Minggu, 22 Jul 2018
radarkudus
icon featured
Cuitan

Kang Ayo Kang Mlaku-Mlaku Nang Semarang

Selasa, 19 Jun 2018 14:20 | editor : Panji Atmoko

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (dok. radar kudus)

KETIKA bertemu Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saya ditanya bagaimana suasana Kota Semarang. Saya menjawab dengan tegas. Semarang -ibu kota Jawa Tengah- semakin indah. Bahkan, suatu saat bisa lebih indah dibanding Surabaya -ibu kota Jawa Timur.

Pertanyaan Hendi –pangggilannya– luar biasa. Dia tahu saya lama tingggal di Surabaya. Baru belakangan harus tinggal di Semarang, selain di Kudus. Dia tidak takut saya membaik-baikkan kota dengan ratusan penghargaan. Sebaliknya, menidakbaikkan Semarang. Rupanya dia ingin mendapat masukan yang fair. Saya memberikannya sesuai kapasitas saya.

NYENTRIK: Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi foto di pasar seni Padang Rani, kompleks Kota Lama Semarang kemarin.

NYENTRIK: Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi foto di pasar seni Padang Rani, kompleks Kota Lama Semarang kemarin. (RADAR KUDUS PHOTO)

Setelah memberi penilaian tersebut, saya menjadi bingung sendiri. Pertanyaan terus berkecamuk. Apakah betul Semarang sudah indah. Kemarin saya mendapat penguatan atas jawaban saya.

Pagi-pagi saya berangkat dari Kudus. Bersama tiga anak saya. Sehari-hari mereka tinggal di selatan Surabaya. Namun, bersekolah di Surabaya. Jalanan ramai lancar. Para pemudik berseliweran dengan kendaraan yang kapnya dijadikan bagasi. Tidak ada tujuan lain kecuali menikmati Kota Semarang. Saya ingin membuktikan jawaban yang saya sampaikan sendiri kepada wali kota. Fokus kami keliling kawasan Kota Lama. Di sinilah saya memastikan Semarang lebih indah.

Sekarang kondisinya memang lagi tidak begitu nyaman. Masih ada pembangunan di Jalan R. Patah, sekitar Gereja Blenduk. Jalan ditutup total. Kendaraan harus lewat belakang gereja. Saya sengaja memarkir kendaraan agak jauh. Sekitar 200 meter dari gereja. Kemudian berjalan kaki menyusuri kawasan kota tua.

Langkah saya terhenti di kampung seni. Itulah tempat berjualan barang antik yang dimotori Paguyuban Pedagang Barang Seni (Padang Rani). Lokasinya di Jalan R. Surapto. Di samping Taman Sri Gunting. Semua yang dijual adalah barang bekas. Ada lampu, setrika, kamera, kopor, gilingan kopi, botol, buku, piring, mesin ketik, dan sebagainya. Sebagian besar adalah barang-barang old. Tetapi saya mendapati beberapa barang repro. Buatan masa kini dengan bentuk old.

Kebetulan saya mengoleksi beberapa barang seperti yang dijual di pasar itu. Salah satu di antaranya lampu gantung kuningan dengan kap putih. Saya membelinya di Surabaya. Cuma Rp 600 ribu. Kini saya tempatkan di kamar bagian belakang kantor Jawa Pos Radar Semarang. Kemarin saya melihat barang yang sama di pasar seni Padang Rani. Harganya Rp 1,5 juta. Masih bisa ditawar.

Pasar  seni itu menjadi salah satu ikon Kota Lama Semarang. Yang datang bukan hanya para kolektor. Saya melihat, sebagian besar justru orang zaman now. Mereka melihat-lihat. Yang paling banyak berselfie ria.

Dari pasar seni saya menuju museum tiga dimensi. Tentu saja melewati gereja tua yang sangat legendaris di samping Taman Sri Gunting. Geraja Blenduk. Disebut Gereja Blenduk karena atapnya blenduk setengah lingkaran. Seperti kebanyakan kubah masjid. Sekarang banyak kubah masjid yang sudah dironovasi menjadi warna-warni. Kubah gereja tersebut masih asli. Dibiarkan karatan. Namun cat temboknya sudah putih bersih.

Sebagian besar bangunan di kawasan kota tua tersebut, sudah dimenterengkan dengan cat putih. Sehingga menjadi indah.

Saya lihat tidak banyak orang yang meperhatikan secara saksama gereja tua tersebut. Mereka lewat sambil lalu. Yang paling ramai di kawasan kota tua adalah museum tiga dimensi. Ada dua berhadap-hadapan. Yang satu Old City dengan tarif Rp 50 ribu. Yang lain DMZ dengan harga dua kali lipat. Ketiga anak saya memilih masuk Old City.

Sudah banyak museum seperti itu. Di Jogja dan Surabaya juga ada. Namun bagi orang Jawa Tengah, museum itu masih menyedot perhatian. Inti wisata dalam museum itu adalah berfoto dengan gambar yang hasilnya kelihatan tiga dimensi. Saya tidak begitu tertarik, namun bisa menikmatinya juga.

Yang menarik perhatian saya lainnya adalah gedung Lawang Sewu. Bangunan ini legendaris. Dibangun zaman Belanda sekitar tahun 1904. Aslinya kantor Jawatan Kereta Api. Dulu bangunan yang luar biasa megah tersebut mangkrak. Belakangan difungsikan sebagai tempat wisata.

Meski sudah sangat tua, gedung tersebut masih sangat kokoh. Bagimana tidak? Temboknya tiga kali tebal tembok bangunan zaman sekarang. Saya mengukurnya dengan jengkal tangan. Dua jengkal. Sekitar 40 sentimeter. Sedangkan bangunan sekarang hanya sekitar 13-15 sentimeter. Rangka atapnya kayu jati. Saya naik sampai lantai paling atas yang termasuk bagian paling angker.

Kemarin pengunjung bejubel. Maklum masih libur panjang hari raya. Antrean di depan loket sekitar sepuluh meter. Saya membayar Rp 40 ribu untuk empat orang. Anak-anak dan pelajar cukup separonya. Anak saya tertarik karena keangkerannya. Saya ingin membuktikan keangkeran itu. Tentu saja tidak bisa.

Disebut gedung Lawang Sewu karena memiliki banyak pintu. Satu kamar saja ada yang lima pintu. Padahal di gedung itu banyak deretan ruang. Saya ingin menghitungnya. Mula-mula serius. Tetapi setelah hitungan melebihi seratus saya menjadi lupa. Menyerah. Saya berseloroh kepada anak-anak. Jumlah pintunya 987 (maaf, sekadar ngomong). Kalau tidak percaya, hitung sendiri.

Kawasan Kota Lama yang saya ceritakan itulah yang membuktikan bahwa Semarang sudah cantik. Wali kota bisa menyulap kawasan angker menjadi tempat wisata yang indah. Sedangkan kawasan Kota Lama Surabaya di sekitar Kembang Jepun masih tetap seperti dulu. Bangunannya kusam. Kalau malam sepi.

Yang masih kalah dengan Surabaya, menurut saya adalah penghijauannya. Surabaya sudah adem. Bahkan sudah berbunga. Kalau Pak Hendi bisa terus melengkapi keindahan tersebut dengan penghijauan, bukan tidak mungkin Semarang lebih indah dibanding Surabaya. Sehingga layak juga kita mengumandangkan seruan: kang ayo kang mlaku-mlaku nang Semarang. (hq@jawapos.co.id)

(ks/lin/aji/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia