alexametrics
24 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Pembelajaran Kimia Berbasis Kependudukan

SERING sekali kita mendengar orang-orang terutama penjual makanan dan minuman yang menyatakan bahwa produknya tanpa bahan kimia atau bebas bahan kimia, juga tertulis diberbagai label produk bahwa semua bahan yang digunakan adalah bahan alami dan tidak mengandung bahan kimia. Sebegitu mengerikankah kimia? Kimia adalah sebuah kata yang begitu menakutkan bagi semua orang. Ketika siswa kelas X ditanya pandangannya tentang kimia pasti yang dibayangkan adalah bom, meledak dan berbahaya. Jadi bagi orang awam, kimia adalah sebuah kata yang begitu menakutkan. Tidak dipungkiri bahwa media massa juga berperan dalam pembentukan pemikiran ini, dimana dalam pemberitaan setiap ada kata bahan kimia selalu disandingkan dengan kata berbahaya. Oleh karena itu pembelajaran kimia diharapkan dapat mengubah persepsi dari yang menakutkan menjadi hal yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari dan menyenangkan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Larasati Dwi Nor Aini (2019), meneliti kandungan formalin yang terdapat pada ikan asin dan faktor yang mempengaruhi penggunaan formalin di wilayah Kabupaten Rembang didapatkan hasil bahwa berdasarkan hasil uji laboratorium didapatkan sampel yang mengandung formalin 85,3 persen dan yang tidak mengandung formalin 14,7 persen. Sampel yang tidak mengandung formalin berjenis ikan layur. Pengawetan makanan menggunakan formalin memang telah dilarang karena adanya potensi bahaya terhadap tubuh manusia. Formalin merupakan larutan tidak berwarna, berbau tajam, mengandung formaldehid sekitar 37 persen dalam air. Jika masuk kedalam makanan, formalin akan mengikat protein hingga meresap ke bagian dalam makanan. Dengan matinya protein maka makanan menjadi lebih keras dan tidak akan diserang bakteri pembusuk (Asrianti, 2016). Padahal kita tahu bahwa anjuran penggunaan formalin yang benar adalah sebagai pembunuh kuman, sehingga banyak dipakai dalam pembersih lantai, pakaian dan juga untuk pengawet mayat. Kasus pemakaian formalin pada ikan segar dan produk makanan lainnya menunjukkan kurangnya pengetahuan produsen serta minimnya sosialisasi kepada masyarakat mengenai manfaat dan bahaya bahan aditif terutama formalin. Formalin tidak diperkenankan ada dalam makanan maupun minuman karena efek dalam jangka pendek bila terhirup dapat menimbulkan iritasi, kerusakan jaringan dan luka pada saluran pernafasan, sedangkan bila terhirup dalam jangka waktu lama akan menimbulkan sakit kepala, kemandulan pada perempuan serta kanker pada hidung.

Baca Juga :  Strategi Pembelajaran PAI Anti Radikalisme

Salah satu upaya mengatasi masalah kependudukan tersebut dilakukan melalui program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) yaitu sekolah yang mengintegrasikan pendidikan kependudukan dan keluarga berencana ke dalam beberapa mata pelajaran sebagai pengayaan materi pembelajaran. Di dalam sekolah berbasis SSK itu terdapat Pojok Kependudukan (Population Corner) yang didalamnya terdapat tabel, grafik, piramida penduduk, poster, buku-buku, pamflet, brosur-brosur, film-film program kependudukan, dan lain-lain. Pojok Kependudukan dapat menjadi sumber belajar peserta didik untuk dapat memahami berbagai masalah dan isu kependudukan.


Pada tanggal 20 Oktober 2020, telah terselenggara Kegiatan Fasilitasi Pembentukan SSK di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). SMA Negeri 1 Rembang adalah sekolah yang ditunjuk oleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Rembang sebagai Sekolah Siaga Kependudukan di Kabupaten Rembang dengan tujuan guru mampu mengintegrasikan isu kependudukan tersebut ke dalam pembelajaran sesuai dengan Kurikulum pendidikan yang berlaku. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa didesign sedemikian rupa sehingga dapat mendorong siswa untuk aktif mengobservasi, mencari data, mengolah data, dan menganalisis masalah-masalah yang terdapat dalam masyarakat. Dalam pembelajaran kimia, kita sisipkan masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakat terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahan kimia kemudian bersama-sama kita mencari solusinya sehingga kita bisa merubah persepsi masyarakat tentang kimia yang berbahaya menjadi kimia yang bermanfaat. Siswa SMA dapat kita jadikan pelopor misi ini yang nantinya akan ditularkan ke masyarakat sekitarnya. Selain itu, melalui pojok kependudukan akan kita pasang poster-poster atau pamfet-pamflet yang isinya mengajak kepada kita semua untuk menggunakan bahan kimia sesuai dengan fungsinya, tanpa ada penyalahgunaan fungsi yang akhirnya akan merugikan kita semua. Marilah kita bijak menggunakan bahan kimia. (*)

SERING sekali kita mendengar orang-orang terutama penjual makanan dan minuman yang menyatakan bahwa produknya tanpa bahan kimia atau bebas bahan kimia, juga tertulis diberbagai label produk bahwa semua bahan yang digunakan adalah bahan alami dan tidak mengandung bahan kimia. Sebegitu mengerikankah kimia? Kimia adalah sebuah kata yang begitu menakutkan bagi semua orang. Ketika siswa kelas X ditanya pandangannya tentang kimia pasti yang dibayangkan adalah bom, meledak dan berbahaya. Jadi bagi orang awam, kimia adalah sebuah kata yang begitu menakutkan. Tidak dipungkiri bahwa media massa juga berperan dalam pembentukan pemikiran ini, dimana dalam pemberitaan setiap ada kata bahan kimia selalu disandingkan dengan kata berbahaya. Oleh karena itu pembelajaran kimia diharapkan dapat mengubah persepsi dari yang menakutkan menjadi hal yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari dan menyenangkan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Larasati Dwi Nor Aini (2019), meneliti kandungan formalin yang terdapat pada ikan asin dan faktor yang mempengaruhi penggunaan formalin di wilayah Kabupaten Rembang didapatkan hasil bahwa berdasarkan hasil uji laboratorium didapatkan sampel yang mengandung formalin 85,3 persen dan yang tidak mengandung formalin 14,7 persen. Sampel yang tidak mengandung formalin berjenis ikan layur. Pengawetan makanan menggunakan formalin memang telah dilarang karena adanya potensi bahaya terhadap tubuh manusia. Formalin merupakan larutan tidak berwarna, berbau tajam, mengandung formaldehid sekitar 37 persen dalam air. Jika masuk kedalam makanan, formalin akan mengikat protein hingga meresap ke bagian dalam makanan. Dengan matinya protein maka makanan menjadi lebih keras dan tidak akan diserang bakteri pembusuk (Asrianti, 2016). Padahal kita tahu bahwa anjuran penggunaan formalin yang benar adalah sebagai pembunuh kuman, sehingga banyak dipakai dalam pembersih lantai, pakaian dan juga untuk pengawet mayat. Kasus pemakaian formalin pada ikan segar dan produk makanan lainnya menunjukkan kurangnya pengetahuan produsen serta minimnya sosialisasi kepada masyarakat mengenai manfaat dan bahaya bahan aditif terutama formalin. Formalin tidak diperkenankan ada dalam makanan maupun minuman karena efek dalam jangka pendek bila terhirup dapat menimbulkan iritasi, kerusakan jaringan dan luka pada saluran pernafasan, sedangkan bila terhirup dalam jangka waktu lama akan menimbulkan sakit kepala, kemandulan pada perempuan serta kanker pada hidung.

Baca Juga :  Bupati Jepara Andi Launching Gerakan “Yuk Sekolah Maneh”

Salah satu upaya mengatasi masalah kependudukan tersebut dilakukan melalui program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) yaitu sekolah yang mengintegrasikan pendidikan kependudukan dan keluarga berencana ke dalam beberapa mata pelajaran sebagai pengayaan materi pembelajaran. Di dalam sekolah berbasis SSK itu terdapat Pojok Kependudukan (Population Corner) yang didalamnya terdapat tabel, grafik, piramida penduduk, poster, buku-buku, pamflet, brosur-brosur, film-film program kependudukan, dan lain-lain. Pojok Kependudukan dapat menjadi sumber belajar peserta didik untuk dapat memahami berbagai masalah dan isu kependudukan.

Pada tanggal 20 Oktober 2020, telah terselenggara Kegiatan Fasilitasi Pembentukan SSK di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). SMA Negeri 1 Rembang adalah sekolah yang ditunjuk oleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Rembang sebagai Sekolah Siaga Kependudukan di Kabupaten Rembang dengan tujuan guru mampu mengintegrasikan isu kependudukan tersebut ke dalam pembelajaran sesuai dengan Kurikulum pendidikan yang berlaku. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa didesign sedemikian rupa sehingga dapat mendorong siswa untuk aktif mengobservasi, mencari data, mengolah data, dan menganalisis masalah-masalah yang terdapat dalam masyarakat. Dalam pembelajaran kimia, kita sisipkan masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakat terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahan kimia kemudian bersama-sama kita mencari solusinya sehingga kita bisa merubah persepsi masyarakat tentang kimia yang berbahaya menjadi kimia yang bermanfaat. Siswa SMA dapat kita jadikan pelopor misi ini yang nantinya akan ditularkan ke masyarakat sekitarnya. Selain itu, melalui pojok kependudukan akan kita pasang poster-poster atau pamfet-pamflet yang isinya mengajak kepada kita semua untuk menggunakan bahan kimia sesuai dengan fungsinya, tanpa ada penyalahgunaan fungsi yang akhirnya akan merugikan kita semua. Marilah kita bijak menggunakan bahan kimia. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/