Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Menelusuri ODHA di Kota Ukir (1)

Kalangan Laki Suka Laki Meningkat 175 Persen

11 Januari 2018, 13: 39: 38 WIB | editor : Ali Mustofa

Kalangan Laki Suka Laki Meningkat 175 Persen

Aktivitas kaum homoseksual di Kabupaten Jepara tidak begitu tampak. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus M Khoirul Anwar mencoba menelusuri kegiatan kaum homoseksual. Termasuk penyebaran penyakit human imunodefisiensi virus (HIV) yang dialami kalangan homoseksual.

SAAT ini Jepara menempati urutan kedua dalam jumlah temuan kasus human Immunodeficiency Virus Infection and Acquired Immune Deficiency Syndrome  (HIV/AIDS) di Provinsi Jawa Tengah. Sampai akhir 2017 jumlah ODHA di Jepara mencapai 861 orang. Sedangkan temuan baru pada 2017 mencapai 140.

Cukup tinggi bila dibandingkan 2016 yang hanya mencapai 118 kasus. Namun dari banyaknya ODHA, yang masih aktif melakukan pengobatan sekitar 337 orang. Jumlah tersebut tersebar di beberapa tempat pengobatan. Di RSUD RA Kartini terdapat 312 ODHA yang melakukan pengobatan. Puskesmas Pecangaan melayani 15 serta Puskesmas Mlonggo dan Bangsri masing-masing lima ODHA.

Berdasarkan 140 temuan baru, 102 di antaranya dari kalangan heteroseksual. Sedangkan 22 orang dari kalangan homoseksual. Sisanya 16 orang dari anak-anak. Kalangan heteroseksual ini biasanya dari ibu rumah tangga, karyawan, pekerja luar kota, sopir, dan pekerja seks.

Temuan mengejutkan selama 2017 terjadi pada kalangan homoseksual. Angka orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di kalangan penganut seks lelaki sama lelaki (LSL) pada 2015 baru tujuh orang.  Kemudian temuan baru sebanyak delapan orang pada 2016. Terakhir pada akhir 2017 terdapat 22 ODHA temuan baru. Artinya dari 2016 ke 2017 terdapat lonjakan cukup tinggi temuan ODHA dari kalangan LSL. Terhitung meningkat 175 persen dari tahun sebelumnya. Meskipun penambahan temuan baru ini tidak sebanyak dari kalangan heteroseksual, risiko potensi penularan semakin bertambah melalui LSL ini.

Kabupaten Jepara memiliki kultur budaya yang religius agamis. Namun peningkatan kasus HIV/AIDS sangat mengkhawatirkan. Apalagi dengan adanya penambahan risiko penyebaran melalui LSL. Terjadi perubahan besar dalam kultur sosial masyarakat. Dahulu, homoseksual dianggap tidak mungkin berkembang, tetapi ternyata sebaliknya.

Mirisnya, kebanyakan ODHA dari kalangan homoseksual didominasi dari kalangan anak muda. Usia mereka antara 15 sampai 25 tahun. Latar belakang mereka pun bermacam-macam. Mulai dari pelajar, mahasiswa, pengusaha, PNS, maupun karyawan.

Dilihat dari persebarannya, di setiap kecamatan terdapat ODHA. Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara menjelaskan peta persebaran HIV/AIDS Dinas Kesehatan Jepara. Sebelas kecamatan yang masuk wilayah utara kabupaten tersebut diarsir dengan warna merah. Warna tersebut menunjukkan banyaknya ODHA.

Kesebelas kecamatan tersebut adalah Kecamatan Bangsri yang menempati urutan pertama dengan 110 orang. Disusul Kecamatan Kembang 82 orang, Keling 51, Mlonggo 69, Donorojo 67, Pakisaji 58, Kota Jepara 80, Tahunan 45, Batealit 33, Kedung 68, dan Pecangaan 81.

Sementara itu, di wilayah selatan, Kecamatan Kalinyamatan ada 27 ODHA, Mayong 28, Welahan 28, dan Nalumsari 31. 

“Wilayah di bagian selatan Jepara (Kalinyamatan, Mayong, Welahan, dan Nalumsari) saat ini memang berwarna kuning (dalam peta penyebaran temuan kasus HIV AIDS). Namun bukan tidak mungkin dengan memerhatikan pola kehidupan seperti yang sekarang, dalam lima tahun lagi kita prediksi warnanya akan lebih merah daripada yang kini sudah merah (wilayah utara),” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Oleh karenanya, DKK Jepara telah melakukan beberapa langkah untuk menangani hal itu. Di antaranya menunjuk seluruh puskesmas di Bumi Kartini untuk dapat menyelenggarakan Voluntary Counseling Test (VCT), VCT mobile, menggandeng komunitas LSL, Waria dan pekerja seks. Disamping itu, dinas kesehatan juga telah membentuk Warga Peduli AIDS (WPA).

“Pembentukan WPA untuk mengurangi efek stigmatisasi yang dialami oleh Orang Dengan HIV AIDS (ODHA). Selain itu, hal itu kita bentuk untuk mendorong tes di tingkat desa lebih banyak lagi. Sudah ada sekitar 30 WPA yang terbentuk, target kita akan kita tingkatkan lagi,” ujarnya.

(ks/war/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia