Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Menelusuri ODHA di Kota Ukir (3)

Tertular dari Suami yang ’Jajan’ Sembarangan

11 Januari 2018, 13: 47: 15 WIB | editor : Ali Mustofa

Tertular dari Suami yang ’Jajan’ Sembarangan

SETELAH diulas kisah para LSL yang menjadi ODHA, Jawa Pos Radar Kudus berbagi cerita di luar faktor LSL. Mereka menjadi ODHA karena faktor penularan dari suami. Ada juga menjadi ‘Bang Thoyib’ yang ‘jajan’ sembarangan. Istilah itu untuk menyebut orang yang sering bekerja ke luar kota.

Saat bertemu dengan salah satu narasumber, senyum ramah Ratna (bukan nama sebenarnya), 38, membuka obrolan itu. Tanpa tedheng aling-aling atau blak-blakan menceritakan kisahnya tetap bertahan sebagai ODHA. Sebelum menjadi ODHA, dia adalah ibu rumah tangga yang jarang keluar  rumah. Mengendarai sepeda motor saja tidak bisa.

Sedangkan suaminya bekerja sebagai tukang kayu di Jakarta. Statusnya sebagai ODHA ia ketahui ketika anaknya sakit. Sering sakit, anaknya dilarikan ke rumah sakit. Waktu itu anaknya baru berusia enam bulan. Segala jenis obat sudah diberikan dokter namun tidak ada perubahan. “Dokter memanggil saya dan suami untuk melakukan tes VCT kepada anak saya. Hasilnya positif ODHA. Tidak berselang lama, anak saya meninggal,” tuturnya.

Dia sempat bingung karena merasa tidak punya hubungan dengan laki-laki lain. Akhirnya dengan dialog yang dipandu dokter, faktor risikonya berasal dari suami Ratna. Selama bekerja di Jakarta suaminya mengaku pernah ‘jajan’ dengan perempuan Indramayu. Diduga melalui hubungan itu Ratna, suami, dan anaknya berstatus ODHA.

“Sudah sama-sama sebagai ODHA kami memutuskan untuk tidak bercerai. Kami saling memberikan dukungan satu sama lain untuk tetap bertahan,” imbuhnya. 

Sementara itu, kisah ‘Bang Thoyib’ dialami Rendi (bukan nama sebenarnya), 40. Dia merupakan rantauan yang sering pindah kota sebagai tukang kayu. Kisahnya bermula pada 2008 ketika istrinya sakit. Istrinya diindikasikan ODHA. Pihak rumah sakit menginginkan suami hadir untuk dites. Ternyata positif.  Disarankan pengobatan dia tidak mau karena belum siap. Selama delapan bulan belum pengobatan. Kondisi istri terus memburuk. Diberanikan untuk pengobatan Adv kepada istrinya. Namun akhirnya meninggal.

“Dari kejadian itu saya sadar pentingnya pengobatan. Dulu memang ‘jajan’ sembarangan. Akhirnya saya jalani pengobatan sampai sekarang. Saya aktif di komunitas HIV/AIDS. Melalui komunitas Kelompok Dukungan Sebaya Jepara Plus saya dapat jodoh. Menikah pada 2011. Saya punya anak dengan istri sebelumnya positif. Istri saya yang baru juga punya anak bawaan dengan suami sebelumnya positif juga.  Alhamdulillah anak saya dari istri sekarang sudah berusia empat tahun. Ajaibnya anak saya negatif. Ini memecahkan mitos bahwa ayah dan ibu ODHA tidak selalu melahirkan anak yang ODHA pula,” ungkapnya.

Kisah lain juga dialami ibu rumah tangga yang juga ODHA. Windy (bukan nama sebenarnya), 33. Ia juga mengetahui statusnya sebagai ODHA setelah memeriksakan kondisi anaknya yang sakit. Cerita berawal ketika suaminya meninggal. Suami meninggal karena sakit yang berkepanjangan. Namun tidak diketahui penyebabnya. Saat itu anaknya baru berusia 40 hari. “Kepergian suami membuat saya terpukul. Jarang pulang ke rumah karena bekerja di luar kota. Kerjanya mebel. Pas pulang ke rumah tau-tau sering sakit. Sampai meninggal di saat anak kami masih bayi,” kenangnya.

Ternyata anak saya juga sering sakit sejak kecil. Dari mulai bayi sampai usia empat tahun. Pada 2009 anaknya harus dilarikan ke RS Kariadi Semarang. Dia dan anaknya dites dan hasilnya positif. Anaknya pun meninggal dunia. Dia baru menyadari bahwa selama ini penyebaran virus melalui suaminya. Diketahui bahwa suaminya merupakan pengguna narkoba ketika merantau di luar kota. Dengan dukungan keluarga ia bangkit. “2013 saya menikah dengan suami baru. Dia tahu kalau saya ODHA. Dengan berbagi pengertian dia mau menerima saya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

(ks/war/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia