alexametrics
Selasa, 11 May 2021
radarkudus
Home > Pati
icon featured
Pati

Tak Terawat, Begini Kondisi Tugu Gapura Pentol Terkini

12 Januari 2018, 10: 54: 20 WIB | editor : Ali Mustofa

KUMUH : Gapura Pentol Blaru yang berada di sisi selatan kota dindingnya sebagian dipenuhi coretan dan tempelan-tempelan liar.

KUMUH : Gapura Pentol Blaru yang berada di sisi selatan kota dindingnya sebagian dipenuhi coretan dan tempelan-tempelan liar. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

Share this      

KOTA – Kabupaten Pati memiliki tugu selamat datang yang dikenal masyarakat luas sebagai tugu gapura pentol. Konon gapura pentol ini dibangun pada zaman kadipaten. Sekitar tahun 1600-an. Namun kini kondisinya seperti tak terawat, memprihatinkan. Hal ini diungkapkan Krisno, salah satu pemerhati budaya di Kabupaten Pati beberapa waktu yang lalu.

Baca juga: Tahun Ini Pembangunan Pasar Tayu Berlanjut Tahap Tiga, karena….

”Konon menurut cerita, bangunan ini merupakan pintu gerbang masuk Kota kadipaten Pati dimana pada zaman dahulu ada bentengnya. Jumlahnya ada empat pintu gerbang. Sisi utara, selatan, barat dan juga timur,” kata Krisno kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Namun, lanjut pria yang juga pegiat wisata di Pati Selatan ini, sekarang tinggal dua yang tersisa. Pentol Godi di sisi utara kota, dan Pentol Blaru yang ada di sisi selatan. ”Dulunya ada juga di sisi timur dan barat, namun entah sekarang hilang,” imbuhnya.

Seperti diketahui, kini bangunan tersebut terlihat tak terawat. Di Pentol Godi yang berada di sisi utara, bangunan masih lebih baik. Hanya saja letaknya yang kini makin digusur, di depannya sebuah pohon menutupi kegagahan bangunan yang sudah menjadi salah satu ikon Bumi Mina Tani ini.

Sementara yang cukup memprihatinkan, Pentol Blaru yang berda di sisi selatan. Bagian bangunannya ada yang sedikit runtuh. Di beberapa sudut, bangunan juga ditumbuhi tumbuhan liar. Tak sampai disitu, di beberapa bagian, bangunan ini ditempeli aneka stiker, dan juga coretan-coretan dari tangan jahil.

”Kalau dilihat cukup memprihatinkan di Gapura Pentol Blaru. Bangunannya dikotori dengan coretan-coretan dan juga stiker yang mengurasi nilai estetika bangunan bersejarah ini,” lanjutnya.

Krisno pun menyayangkan hal ini. ”Semestinya ada kepedulian kita untuk menjaganya,” tegasnya. Selain itu, Krisno menganggap banyaknya coretan-coretan di dinding bangunan ini memang memprihatinkan.

”Seperti ini biasanya kerjaannya anak muda. Mungkin mereka kurang ruang untuk berkreasi, lalu melampiaskannya di sembarang tempat seperti ini,” imbuhnya.

Namun yang jelas, ini cukup memprihatinkan. Melihat hal itu selain kesadaran dari masyarakat sendiri, seharusnya ada upaya nyata dan tegas dari pemerintah terkait pemeliharaan bangunan bersejarah ini.

(ks/aua/him/top/JPR)

 TOP