Sabtu, 17 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Ekonomi

Permintaan Kelapa Kopyor Tinggi, Petani Kewalahan Terima Pesanan

Selasa, 30 Jan 2018 09:40 | editor : Ali Mustofa

BIBIT MENCUKUPI: Salah satu petani di Desa Ngagel, Dukuhseti menyiapkan bibit kelapa kompyor kemarin.

BIBIT MENCUKUPI: Salah satu petani di Desa Ngagel, Dukuhseti menyiapkan bibit kelapa kompyor kemarin. (SRI PUTJIWATI/RADAR KUDUS)

DUKUHSETI – Permintaan kelapa kopyor terus meningkat. Terutama kopyor jenis genjah yang makin banyak diminati berbagai daerah di Indonesia. Terlebih, kelapa kopyor genjah ini sudah bersertifikat Kementerian Pertanian. Karena banyaknya permintaan, sebagain besar petani kewalahan menerima pesanan pasar.

Salah satu petani kelapa kopyor dari Desa Ngagel, Dukuhseti, Wawan Hariono mengaku, petani belum mampu memenuhi pasar permintaan pasar yang tinggi. Apalagi, sekarang pasar kelapa kopyor terbuka ke berbagai daerah dan sudah merambah ke swalayan serta restoran.

Menurutnya, tiap hari ada petani panen kelapa kopyor. Tapi jumlahnya terbatas. Ini tak sebanding dengan permintaan yang mencapai ribuan per hari. Dengan demikian masih banyak permintaan yang belum bisa dipenuhi. Ia mengaku, tak sanggup menerima tawaran kelapa kopyor mencapai 500 butir per hari.

“Kewalahan kalau ada permintaan banyak. Kemarin ada permintaah kopyor 200-500 butir per hari dari Jakarta, tapi saya tak menyanggupi. Pasalnya, pengepul di sini sudah punyai pelanggan sendiri. Jadi rutinitas pengiriman sudah berjalan tiap hari. Sedangkan panen kopyor terbatas,” kata Perintis Desa Wisata Kopyor di Ngagel, Dukuhseti ini.

Wawan mengatakan, selain permintaan kepala kopyor, hingga sekarang semakin banyak permintaan bibit kelapa kopyor. Sedangkan harga bibit kopyor kisaran Rp 10 hingga Rp 20 ribu dan harga buahnya Rp 15 hingga 40 ribu. Bahkan saat lebaran, satu butirnya harganya hingga Rp 60 ribu.

Bahkan 50 pohon kopyor di lahan sekitar 7000 meter lingkungan rumahnya, sering digunakan untuk penelitian. Mulai dari Banten, Semarang, Malaysia, hingga baru-baru ini ada warga Afghanistan mendatangi rumahnya untuk mengetahui kopyor dan menyantapnya. Karena kopyor dari Pati terkenal dengan rasanya manis dan dagingnya tebal.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Mukhtar Effendi menyampaikan, tingkat produktivitasnya mencapai 22,5 kwintal per hektar. Selama 2017 lalu bisa memproduksi 883.967 butir.

”Jumlah itu diklaim bisa mencukupi pasar lokal dan nasional. Apalagi kopyor genjah yang jenisnya kuning, cokelat, hingga genjah hijau diminati warga Grobogan, Maluku, Demak, Cilacap, dan daerah lain di Indonesia,” terangnya.

“Selain itu, kedepan harapannya  sudah ada pengembangan laboratorium kultur embrio yang membuat kopyor 100 persen. Sebab selama ini pengembangan kopyor di Pati belum murni kopyor seutuhnya. Semoga setahun lagi sudah ada laboratoriumnya. Kami tengah memprsiapkan SDMnya,” ungkapnya.

(ks/put/him/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia