (nama samaran), 23, dan Bunga (nama samaran), 23. Keduanya memiliki tampang yang lumayan. Namun belum bisa dikategorikan cantik sekali. ”Memang saya nyari yang tidak begitu cantik dan seksi. Kalau cantik dan seksi pasti sudah disegel petugas,” ungkapnya.

Sementara itu, tempat pijat di dekat jalan pantura Kecamatan Kota, selama ini tidak pernah dirazia Satpol PP Kudus. ”Di sini tidak pernah dirazia,” terang pemijat di Jalan Jenderal Sudirman ini.

Pihaknya juga belajar dari kasus penyegelan tempat pijat di Hadipolo yang dilakukan Satpol PP pada Januari lalu. ”Di sana sampai disegel karena bisa semuanya (layanan ML dan memijat telanjang). Kalau kami hanya sampai hand job dan oral,” jelasnya.

(ks/ruq/lil/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia