Kamis, 19 Jul 2018
radarkudus
icon featured
Pendidikan
Ponpes Nurul Huda, Sirahan, Pati (2-habis)

Bekali Santri Praktik Kemasyarakatan

Rabu, 13 Jun 2018 13:45 | editor : Ali Mustofa

SIAP TERJUN KE MASYARAKAT: Para santri perempuan mengikuti haflah akhirus sanah di Ponpes Nurul Huda.

SIAP TERJUN KE MASYARAKAT: Para santri perempuan mengikuti haflah akhirus sanah di Ponpes Nurul Huda. (PONPES NURUL HUDA FOR RADAR KUDUS)

PONDOK Pesantren (Ponpes) Nurul Huda, Sirahan, Pati, menekankan ngaji kitab rutin. Di samping itu, juga memberikan bekal kepada santri supaya ilmu yang didapatnya benar-benar bisa dipakai di masyarakat.

Pengasuh ponpes, Jamaludin Umar, putra pertama pendiri ponpes, KH Umar Muslim Hal menyadari betul hal itu. Saat berhadapan dengan masyarakat, santri tak mungkin menyodori kitab seutuhnya. Namun harus praktik nyata. Maka muncullah program Praktik Pengamalan Ibadah (PPI).

Program ini secara khusus, menggembleng santri menguasai praktik-praktik keagamaan yang nyata di masyarakat. ”Santri punya bekal yang melimpah dari pesantren dengan kitab-kitabnya. Namun praktik pengalaman juga mutlak diperlukan, supaya saat berhadapan langsung dengan masyarakat mereka tidak kaget. Sehingga benar-benar sesuai yang dibutuhkan masyarakat,” kata pria yang masih studi di Magister Pendidikan IAIN Kudus ini.

Program PPI ini berjenjang sesuai dengan tingkatan sekolah. Antara MTs dan MA dibedakan. Materi-materi dalam PPI sangat beragam. Mulai dari praktik wudu, praktik salat wajib, salat-salat sunah, hingga amalan-amalan seperti tahlilan dan membaca kitab Albarzanji.

Selain itu, ponpes yang terletak di Jalan Raya Tayu-Pati, Desa Sirahan, Cluwak, Pati, ini, masih mempertahankan cara belajar serta tradisi lokal pesantren. Seperti dalam hal menangani para santri yang nakal.

”Ada prinsip dari bapak (pendiri ponpes, KH Umar Muslim, Red), yang belum ”sadar” kami telateni. Artinya kami siap membimbing. Bapak selalu begitu, sebisa mungkin jangan sampai mengeluarkan santri. Kalau dikeluarkan lalu tambah buruk, itu malah jadi beban mental,” katanya.

Dia melanjutkan, selama masih bisa dibina, santri akan dipertahankan. Dia memang kerap mendapat laporan dari masyarakat mengenai santrinya nakal. Terutama santri putra. ”Sering ada yang menelepon, lapor ini-itu. Katanya santri nakal dan sebagainya,” imbuh bapak lima anak ini.

Namun, selama santri masih bisa diajak komunikasi, santri tersebut masih dipertahankan. Berbeda dengan beberapa lembaga pendidikan lain, yang bahkan menerapkan sistem skorsing untuk pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan santri. ”Selama masih batas wajar dan bisa diajak komunikasi, kami pertahankan dan membina. Nakal bagi anak muda kan wajar, yang penting kita dibina,” tuturnya.

(ks/aua/lin/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia