Selasa, 23 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Grobogan

Blangko Tiba, Pemohon Membludak

25 Oktober 2017, 10: 55: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

ANTRE: Sejumah warga mengantre di Dispendukcapil Grobogan kemarin. Sebagian dari mereka menunggu kepastian penyetakan e-KTP.

ANTRE: Sejumah warga mengantre di Dispendukcapil Grobogan kemarin. Sebagian dari mereka menunggu kepastian penyetakan e-KTP. (INTAN M SABRINA/RADAR KUDUS)

Share this      

 PURWODADI - Blangko e-KTP terus didistribusikan ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Grobogan. Kali ini ada penyaluran sekitar 8 ribu keping blangko melalui provinsi.

Kepala Dispendukcapil Grobogan Muh Susilo mengatakan, penyaluran tersebut sempat terlambat selama dua hari. Sebab, pemprov terlambat mengambil ke pusat. Sehingga Dispendukcapil Grobogan berhenti melakukan penyetakan.

“Meski ada tambahan 8 ribu keping sampai Selasa (24/10) ini tersisa 7.400 keping. Sehari petugas bisa mencetak 500 hingga 600 keping asal server tidak lemot dan tenaga banyak,” paparnya.

Seiring terus didistribusikannya blangko e-KTP pendaftar permohonan cetak dari 19 kecamatan semakin banyak. “Misalnya, di Kecamatan Grobogan mengajukan sekitar 110 warga untuk cetak. Padahal kami baru membuka Senin (23/10) ini,” jelasnya.

Meski ada penambahan ribuan keping blangko, menurutnya, belum bisa mencukupi kebutuhan cetak. “Dari 151 ribu surat keterangan (suket) yang diterbitkan, masih ada sekitar 110 ribu warga yang belum bisa mencetak e-KTP. Untuk mencetak warga harus mengusulkan permohonan ke kecamatan. Apabila hanya diam saja, e-KTP tidak akan dicetak petugas. Karena kami mengutamakan warga yang paling membutuhkan,” tandasnya.

Selain server yang kerap lemot, berkurangnya operator yang melakukan perekaman keliling di setiap kecamatan menjadi kendala. “Kalau server bagus dan tenaga cukup, sehari bisa 500-600 lebih e-KTP yang dicetak. Apabila server lemot dan tenaga kurang, sehari hanya mampu mencetak 200-300 e-KTP. Itu petugas lembur sampai pukul 22.00,” ungkapnya.

Menurutnya, rekam keliling juga salah satu cara efektif untuk mengurangi jumlah warga yang masih belum melakukan perekaman. “Kami sedang priotitaskan rekam e-KTP di Kecamatan Pulokulon. Petugas jemput bola ke balai desa. Petugas juga kerap mendatangi rumah warga disabilitas atau lanjut usia. Karena mereka tidak memungkinkan dibawa ke kantor desa setempat. Di sisi lain  juga membuat lama karena petugas membawa alat rekam berpindah-pindah,” keluhnya.

Terpisah, salah satu warga Kecamatan Tawangharjo Jadi mengaku, sudah melakukan rekam sejak November tahun lalu. “E-KTP belum jadi-jadi. Ternyata harus mengajukan cetak dulu ke kecamatan. Ini saya mengajukan. Senin bisa diambil,” ungkapnya. 

(ks/int/ris/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia