Beberapa tahun yang lalu saat terjadi krisis ekonomi, UMKM masih mampu berdiri pada saat usaha skala besar mengalami kelesuan hingga berhenti aktivitas. Berdasarkan pengalaman itu, alangkah baiknya jika pengembangan sektor swasta lebih berfokus kepada UMKM. Apalagi UMKM masih sering diabaikan, karena hasil produksinya yang masih berskala kecil dan belum mampu bersaing dengan usaha.
Kudus merupakan salah satu kota industri di Jawa Tengah. Sektor industri menyumbang pendapatan daerah terbesar. Dapat dilihat dari PDRB Kabupaten Kudus. Terutama industri tembakau.
Adapun yang industri unggulan di Kudus meliputi, industri rokok, bordir, kertas, konveksi, furnitur, elektronik, kerajinan (handycraft), dan industri jenang.
UMKM mempunyai peran penting dalam pertumbuhan ekonomi daerah. Salah satu industri UMKM yang masih tetap bertahan hingga saat ini yaitu usaha UMKM industri jenang Kudus.
Industri jenang Kudus didominasi industri skala rumah tangga. Pemasaran produk jenang kudus tidak hanya lokal, melainkan para wisatawan dari berbagai kota sebagai oleh-oleh khas dari Kudus. Prospek dari industri jenang membuat warga Kudus, terkhusus di Desa Kaliputu, Kota, membuka peluang usaha melalui industri ini dalam skala rumah tangga.
Jenang merupakan output dari proses produksi pengolahan tepung ketan, gula, dan santan sebagai bahan utama. Jenang Kudus menjadi salah satu makanan khas yang juga sebagai sumber penghasilan bagi seagian masyarakat. Untuk itu, UMKM industri jenang diharapkan tetap maju membangun perekonomian daerah.
Bahan bakunya tepung ketan dicampur gula dan santan. Untuk menambah cita rasa, dipadukan bahan lain seperti susu atau buah-buahan. Olahan jenang di Kudus memiliki keunikan tersendiri. Teksturnya yang kenyal dan lembek dibanding dengan olahan jenang daerah lain, seperti jenang Krasikan di Kabupaten Sukoharjo yang mempunyai tekstur sedikit kasar. Lebih dikenal dengan nama kue ladu.
Industri UMKM jenang di Kabupaten Kudus masih terdapat banyak kendala. Di antaranya, harga bahan baku yang sering fluktuasi. Juga terdapat pengembalian produk yang menyebabkan penerimaan menurun. Ini terjadi jika ada produk yang tak terjual atau kedaluarsa.
Dari sekian kendala, para pengelola jenang terus melakukan kerja sama dengan pemerintah dan masyarakat sebagai penyambung informasi pasar. Pentingnya peran masyarakat dalam hal ini, proses promosi mulut ke mulut.
Selain itu, pada era digital ini, tentu saja menjadi sebuah wadah yang membantu para pelaku UMKM jenang Kudus. Seperti promosi serta eduksai yang cepat sampai kemasyarakat luas.
Pemasaran yang dilakukan produsen dengan mengemas jenang secara sederhana. Hanya dengan plastik bening sebagai pembungkus dasar jenang yang dipotong kecil-kecil. Kemudian ditimbang sesuai dengan kemasan. Kemasan yang dipasarkan antara lain 200gr, mika 0,5 kg kemasan 1 kg, kemasan loyang, dan kemasan besar 5 kg. Pasar pengrajin jenang kudus skala rumah tangga antara lain kabupaten Demak, Pati, Jepara, Semarang, Tuban, Lamongan, dan Jogjakarta.
Status usaha menggambarkan keadaan produsen jenang Kudus dalam mencurahkan waktu serta tenaga pada kegiatan usaha. Produsen skala rumah tangga di Desa Kaliputu menjadikan sebagai pekerjaan utama. Faktor keberhasilan usaha salah satunya dipengaruhi ketekunan dan pengalaman yang dimiliki. Rata-rata lama waktu menjadi produsen jenang Kudus sekitar 11-20 tahun.
Butuh peran serta pemerintah dan masyarakat, agar usaha kuliner khas Kudus ini, tetap eksis. Sebab, tak sekadar sisi ekonomi yang terangkat. Unsur kebudayaan dan lainnya juga ikut bertahan. (lin) Editor : Ali Mustofa