Sabtu, 21 Jul 2018
radarkudus
icon featured
Features
Heru Suprayitno, Seniman Ukir 3D Asal Undaan

Bikin Tokoh-Tokoh Dalam Negeri hingga Luar Negeri

Selasa, 12 Jun 2018 18:34 | editor : Ali Mustofa

TEKUNI UKIR: Heru Suprayitno, warga Desa Medini, Kecamatan Undaan menunjukkan karya di rumahnya kemarin.

TEKUNI UKIR: Heru Suprayitno, warga Desa Medini, Kecamatan Undaan menunjukkan karya di rumahnya kemarin. (UMMI NAILA RIZQIYYA/RADAR KUDUS)

Seniman ukir tak hanya datang dari Jepara. Heru Suprayitno asal Kudus mampu memunculkan ukiran. Padahal, keahlian itu berawal keisengan di usia belasan tahun. Kini hasilnya banyak dipesan pelanggan dari luar kota.

UMMI NAILA RIZQIYYA, Kudus

UKIRAN kayu berupa wajah tiga dimensi bersandar di tembok. Bentuknya unik. Nyaris seperti aslinya. Ada juga pahatan wayang setengah jadi. Itu masih terlihat di lantai.

Di sela itu beragam alat pahat ukir tersebar. Itulah kesibukan sehari-hari yang dilakoni Heru Suprayitno. Pria 37 tahun asal RT 1 RW 3, Desa Medini, Kecamatan Undaan, Kudus  mengaku, mendalami seni ukir sejak usia 11 tahun.

”Semula berawal dari iseng memainkan alat pahat milik Pak Dhe. Waktu itu saya kelas V. Setiap pulang sekolah saya belajar sendiri natah (memahat) kayu,” ucapnya kemarin.

Diceritakan, apa yang dilakukan itu tanpa sepengetahuan orang lain. Dia belajar secara otodidak. Lambat laun saudaranya mengetahui hasilnya. Dia diberi kesempatan belajar ukir. Kebetulan Pak Dhe-nya tersebut seorang pemahat kayu.

Ketika diberi gambar sesuai pola yang diajarkan, dia menolak. Dia beralasan ingin menuangkan kreativitasnya sendiri. Ternyata hasilnya hampir sempurna. Seperti hasil pahatan wayang dan ukiran kayu hiasan rumah lainnya.

Setelah satu karya jadi, dia posting lewat media sosial. Heru juga memasarkan melalui teman-temannya. Lama-lama banyak yang tertarik dan minat. Bahkan sampai sekarang pesanan ukirannya tak pernah sepi.

”Pesanannya macam-macam. Ada yang pesan ukiran wajah, miniatur menara, relief, dan hiasan perabotan rumah tangga lainnya. Seringnya ukiran wayang yang dipesan,” paparnya.

Suami dari Anis Mukayanah ini mengaku, dulunya mengukir gebyok rumah. Karena dirasa jenuh dan monoton, dia mencoba berinovasi. Mulai memanfaatkan kayu jati bekas. Dia mengombinasikan pahatan kayu, tanduk, kuningan, hingga batok kelapa.

”Supaya tidak bosan maka saya inovasikan bentuk lain. Ketika melihat benda ukiran yang bagus saya tertantang bisa mengerjakan. Kalau orang lain bisa, saya juga harus bisa,” aku pria kelahiran Kudus, 23 Agustus 1981 ini.

Seperti halnya ukiran wajah tiga dimensi yang lebih diminati pelanggan. Untuk mengukirnya membutuhkan waktu sekitar 3-4 hari. Kayu yang digunakan kayu jati supaya awet dan terlihat bagus.

Mengenai harganya kisaran ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Bergantung ukuran, kesulitan dan kerumitan pahatan. Karena hasil wajah dan detailnya disesuaikan aslinya. Pelanggannya yang pesan kebanyakan dari luar Kudus. Bahkan dari luar Jawa. Ada juga dari Pati, Jepara, Jogjakarta, Surabaya, dan Makasar.  

Selain ukiran wayang, dia sering mendapat pesanan berupa tokoh-tokoh sejarawan. Seperti Presiden Pertama RI Bung Karno, Karl Marx, Ki Ageng Surjomentaram, Dodi Katamsi, dan sejumlah tokoh dunia lainnya.

”Saya pernah mendapat pesanan ukiran Jesus di salib. Belum lama ini saya mendapat pesanan ukiran garuda berukuran jumbo,” terangnya.

Tak heran jika keahlian seni ukirnya itu, desain rumah minimalis miliknya berkat keterampilan tangannya. Pintu ukir, atap plafon ukir, lampu ukir, dan hiasan ukir perabotan rumah tangga menghiasi isi rumahnya.

Meskipun seniman di wilayah Undaan semakin berkurang, dia berkeinginan melestarikan seni ukir di desanya. Sebagai bentuk apresiasi, para pemuda desa setempat mendukungnya untuk terus berkarya. Memunculkan inovasi karya yang bisa mendunia nantinya.

(ks/ris/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia