Sabtu, 21 Jul 2018
radarkudus
icon featured
Cuitan

Ada Sunan Kudus di Museum Jenang

Senin, 25 Jun 2018 07:45 | editor : Panji Atmoko

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (dok. radar kudus)

Pukul 13.38 sebuah mobil sedan hitam berbelok ke Museum Jenang di Jalan Sunan Muria Kudus. Semua tempat parkir telah penuh. Petugas mengarahkan ke depan pintu masuk. Saya mengamatinya sambil duduk santai di kafe di lantai dua museum itu.

Hari itu adalah hari raya ketupat. Tradisi pesta di hari keenam setelah Idul Fitri. Biasanya banyak orang memanfaatkan untuk berwisata. Saat itu, Museum Jenang pun ramai pengunjung. Termasuk saya yang datang bersama tiga wartawan muda: Faruq Hidayat, Noor Syafaatul Udhma, dan Diyah Ayu Fitriyani.

Museum Jenang tak kalah menarik untuk dikunjungi. Pemiliknya Muhammad Hilmy kreatif. Dia bisa menjadikan museum yang biasanya berisi barang-barang old menjadi gaul. Banyak anak muda  menikmati. Bahkan di ruang Gusjigang yang filosofis. Saat saya masuk ke sana ada tiga pasang muda mudi yang berfoto ria. Malah ada juga dua anak seusia SMP.

Ruang Gusjigang adalah bagian terbaru dari Museum Jenang yang dibangun oleh Mubarokfood. Isinya filosofi ajaran Sunan Kudus Syeh Djakfar Sodiq. Gus adalah wong bagus akhlaknya (budi pekerti). Ji berarti pandai mengaji. Gang bisa berdagang (berwiraswasta atau entrepreneur). Syeh Djakfar Sodiq mengajarkan agar kita menjadi pribadi yang berbudi luhur, terus belajar, dan mandiri dalam ekonomi.

Semua itu tercermin dalam pribadi pimpinan Mubarokfood dan keluarganya. Mulai dari generasi pertama H. Mabruri, generasi kedua H. Sochib, sampai generasi ketiga H. Muhammad Hilmy. Mereka adalah santri-santri Kudus asli yang mengembangkan jenang di Kaliputu, Kudus. Awalnya bermerek Sinar 33 karena terletak di Jalan Sunan Muria 33. Kemudian menjadi perusahaan Mubarokfood Cipta Delicia dengan berbagai brand dan produk.

Hilmy yang memegang kendali Mubarokfood sekarang tak sekadar mewujudkan Gusjigang. Dengan caranya dia ingin ajaran Sunan Kudus itu melekat di hati masyarakat. Maka dibuatlah museum yang mengawinkan sejarah jenang dengan kebudayaan. Di dalamnya berisi diorama pembuatan jenang dari zaman kakeknya yang sangat tradisional sampai kini yang modern.

Meski dinamakan Museum Jenang, bagian terbesar di dalamnya berkaitan dengan kebudayaan. Ada rumah  adat yang terbuat dari kayu jati berukir. Meski tidak sebesar aslinya, bisa dipergunakan untuk duduk bersantai. Ada tiga set meja-kursi. Saya sempat menikmatinya. Rasanya seperti di rumah asli pemilik jenang Sinar 33 tak jauh dari museum itu yang sampai kini juga dilestarikan.

Di tembok sebelah rumah adat terdapat gambar bupati pertama sampai terakhir Musthofa. Beberapa hari menjelang puasa di ujung deretan foto bupati itu terdapat kotak kosong. Di depannya ada satu kursi. Pengunjung bisa duduk di kursi itu. Kalau difoto lantas wajahnya persis di kotak seolah menjadi bupati terakhir. Saya telah mencobanya. Menarik. Namun setelah Lebaran kotak kosong itu telah dihilangi.

Pada bagian tembok lain dipajang foto-foto jadul. Berisi bagian kota Kudus yang memorabel. Ada alun-alun zaman dulu, kantor polisi, stasiun kereta api, gedung bioskop, dan lainnya. Tiga wartawan yang saya ajak berkunjung ke museum itu tertarik terhadap foto-foto itu. Mereka merasa diajak ke kota Kudus tempo doeloe.

Bagian penting untuk menangkap kota Kudus adalah kompleks masjid Menara Kudus. Meski hanya maket, cukup membuat pengunjung serasa di masjid yang dibangun Sunan Kudus di Kudus Kulon. Malah, di kompleks masjid yang asli tidak terlihat maket seperti itu.

Maket itulah yang mengarahkan pengunjung menuju bangunan baru X Building yang berisi konsep Gusjigang. Bangunan ini gemerlap. Dipenuhi warna emas. Kaligrafi raksasa yang diletakkan persis di tengah ruangan malah terbuat dari kuningan. Kalau tersorot lampu tentu saja gemerlap. Dinding sekelilingnya juga kaligrafi warna emas.

Di ruang itu saya merasa dibawa ke alam lain. Alam Sunan Kudus. Memang belum ada fotonya. Saya malah menyarankan kepada Hilmy agar dibuatkan patung Sunan Kudus. Pengunjung pasti senang. Bisa berfoto dengan pujaannya. Namun Hilmy belum berani. Belum ada kesepakatan di antara budayawan mengenai sosok tubuh Sunan Kudus sendiri. ‘’Mungkin nanti kami buatkan,’’ ujarnya.

Di ruang itulah konsep Gusjigang dijabarkan. Ada banyak puisi mengenai ajaran Sunan Kudus dari para budayawan. Antara lain Emha Ainun Najib, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, A.S. Laksana, dan Nujumullaily. Yang saya sebut terakhir itu adalah istri Hilmy.

Nujumullaily yang cantik itu jugalah yang mewarnai perjalanan Mubarokfood termasuk konsep Museum Jenang. Kesenimanannya tidak diragukan lagi. Main teater, drama, sampai mencipta dan membaca puisi. Darah Nujumullaily menurun kepada tiga anak perempuannya. Beberapa kali mereka ditampilkan dalam acara-acara resmi Mubarokfood. Salah satu adalah Binta yang pernah menjadi finalis dai cilik tingkat nasional.

Ada yang baru ketika saya masuk ke ruang itu kali kedua. Yaitu foto-foto para ketua PB NU dan Muhammadiyah. Mulai dari K.H. Hasyim Asyari sampai Said Aqil Siroj. Mulai dari K.H. Ahmad Dahlan sampai Haedar Nashir. ‘’Ruangan ini belum sempurna dan masih akan terus berkembang,’’ kata Hilmy. Meski demikian sudah dikunjungi Menristek Dikti Muhammad Nasir dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Ruangan itu serasa sangat filosofis. Itulah nyang diinginkan Hilmy. Museum Jenang menjadi museum kebudayaan. Kelak kalau ada akademisi atau siapapun yang ingin mendalami ajaran Sunan Kudus,  mereka harus ke Museum Jenang.

Tekad Hilmy itu luar biasa. Museum adalah konsep jadul. Gusjigang adalah filosofi hidup. Semula saya menilai cukup tinggi untuk ditangkap masyarakat awam. Tetapi, Hilmy bisa menjadikannya gaul dan populer. Belakangan dihiasi pula motor-motor gede hasil modifikasi anak-anak Kudus. Museum itu telah menyedot banyak pengunjung. Di situlah terselip visi bisnis Mubarokfood.

Hilmy mengawinkan konter jualan jenangnya dengan museum. Terjadi sinergi yang saling menguntungkan. Ketika saya ke sana beberapa hari menjalang Idul Fitri dan hari raya ketupat keempat kasir penjualannya tidak pernah berhenti melayani pembeli. Bahkan di lantai dua, tempat penjualan suvenir dan kafe. Semuanya tak pernah sepi pengunjung.

Kini Museum Jenang telah menjelma menjadi museum kebudayaan yang layak dikunjungi. (hq@jawapos.co.id)

(ks/ris/aji/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia