Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Dampak Pembelajaran Daring bagi Pendidikan Karakter

Ali Mustofa • Selasa, 26 Oktober 2021 | 21:45 WIB
Sri Utami, S.Pd.SD.; Guru SDN 2 Plosorejo, Kunduran, Blora (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)
Sri Utami, S.Pd.SD.; Guru SDN 2 Plosorejo, Kunduran, Blora (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)
PADA masa pandemi Covid-19 saat ini, semua negara di dunia sedang menghadapi permasalahan yang hampir sama. Semua aktivitas dibatasi untuk mencegah penyebaran virus korona. Termasuk aktivitas belajar mengajar.

Di Indonesia, sudah lebih dari satu tahun semua aktivitas belajar mengajar dilakukan secara daring. Tanpa tatap muka. Mulai dari tingkat dasar dan menengah hingga tingkat perguruan tinggi.

Pembelajaran daring serta merta menyadarkan kita akan potensi luar biasa internet yang belum dimanfaatkan sepenuhnya dalam berbagai bidang. Termasuk bidang pendidikan. Namun, di balik setiap sisi positif suatu hal, pastilah tersimpan sisi negatif. Meskipun secara formal kegiatan pendidikan masih bisa dilakukan secara daring. Namun, karena siswa harus belajar di rumah, pendidikan karakter selama masa pandemi ini, rasanya menjadi sedikit terabaikan.

Sebelumnya, ketika kegiatan pendidikan dilakukan di sekolah, pendidikan karakter dilakukan dengan pengawasan langsung dari guru. Kegiatan-kegiatan yang mendukung pendidikan karakter juga bisa dilakukan langsung, secara intensif dan bisa diukur tingkat keberhasilannya.

Di kondisi saat ini, ketika kegiatan pendidikan dilakukan daring, yang terjadi lebih banyak proses pembelajaran atau transfer pengetahuan saja. Tak ada yang bisa menjamin siswa mendapatkan pendidikan karakter dari kedua orang tua mereka sesuai dengan nilai-nilai yang selama ini diajarkan oleh institusi pendidikan.

Misalnya, di beberapa sekolah Islam, yang menekankan pendidikan karakter dengan kegiatan peribadatan seperti salat sunah dan wajib secara berjamaah, otomatis saat ini tidak bisa melakukan kegiatan tersebut. Memang, mungkin saja beberapa sekolah telah membuat mekanisme pelaporan kegiatan ibadah siswa di rumah, namun tetap saja kehadiran guru dan pendidik serta interaksi mereka dengan siswa secara langsung diperlukan. Untuk pelaksanaan pendidikan karakter yang komprehensif.

Keteladanan para pendidik yang dilihat dan dirasakan langsung oleh siswa adalah kunci utama pendidikan karakter di lembaga pendidikan. Terlebih pada keadaan saat ini, banyak orang tua yang teramat sibuk bekerja. Khususnya di waktu-waktu pembelajaran daring. Tentunya mereka tak bisa mengawasi langsung apa yang dilakukan anak-anak mereka.

Bangsa ini tidak lagi menghadapi ancaman kekurangan orang-orang pintar di era internet seperti sekarang ini. Akses informasi tanpa batas memudahkan setiap orang untuk belajar apapun. Namun, pembelajaran berbeda dengan pendidikan. Apalagi pendidikan karakter.

Bangsa ini butuh generasi muda yang karakter positifnya terbentuk. Itu hanya bisa diraih dengan pendidikan karakter yang mengedepankan keteladanan para pengajar, yang harus disaksikan dan ditiru langsung oleh siswa.

Untuk itu, sudah saatnya pemerintah dan segenap elemen pendidikan di Indonesia memikirkan bagaimana cara mengganti pendidikan karakter yang selama masa pandemi ini terpaksa harus terabaikan. Jangan sampai hilangnya nilai-nilai pendidikan karakter juga menjadi bagian dari new normal. Sehingga nantinya kita tak lagi merasa aneh melihat generasi muda yang kehilangan karakter-karakter positif, karena pendidikan kita akhirnya didominasi pembelajaran daring yang hanya mengedepankan transfer pengetahuan. Tanpa penanaman nilai-nilai akhlak yang mulia.

Itulah yang sangat diperlukan bangsa ini untuk memperbaiki keadaannya sendiri yang sedang dilanda banyak masalah seperti sekarang ini. (*) Editor : Ali Mustofa
#pendidikan karakter #sri utami #pembelajaran daring #covid-19