Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sekolah sebagai Taman Siswa

Ali Mustofa • Rabu, 6 Oktober 2021 | 15:38 WIB
Novia Dwi Permatasari, S.Pd.; Guru SDN 1 Pendem, Kec. Ngaringan, Kab. Grobogan (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)
Novia Dwi Permatasari, S.Pd.; Guru SDN 1 Pendem, Kec. Ngaringan, Kab. Grobogan (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)
MENJADIKAN sekolah menjadi Taman Siswa adalah salah satu cara dalam menerapkan pembelajaran yang inovatif dan inspiratif. Istilah Taman Siswa sudah kita kenal sejak masa colonial yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Sekolah bisa di artikan lebih luas dari pada hanya tempat mentransfer ilmu dari guru kepada siswanya. Ki Hajar Dewantara ingin menjadikan siswanya utuh berkembang melalui “educate the head, the heart, and the hand” atau daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa. Sekolah di ibaratkan sebuah taman bermain yang menyenangkan, penuh kekeluargaan yang menjadikan siswa dapat berkembang dan tumbuh sebagai manusia yang berkarakter. “Pendidikan Taman Siswa dilaksanakan berdasarkan system among, dimana pendidikan didasarkan pada jiwa kekeluargaan yang bersendikan kodrat dan kemerdekaan” (Dyah Kumalasari, 2010:55).

Sekolah adalah taman bagi siswa untuk belajar, untuk mengenali lingkungan, untuk berekspresi dan berkreasi. Beberapa metode yang dapat digunakan guru dalam menjadikan sekolah sebagai taman siswa yang menyenangkan yaitu, Pertama, mengenali setiap siswaDengan mengenali setiap pribadi siswa, akan muncul dalam diri siswa rasa dimiliki, rasa diperhatikan dan rasa dipedulikan. Sikap guru yang acuh tak acuh, akan membuat siswa merasa tidak dimiliki yang berakibat pada perubahan tingkah laku yang tidak diinginkan, seperti susah diatur.

Kedua, Buat rencana dengan siswa. Libatkan siswa dalam mengambil setiap keputusan dikelas, dengan melibatkan siswa mereka akan merasa dihargai, diperhatikan sehingga akan membuat mereka dengan sendirinya patuh dan bertanggungjawab.

Ketiga, Biasakan anak berdiskusi dan memecahkan masalah. Untuk menumbuhkan kebiasaan anak berdiskusi dapat dilakukan guru mulai dari awal anak masuk dikelas tersebut, ajaklah anak untuk berdiskusi dalam menyusun berbagai rencana dan tujuan yang ingin di capai dalam kelasnya. Hal tersebut juga akan mengajarkan mereka untuk mandiri dan bertanggungjawab.

Keempat, Gunakan berbagai media dan berbagai metode pembelajaran yang cocok digunakan dikelasmu.

Kelima, Bermain dengan siswa. Ketika mengajar dikelas dan melihat siswa kita merasa kelelahan, menundukkan pandangan, menjadi tanda bahwa apa yang kita ajarkan terlalu membosankan bagi siswa. Perlu adanya jeda sejenak untuk memulihkan semangat dan fokus siswa dalam belajar. Banyak referensi game edukatif yang dapat guru pelajari dari youtube ataupun sharing dengan guru lain atau  meminta saran siswa permainan apa yang ingin mereka lakukan bersama gurunya.

Keenam, Ceritakan tokoh hebat penuh inspiratif di zaman dulu dan zaman now.

Ketujuh, Apresiasi setiap pencapaian siswa. Ajarkan siswa saling menghargai satu sama lain, saling mendukung, dan saling memotivasi.

Itulah beberapa metode yang dapat dilakukan untuk menjadikan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan, bukan hanya tempat untuk memperoleh ilmu, tapi dapat menjadi taman bermain yang mampu memahami dunianya dan menuntunnya untuk berkembang menjadi manusia yang merdeka dan berkarakter. (*) Editor : Ali Mustofa
#pembelajaran inovatif #taman siswa #sekolah #pendidikan #novia dwi permatasari