Selasa, 21 May 2019
radarkudus
icon featured
Features
Melihat Kondisi SD Negeri dan Swasta di Kudus

Pulang Kerja Sekalian Jemput Anak

26 Januari 2018, 08: 30: 56 WIB | editor : Ali Mustofa

DIMINATI SISWA: SDN 1 Barongan bisa menunjukkan jika SD Negeri juga diminati siswa. Intinya terletak pada guru dan program yang ditawarkan.

DIMINATI SISWA: SDN 1 Barongan bisa menunjukkan jika SD Negeri juga diminati siswa. Intinya terletak pada guru dan program yang ditawarkan. (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)

APA yang dikatakan kepsek SDN 1 Barongan benar. SD negeri bisa maju asalkan gurunya semangat dan berani berkorban. Hal itu pula yang dilakukan SD swasta. Mereka lebih banyak menawarkan program untuk kualitas kepada wali murid. Bukan soal biaya murah.

Hal itu seperti SDIT Al Islam Kudus. Hampir setiap tahun sekolahan itu menolak-nolak siswa. Tak hanya satu atau dua. Tapi puluhan. Pendaftaran masuknya pun tidak seperti layaknya sekolah pada umumnya. Yakni, di bulan Januari. Dan hanya tiga hari.

Biaya masuknya pun bisa dikatakan cukup “istimewa”. Tidak seperti SD negeri yang gratis. Namun tetap saja diminati siswa. ”Kami lebih menawarkan program. Kami berusaha menjawab kebutuhan masyarakat saat ini. Program yang ada di sekolah selalu di-upgrade dan ini di-support wali murid. Jadi, upaya untuk mempertahankan kualitas mutu pendidikan sinergi antara guru, siswa dengan orang tua,” ucapnya.

Dia mengakui, awalnya ketertarikan orang tua mempercayakan sekolah di SD IT Al Islam karena pulangnya sore. Dengan begitu, anak-anak bisa terkontrol di sekolah daripada main diluar yang tidak jelas. Ditambah lagi rata-rata orang tua memiliki kesibukan hingga satu hari penuh. Dengan begitu, sekalian pas pulang kerja jemput anak.

Namun, setelah berganti tahun, ternyata banyak wali murid yang ibu rumah tangga. Jadi hal tersebut sudah tidak bisa jadi pedoman utama wali murid menyekolahkan di SD IT Al Islam. Ada faktor lainnya yang membuat orang tua percaya anaknya di SD tersebut.

Saifudin menjelaskan, untuk proses kegiatan belajar mengajar (KBM) dan kurikulum yang digunakan sama dengan sekolah lain. Namun untuk penunjang atau tambahan pendidikan di luar akademis ada yang berbeda.

Sistem yang diterapkan, siswa tidak hanya pandai akademis, tapi juga akhlaq dan karakter yang harus diterapkan. Pendidikan agamanya lebih diperbanyak. Seperti ada Qiro’ati hingga hafalan Alquran dan lainnya.

Di sekolahnya juga ada gerakan literasi sekolah (GLS). Di masing-masing kelas ada rak buku yang tiap pagi dibaca siswa. Selain itu ada kereta baca dan market day (kegiatan jual beli) yang mengajarkan siswa untuk berwirausaha.

”Ada juga dewan kehormatan sekolah (DKS) yang setiap hari dijadwalkan, bertugas penegak ketertiban dan kedisiplinan sekolah dan ada juga supervisor, yakni pengawas tim DKS dari para guru,” terangnya.

Sementara itu, di SD Unggulan Muslimat NU Kudus juga tidak jauh berbeda. Mereka lebih banyak menawarkan program kepada siswa. Salah satunya, ada pembelajaran di luar kelas atau factory visit. Kemudian, salat Dhuha bersama dan lainnya.

”Untuk kurikulum yang dipakai masih KTSP, namun lebih menekankan pendidikan karakter kepada siswa, agamanya juga diperkuat,” kata Kepsek SD Unggulan Muslimat NU Kudus Wihdal Muna Lukluaty.

Salah satu wali murid SD swasta, Wahyu Widaringtyas mengatakan, sewaktu memasukkan anaknya juga sempat kebingungan antara memilih SD negeri atau swasta. Melalui beragam pertimbangan, karena ibu dari Wahyu juga kepsek SD negeri di Kudus dan saudara-saudaranya juga guru, akhirnya diberikan beberapa gambaran. Dia pun memutuskan memasukkan anaknya ke SD swasta yang mengajarkan agama juga.

”Saya kebingungan saat daftarkan anak saya. Pergaulan zaman sekarang sangat mengkhawatirkan. Dari situ saya memilih SD swasta yang mengajarkan ilmu agamanya lebih banyak,” terang warga Kecamatan Jekulo.

Untuk biaya memang lebih mahal, tapi jaminan mutu pendidikannya juga terbukti baik. Sehingga, dua anak Wahyu juga dimasukkan sekolah yang sama, SD swasta.

Pengalaman tersebut hampir sama dialami Lia Kusumaningsih guru pendidikan anak usia dini (PAUD) ini tanpa pikir panjang memasukkan kedua anaknya ke MI. Pertimbangannya, selain akademik dapat, agama juga materi yang diberikan lebih detail. ”Ada pelajaran fiqih, akhlak, tafsir Alquran, Bahasa Arab dan lainnya. Jadi, belajar umum sekaligus belajar ngaji istilahnya begitu,” terangnya.

(ks/san/lil/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia