Senin, 20 Aug 2018
radarkudus
icon featured
Features
Peraih Satya Lencana Kebaktian Sosial

Terkesan Didatangi Ibu Bersama Anaknya Bawa Bingkisan

Rabu, 17 Jan 2018 16:33 | editor : Ali Mustofa

MEMBANGGAKAN: Agus Susanto mendapatkan pengharagaan Satya Lencana Kebaktian Sosial yang diberikan langsung oleh Presiden RI Jokowi belum lama ini.

MEMBANGGAKAN: Agus Susanto mendapatkan pengharagaan Satya Lencana Kebaktian Sosial yang diberikan langsung oleh Presiden RI Jokowi belum lama ini. (UMMI NAILA RIZQIYYA/RADAR KUDUS)

Kepedulian Agus Susanto tidak diragukan lagi. Dia sudah 100 kali mendonorkan darah. Atas kepedulian itu, tukang sate ojek penthol Muria ini mendapat penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

UMMI NAILA RIZQIYYA, Kudus

USIANYA tak lagi muda. Tapi pria berusia 50 tahun ini terlihat sehat. Hal itu dirasakannya sejak Agus Susanto sejak mendonorkan darah. Berkat kepedulian itu, tukang sate ojek penthol Muria ini mendapat penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial.

Warga RT 3 RW 2, Desa Dukuh Waringin, Kecamatan Dawe, Kudus ini mengaku, aktif mendonorkan darah sejak di bangku sekolah. Kali pertama donor darah itu saat SMP di Kartasura, Solo.

”Waktu itu saya melihat teman sesama anggota pencak silat di sekolah diambil darahnya. Akhirnya saya tertarik donor darah,” kata pria kelahiran Kudus, 27 Juli 1968 ini.

Setelah itu, lama-kelamaan ketagihan donor darah. Hal itu berlanjut ketika dia pindah tempat tinggal dan menetap di Kudus. Setiap tiga bulan sekali Agus - sapaan akrabnya - rutin mendonorkan darah ke Unit Palang Merah Indonesia (PMI) Kudus.

Berkat kepedulian sosial tersebut, Agus tiga kali mendapat penghargaan Donor Darah Sukarela (DDS) tiga kali. Pertama pada 2003 karena dia telah 50 kali donor dan kedua saat 75 kali donor. Dia mendapat penghargaan dari gubernur Jawa Tengah.

Terakhir, dia sudah 100 kali donor. Suami dari Suparmi mendapat penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial oleh Kementerian Sosial pada 17 Desember 2017 lalu di Istana Bogor. Waktu itu penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Presiden RI Jokowi.

”Wah rasanya senang sekali. Bisa ketemu Jokowi. Berangkat ke Bogor dengan biaya ditanggung pemerintah. Bisa naik pesawat dan tinggal di hotel pula,” ucapnya belum lama ini.

 Bisa mendapatkan hal itu merupakan menjadi kebanggaan tersendiri bagi Agus Susanto. Karena bisa membantu menolong sesama yang membutuhkan darah. Selain itu, sebagai bentuk penghargaan simbolis, orang-orang yang termasuk dalam 100 kali donor mendapatkan cincin emas dari pemerintah.

”Entah berapa gram, saya belum tahu. Karena saya belum menerimanya. Dulu hanya diberikan secara simbolis ke beberapa orang. Selebihnya akan diberikan melalui provinsi masing-masing,” terangnya.

Kendati demikian, dia tidak lantas berbangga diri. Kerendahan hatinya tetap terlihat sampai sekarang. Rumah yang ditinggali bersama istrinya tampak sederhana. Kesehariannya jualan penthol di kawasan Sunan Muria ini ditekuni sekitar lima tahun. Pria bergologan darah AB ini lebih senang berwirausaha. Selama jualan penthol, bapak dua anak ini merasa sehat, tak mengeluh sakit. Berat badannya menjadi 65 kilogram.  

”Kebanyakan teman saya menganggap masih muda seperti zaman sekolah dulu. Meski sering donor darah, saya nggak pernah merasa sakit. Paling penyakitnya hanya kanker alias kantong kering saja,” ucapnya sambil berkelakar.

Selama donor dia mendapatkan pengalaman yang mengesankan. Dia didatangi seorang ibu yang mau melahirkan. Ibu itu membutuhkan darah tapi stok di unit PMI habis. Kemudian dia mendonorkan darah. Seketika itu, Agus yang masih membuat bakso langsung ke RSUD Kudus. Selang setahun setengah, dia didatangi lagi oleh ibu tersebut bersama anaknya dengan membawa bingkisan.

”Ketika didatangi, saya sampai lupa karena sudah lama sekitar 2000-an. Tapi ibu tersebut masih ingat saya,” tuturnya.

(ks/ris/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia