alexametrics
Selasa, 26 Oct 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Menelusuri Hotel “Esek-esek” di Kota Kretek (2)

Sebanyak 90 Persen Hotel Digunakan Mesum

16 Januari 2018, 09: 50: 41 WIB | editor : Ali Mustofa

Sebanyak 90 Persen Hotel Digunakan Mesum

SEBANYAK 90 persen hotel di Kudus, digunakan untuk berbuat mesum. Hal itu terlihat dari seringnya razia yang dilakukan aparat, baik Satpol PP maupun polisi. Setiap kali merazia, pasti ditemukan pasangan bukan suami istri yang sedang ngamar. Hal itu menunjukkan, peran hotel untuk memerangi kemaksiatan masih sangat minim.

Baca juga: Rasakan Nikmatnya Kelo Mrico Godong Singkil dan Pindang Serani

”Cukup banyak hotel yang digunakan mesum. Hampir 90 persennya digunakan begituan (mesum). Terutama di kawasan Kencing, Jalan Lingkar Barat (JLB),” kata Kasatpol PP Kudus Djati Solechah melalui Kasi Penyelidikan dan Penyidikan Fariq Musthofa.

Diakuinya, sejak keluar Perda Nomor 10 Tahun 2015 tentang Penataan Hiburan Malam,  tempat karaoke ditutup semua. Terlebih lagi di sekitar kawasan Kencing. Namun, salah satu imbas dari situ, hotel tingkat melati kian marak dikunjungi, khsusunya para penjaja cinta. Pasangan mesum memilih tempat tersebut karena harganya lebih murah dibanding hotel berbintang.

”Ditambah lagi, di sana (kawasan Jalan Lingkar Barat) kan sepi dari pemukiman warga. Jadi banyak yang memanfaatkannya untuk janjian ketemuan tanpa diketahui banyak orang,” imbuhnya.

Sewaktu razia, tak sedikit pasangan mesum yang berasal dari luar kota. Seperti Demak, Jepara, Pati, dan kota lainnya. Usia mereka beragam. Rata-rata mulai 20-50 tahun.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Penanaman Modal Perizinan Terpadu Satu Pintu (BPMPTSP), hotel di Kota Kretek sebanyak 25 unit. Namun yang sudah memiliki izin usaha atau Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) baru delapan hotel.

”Hotel yang sudah memiliki izin usaha, yakni Hotel Griptha, King, Athome, Kenari (hotel berbintang) . Untuk kategori melati, ada Hotel Permata, Chotin, Abbas, dan Artha,” kata Kepala BPMPTSP Revlisianto Subekti melalui Kasi Pembinaan dan Pemantauan Perizinan Adi Danardono

Dia menjelaskan, ketentuan kategori tersebut berdasarkan sertifikasi dari pusat. Untuk perizinannya, pihaknya hanya membantu dalam pelayanannya. Sebenarnya, setelah pertama mendirikan hotel, ada izin prinsip selama satu tahun dengan pelaporan triwulan sekali. ”Setelah itu baru ada izin usaha atau TDUP dalam jangka waktu 1-3 tahun,” ucapnya.

Kendati demikian, adanya hotel tersbeut malah banyak yang disalahgunakan untuk hal-hal asusila. Banyak pasangan mesum yang memanfaatkannya untuk chek in tidak dengan pasangannya yang sah alias selingkuh.

(ks/ela/lil/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya