Sabtu, 21 Jul 2018
radarkudus
icon featured
Kudus

Ternyata...Pelaku KDRT Itu Berprofesi sebagai Dosen

Senin, 25 Jun 2018 01:51 | editor : Panji Atmoko

TEGA MENGANIAYA: Potongan video KDRT yang direkam warga secara sembunyi-sembunyi.

TEGA MENGANIAYA: Potongan video KDRT yang direkam warga secara sembunyi-sembunyi. (SCREENSHOOT VIDEO)

KUDUS – Korban dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), MAR, 26, sempat memilih mengamankan diri. Dia bersama orang tuanya di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sebelum suaminya yang berinisial TH, 27, ditahan oleh aparat kepolisian.

Aksi dugaan kekerasan itu terjadi di Dukuh Pucangkerep, Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kudus. Dugaan KDRT itu terekam dalam video. Rekaman itu menyebar di media sosial.

Ayah korban berinisial KY menceritakan, putri pertamanya mengeluh. Terutama, setelah menjalin rumah tangga dengan TH.

Dia menjelaskan, MAR dilamar 1 Juni 2015. Kemudian, keduanya menikah 26 September 2015. Saat itu korban masih kuliah semester akhir di Jogjakarta. Tiap dua minggu sekali korban bertemu TH. Pertemuan itu terkadang di Kudus dan Jogjakarta.

”Waktu itu, hubungan putri saya baik tidak ada masalah apapun. KDRT mulai terjadi sejak putri saya tinggal serumah dengan TH. Awal Januari 2018 lalu sempat anak saya mengalami kekerasan,” katanya kemarin.

Karena kejadian itu, TH dan MAR dipanggil ke Lombok olehnya. Karena mulut anaknya luka. Sebagai orang tua, pihaknya menasihati mereka agar baik. Karena perceraian tidak baik. Kalau bisa dihindari.

”Kejadian kekerasan kembali terjadi pada bulan empat kemarin. Tepatnya 17 April. Putri saya kembali mengalami kekerasan. Kebetulan kejadiannya terekam CCTV. Lalu, kejadian lagi 17 Mei di dalam rumah. Sampai putri saya lari ke masjid,” terangnya.

Dia menyayangkan tindakan menantunya terjadi awal puasa. Hanya persoalan sepele. Saat itu sang istri ingin berbuka bersama suaminya di rumahnya, Desa Kramat. MAR memesan makanan spesial. Dia sudah meminta izin mertuanya.

”Setelah anak saya pulang dari mengambil pesanan makanan, justru suaminya tidak terima. Karena anak saya pesan makanan tanpa sepengetahuan suaminya. Terjadilah kekerasan lagi,” jelasnya.

Dia melanjutkan, putrinya sempat dipukul muka dan dicakar. Bahkan, korban sempat jatuh dan diinjak. Hingga putrinya lari ke masjid untuk mencari perlindungan. ”Di sana anak saya ketemu saudaranya. Kemudian disuruh melakukan visum. Kemudian, dilaporkan 28 Mei lalu,” ujarnya.

Lalu, pada 1 Juni, TH dibekuk Satreskrim Polres Kudus atas perbuatannya. Sebelumnya, korban juga usai mengalami kekerasan 17 Mei. Pada 20 Mei MAR lari ke Surabaya untuk perlindungan selama seminggu. Korban kembali ke Kudus dua hari untuk memberikan kesaksian.

Setelah itu, korban kembali lagi ke Surabaya. Tidak sampai seminggu di Surabaya, korban pindah ke Lombok untuk menemui kedua orang tuanya. ”Lalu, seminggu sebelum Lebaran putri saya dan saya (orang tua) kembali ke Kudus. Saat kembali, TH sudah ditahan,” ungkapnya.

Dia mengaku tidak menyangka menantunya yang berprofesi sebagai dosen di Kudus bisa tega berbuat seperti itu. ”Menantu saya (TH, red) baru bekerja sebagai dosen di Kudus. Padahal, masalahnya sepele, tapi kok tega sampai melakukan kekerasan,” paparnya.

(ks/ruq/ris/aji/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia