Minggu, 26 May 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Di Zaman Now, Kreativitas Adalah Segalanya

12 Februari 2018, 06: 36: 40 WIB | editor : Panji Atmoko

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (dok.)

Cuitan: Baehaqi

SUASANA SANTAI: Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi ngobrol santai dengan Dandim Pati Letnan Kolonel Arief Darmawan.

SUASANA SANTAI: Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi ngobrol santai dengan Dandim Pati Letnan Kolonel Arief Darmawan. (ABDUL ROCHIM/RADAR KUDUS)

Ketakutan, apalagi di tengah suasana yang menakutkan, bisa membelenggu kreativitas.

Ngobrol dengan pria yang satu ini menyenangkan. Meski dia tentara dan sedang mengenakan pakaian doreng, tak ada kesan formal. Ceritanya mengalir deras disertai canda-tawa. Bahkan joke-joke-nya berseliweran. Beruntunglah warga Pati yang memiliki pria tersebut, Letnan Kolonel Arief Darmawan, komandan Kodim (dandim) Pati.

Saya baru sekali bertemu. Tapi, rasanya sudah sangat dekat. Tak ada kesan berhubungan dengan pejabat. Apalagi, tentara yang sering kaku. ‘’Ayo, mau minum apa? Kopi atau teh. Biar hangat,’’ tawarnya begitu membuka pembicaraan di suatu pagi. Saat itu hujan masih rintik-rintik sisa semalam. ‘’Kalau ada kopi Aceh,’’ jawab saya bercanda. Arif pernah bertugas di Serambi Makkah itu.

Keramahannya bukan hanya ditunjukkan kepada tamu. Di depan anak buahnya dia sering memperlihatkan pejabat yang egaliter. Sampai-sampai di suatu malam anak buahnya harus belingsatan. ‘’Ngapain kau membuntuti. Saya ingin pacaran,’’ katanya kepada anak buah yang diam-diam mengawal di belakang.

Ketika itu Arief keluar rumah bersama istri. Jalan kaki. Mereka mau merengkuh suasana malam. Menyeruput wedang ronde kesukaannya di Alun-alun Pati. Dia biasa menikmati di warung lesehan kaki lima. ‘’Orang mau santai kok dikawal. Memangnya di Aceh. Ini di Pati. Aman tenteram,’’ katanya dengan bercanda.

Baginya, hidup di Pati dan sekitarnya betul-betul nyaman. Ke manapun pergi, jam berapapun, tak ada kekhawatiran terganggu keamanan. Ketiga anaknya bisa menikmati. Berkomunikasi juga gampang. Malah mereka tak perlu memanggil guru les bahasa daerah. ‘’Cukup dengan ayah,’’ kata Arif yang lahir di Nganjuk, Jatim. Bahasa Mataramannya masih kental. Kehalusannya terasa.

Kalau ada yang dirasa tidak bisa santai, hanyalah banyaknya acara yang harus dihadiri bersama forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda). Kadang-kadang dari pagi sampai malam. Anak-anak jadi kaget. ‘’Yah, enakan jadi danyon (komandan batalyon) ya,’’ kata anaknya bernada protes. ‘’Ya sih. Tapi masak ayah turun jabatan,’’ jawabnya bercanda.

Sebelum menjadi dandim Pati, dia menjabat komandan batalyon di Pidie, Aceh. Saat itu, dia bisa banyak menghabiskan waktu buat keluarga. Tentu selepas jam dinas. Yang tidak enak, dia harus dikawal ketat setiap saat. Maklum, Pidie adalah bekas pusat Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Jadi, tidak bebas.

Seaman-amannya Pidie masih belum seperti di Pati. Di sana tidak ada pejabat yang jalan-jalan semaunya. Bahkan bersepeda pun tidak. Maka dia kaget ketika suatu saat diajak Bupati Haryanto sepedaan. ‘’Rasanya sakit semua. Habis sudah berbulan-bulan tidak bersepeda,’’ katanya blak-blakan disertai tawa ngakak.

Arief sudah malang-melintang bertugas di daerah yang berbeda 180 derajat. Dia harus selalu menyesuaikan. Sebelum di Aceh, dia berdinas di Bali. Di sana banyak orang yang tidak lagi-buka-bukaan. Tetapi, semua sudah terbuka. Itu membekaskan kesan tersendiri.

Suatu saat ketika masih di Pidie, dia kangen dengan suasana itu. Tentu tidak gampang mendapatkannya. Di pantai tidak ada. ‘’Suatu saat saya ajak istri ke kolam renang untuk mengenang suasana di Bali. Eh ternyata yang berenang pada berjilbab. Suasananya jadi aneh,’’ ceritanya. Saya terbahak-bahak.

Dandim yang satu ini memang terkesan santai. Tapi jangan salah. Ketika harus tegas, dia tak ubahnya malaikat. Ketika mendengar anak buahnya melakukan tindak kriminal, misalnya, dia langsung panggil. ‘’Sembilan puluh persen kamu dipecat. Yang sepuluh persen tunggu mukjizat,’’ katanya.

Ketegasannya tak serta-merta membuat suasana menegangkan. Saya perhatikan, ketika dia memberi pengarahan, tak ada anggota yang kelihatan ketakutan. Itu sangat penting. Karena ketakutan, apalagi di tengah suasana yang menakutkan, bisa membelenggu kreativitas. Sementara itu, banyak anggota cerdas yang perlu diberi ruang untuk mengembangkan.

Di zaman now kreativitas adalah segalanya. Kita semua tahu pasar semakin global. Persaingan semakin ketat. Kalau tidak pintar berkreasi bisa tergilas situasi. Ini berlaku di mana saja, pada usaha apa saja, oleh siapa saja. Termasuk di lingkungan pemerintahan dan tentara sekalipun. Dan, Arief memberi ruang gerak.

Arief memang sangat visioner. Saya menangkapnya ketika kami menjalin kerja sama. Dia mendorong anak buahnya untuk membaca koran setiap hari. Media mainstream yang bisa menangkal segala isu tak bertanggung jawab yang bertebaran lewat media sosial. Dia juga buka ruang untuk mengekspose semua kegiatan yang dilakukan kesatuannya. ‘’Tuhan memang Maha Tahu. Tapi, dunia perlu diberi tahu,’’ katanya mengungkapkan filosofi lewat joke yang sangat mengena. Mak jleb.

Saya senang dengan gayanya yang egaliter tetapi tegas. Dia bisa membawa keduanya dalam berbagai suasana. Itu berbeda dengan pejabat-pejabat lain. Saya bisa merasakan. Saya kenal seluruh bupati di eks Karesidenan Pati dan Grobogan. Juga pernah ngobrol dengan beberapa dandim dan kapolres. Tapi dengan Arief rasanya beda.

Di kantor saya juga mengembangkan model seperti itu. Agar cepat tercipta seluruh pimpinan tak diberi ruang khusus. Mereka menyatu dengan anak buah dalam satu ruangan yang tak bersekat. Dengan demikian prinsip kepemimpinan ing ngarso sung tolodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani bisa berjalan dengan wajar. Tidak dibuat-buat.

Dalam hal tertentu saya harus tegas. Misalnya dalam menegakkan aturan. Apapun. Seragam, jam kerja, deadline, rapat, dan sebagainya. Teman-teman kadangkala salah paham. Mereka bilang saya keras. Padahal tegas tidak sama dengan keras. Tapi, biarlah. Toh, semua tahu, ketegasan itulah yang membuat seluruh anggota berada di atas relnya. Mereka pun nyaman. (hq@jawapos.co.id)

(ks/lin/aji/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia