Senin, 23 Jul 2018
radarkudus
icon featured
Pendidikan
Ponpes Darul Falah Amtsilati, Bangsri, Jepara

Sediakan 24 Kamar Ber-AC bagi Wali Santri

Senin, 11 Jun 2018 10:40 | editor : Ali Mustofa

MILIKI 2.500 SANTRI: Salah satu sudut bangunan pondok yang berlokasi di Desa Sidorejo, Bangsri, Jepara. Dua santri Ponpes Darul Falah Amtsilati sedang berbincang di sela aktivitas ngaji.

MILIKI 2.500 SANTRI: Salah satu sudut bangunan pondok yang berlokasi di Desa Sidorejo, Bangsri, Jepara. Dua santri Ponpes Darul Falah Amtsilati sedang berbincang di sela aktivitas ngaji. (Dok. Pondok)

KEGIATAN ngaji posonan di Pesantren Darul Falah Amtsilati lain dari pesantren pada umumnya. Pesantren ini memberikan pembelajaran khusus pada 2.500 santrinya. Pembelajaran itu adalah dengan mengaji beberapa kitab yang diringkas oleh pengasuh ponpes KH Taufiqul Hakim.

Kepala pondok Arinal Zaqiyyat mengungkapkan, pengasuh meringkas kajian kitab kuning atau kitab gundul karangan KH Taufiqul Hakim. Puluhan karya kitabnya menjadi salah satu buku bacaan yang praktis dan digemari banyak santri serta masyarakat.

Di antara kitabnya yaitu kitab La Taghdob, kitab La Takhris, kitab Dinul Islam, dan kitab Mitsakol Madinah sebagai kajian Ramadan tahun ini. “Kajian kitab tersebut memuat berbagai ilmu. Mulai akidah, hadis, akhlak, dan kajian keislaman lainnya,” paparnya.

Para santri menyelesaikan kajian kitab selama bulan puasa hingga tanggal 20 Ramadan. Setelah khatam, para santri diperkenankan pulang kampung. Santri berdatangan dari berbagai wilayah. Mulai dari Sumatera, Kalimantan, dan daerah lainnya.

Bagi para wali santri yang menjemput anaknya, disediakan 24 kamar ber-AC selama menunggu santri selesai ngaji. Kamar-kamar tersebut disebut Roudlotul Jannah. “Baik bulan puasa maupun bulan biasa, bagi wali santri yang ingin menginap kami sediakan kamar lengkap dengan fasilitas makan,” imbuhnya.

Namun kapasitas tersebut tidak memenuhi standar jumlah santri. Sehingga tahun ini pesantren membuat kamar penginapan sebanyak 24 unit. Penginapan tersebut diperuntukkan bagi tamu, wali santri, maupun wisatawan yang berkunjung.

“Selain wali santri, biasanya ada tamu dari pesantren lain yang studi banding. Jadi kami sediakan kamar agar bisa beristirahat dengan nyaman di sini,” tandasnya. 

JUARA: Tim Gema Syi'ar Amtsilati Jepara merayakan hasil kemenangan yang diraih dalam Delta Marching Open Festival Indonesia 2018 di Sidoarjo.

JUARA: Tim Gema Syi'ar Amtsilati Jepara merayakan hasil kemenangan yang diraih dalam Delta Marching Open Festival Indonesia 2018 di Sidoarjo. (Dok. Pondok)

Marching Band Gema Syi'ar Amtsilati (MBGSA) Jepara satu-satunya wakil Jawa Tengah dalam Delta Marching Open Festival Indonesia 2018 di Sidoarjo. Dua gelar berhasil diraih. Di antaranya juara II  Drum Line Battle dan juara I Brass Battle.

Manajer tim Mamat Rahmatullah berbagi kisah perjuangan MBGSA Jepara ketika berhasil meraih dua gelar pada ajang Delta Marching Open Festival (DMOF) Indonesia XV 2018 di Sidoarjo bulan kemarin. Mereka berhasil meraih juara II  Drum Line Battle dan juara I Brass Battle.

Mamat –sapaan akrabnya- mengungkapkan, dengan modal nekat timnya mengikuti ajang tersebut. Dengan berbagai kendala, tim akhirnya bisa berpartisipasi. Mereka yakin meraih hasil maksimal meskipun persiapan hanya sebulan.

“Diizinkan pengasuh  KH Taufiqul Hakim untuk ikut lomba tersebut saja sudah bersyukur. Apalagi juara. Yang penting niat kami untuk menambah pengalaman dan wawasan kepada tim di tingkat nasional. Pesan dari beliau berlatih dengan sungguh-sungguh,”  katanya.

Tim yang ikut lomba, beranggotakan 32 personel. Selama latihan, intensitas kehadiran anggota  terbentur dengan jadwal kegiatan sekolah dan ngaji. Hal ini dikarenakan anggotanya terdiri dari 25 pelajar MTs/MA dan tujuh santri senior. Latihan disesuaikan dengan jadwal masing-masing anggota.

“Waktu efektif biasanya setelah ngaji sore. Bahkan  malam hari pun tetap latihan. Untuk latihan saya dibantu tim pelatih Percusion Line Pitt Instrument, Galih Cahyo Wibowo; Horn Line High Brass, Firman Jauhari; Horn Line Low Brass, Adhika Nandi; Color Guard Iqbal Alfani dan Zainur Rosyadi,” ucapnya.

Selama di Sidoarjo, tim  berlatih di halaman depan stadion beserta band lainnya. Meski terkadang cuacanya kurang mendukung, Mamat mengaku anggotanya tidak patah semangat untuk berlatih.  Tiga hari di Sidoarjo akhirnya datang hari yang ditunggu pada 11 Maret. Jadwal pertama adalah babak kualifikasi untuk menentukan siapa lawan yang seimbang. MBGSA mendapat urutan keempat dari tujuh peserta Drum Line Battle. Setelah babak kualifikasi selesai, lawan pun di tentukan. MBGSA berhadapan dengan Gema Swara Cakrawala SMAN 3 Surabaya. Hingga akhirnya mereka berhasil masuk babak semifinal. Ketiga lawannya dalam semifinal adalah G.185 Percussion Gresik, MB Ekalavya Brawijaya Malang, dan Wajak Drum Line Malang.

“Kami tidak menyangka bisa bersanding dengan para langganan juara nasional. MB Ekalavya Brawijaya Malang merupakan juara bertahan tahun lalu. Sedangkan G.185 Percussion Gresik langganan final dalam ajang nasional,” paparnya.

Setelah keempat tim tampil, MBGSA berkesempatan merebut juara I dan II di final menghadapi G.185 Percussion Gresik. Saat juri mengumumkan hasil kejuaraan, sorak sorai dari anggota dan tim pelatih pecah. “Tangis haru kebahagiaan terpancar di mata tim MBGSA. Seolah kami sedang bermimpi. Malam itu benar-benar milik tim. MBGSA meraih juara II Drum Line Battle dan juara I Brass,” imbuhnya. 

(ks/war/aji/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia