Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Perilaku Ananiyah

Ali Mustofa • Rabu, 21 April 2021 - 23:34 WIB
Sariman, S.Ag.; Guru PAI SDN Palon Kec.Jepon Kab. Blora. (DOK PRIBADI FOR RADAR KUDUS)
Sariman, S.Ag.; Guru PAI SDN Palon Kec.Jepon Kab. Blora. (DOK PRIBADI FOR RADAR KUDUS)
DI antara akhlak tercela yang harus dihindari adalah sikap ananiyah. Dari sisi bahasa, kata ananiyah berasal dari kata “ana”, yang dalam bahasa Arab maknanya adalah “aku”.Artinya sikap ananiyah adalah sikap “keakuan”, yaitu sikap hidup yang terlalu mementingkan diri sendiri diatas kepentingan umum. Bahkan jika perlu dengan mengorbankan kepentingan orang lain. Sikap ini adalah sikap hidup yang tercela,karena cenderung melakukan perbuatan yang dapat merusak tatanan pergaulan kehidupan bermasyarakat.

Sifat ananiyah sangatlah tidak pantas ada dalam kehidupan seorang muslim. Karena seorang muslim diajarkan bahwa sesama muslim adalah saudara. Sesama saudara harus saling membantu dan menolong. Selain itu,Islam mengajarkan bahwa umat Islam bagaikan satu tubuh. Jika ada tubuh yang sakit, maka anggota tubuh yang lain turut merasakanya.

Jika sifat ini menjangkit pada orang-orang  yang memiliki wewenang, akan berdampak besar kepada masyarakat. Pengusaha dengan sifat ananiyah akan menggunakan kekayaanya untuk memonopoli ekonomi dengan tidak segan–segan menggilas pengusaha kecil dan menyingkirkan pengusaha- pengusaha  yang dianggap sainganya, mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara zalim dan menghalalkan segala cara.

Cara menghindari sifat ananiyah adalah:Pertama, Saling menghargai dan menghormati orang lain tanpa membeda-bedakan kekayaan, jabatan, suku, budaya, maupun agama. Sifat egois,sering dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menghargai diri terlalu tinggi dan memperlakukan rendah terhadap orang lain. Guna mereduksi, perlu memegangi prinsip toleransi agar manusia memiliki kenyamanan yang setara. Ingin dihargai hendaknya menghargai, ingin didengar hendaknya biasakan mendengar. Menghargai kepentingan orang lain adalah modal  dasar untuk  mewujudkan kebersamaan.

Kedua, membiasakan diri untuk bersedekah dan beramal untuk orang lain, alam adalah merupakan sarana pembelajaran untuk berbagi, matahari yang terus menerus bersinar untuk menebar manfaat bagi kehidupan. Demikian pula bumi, air, dan angin Bahkan lilin rela  hancur demi penerangan.  kebiasaan untuk bersedekah dan beramai untuk orang lain sebaiknya ditumbuhkembangkan pada diri setiap muslim.

Ketiga,menyadari bahwa manusia hidup membutuhkan orang lain. Ia harus merelakan dirinya karena ia merupakan bagian dari sistem kehidupan yang saling membutuhkan. Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang selalu hidup berdampingan dengan sesamanya dalam rangka untuk  memenuhi  kebutuhan hidupnya. Manusia tidak dapat memenuhi kebutuhanya sendiri, melainkan perlu  bekerja sama dengan orang lain.

Keempat, selalu berpikir positif atau positive thinking pada orang lain. Sikap berpikiran positip kepada orang lain akan memmunculkan sifat menerima keberadaan orang lain dengan ikhlas, tidak ada sekat dalam hati, berpikiran luas dan berhati lapang.Sikap ini akan mendatangkan ketenangan batin dan siap berteman dengan siapapun tanpa melihat keturunan, derajat, ataupun status sosial lainya.

Oleh karena itu, sifat ananiyah atau egois harus dimusnahkan dari kehidupan. Sifat ananiyah harus dihindari dalam berbagai lingkungan,mulai keluarga, sekolah, masyarakat, hingga berbangsa dan bernegara. Jika sifat ananiyah ini dibiarkan, bisa  mengancam persatuan dan kesatuan kita. Bahkan dalam hidup berbangsa dan bernegara kita harus menjahui sifat ini. (*) Editor : Ali Mustofa
#sariman #Persatuan #kesatuan #perilaku ananiyah