alexametrics
24 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Inovasi Posyantek, Limbah Membawa Berkah

20 September lalu, Bupati Blora H. Arief Rohman, S.IP, M.Si mendampingi Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna Wadah Karya Lestari (WKL) Nglobo, Kecamatan Jiken, Blora, menerima penghargaan dari menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) sebagai juara II nasional Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna (Posyantek) Desa Berprestasi 2021 program Gebyar Teknologi Tepat Guna (TTG) XXII. Bersama Posyantek dari Kabupaten Sumedang sebagai juara I dan dari Kabupaten Riau menempati juara III.

Juara Desa Nglobo itu, berkat pengolahan limbah kayu jati dan limbah plastik, sumur angguk, pemandian air panas Plumpung, dan pemancingan Kedungdoso.

Posyantek adalah lembaga kemasyarakatan di kecamatan yang memberikan pelayanan teknis, informasi, dan orientasi berbagai jenis TTG. Posyantek hadir secara resmi di Indonesia sejak 1998, yaitu sejak dikeluarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 1998 tentang Operasionalisasi Pos Pelayanan Tehnologi Pedesaan (Posyantekdes).


Instruksi itu, diperkuat Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2010 tentang Pemberdayaan masyarakat melalui Pengelolaan Teknologi Tepat Guna. Dalam Permendagri ini, pula istilah Posyantekdes diubah menjadi Posyantek. Posyantek dibentuk untuk menjembatani masyarakat pengguna teknologi tepat guna dengan sumber TTG, memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan teknis, pelayanan informasi dan promosi berbagai  TTG kepada masyarakat, serta meningkatkan kerja sama dan koordinasi antarpemangku kepentingan dalam pemanfaatan TTG.

Posyantek mempunyai tugas memberikan pelayanan teknis, informasi, dan promosi jenis/spesifikasi TTG, memfasilitasi pemetaan TTG di masyarakat, menjembatani masyarakat sebagai pengguna TTG dengan sumber TTG, memotivasi penerapan TTG di masyarakat, memberikan layanan konsultasi, serta pendampingan kepada masyarakat dalam penerapan TTG.

Nglobo merupakan desa kecil yang terletak di ketinggian lebih dari 90 m di atas permukaan laut. Dikelilingi hutan jati. Tak salah jika yang dibidik Posyantek dengan pemanfaatan limbah kayu. Selain sebagai pemasok oksigen dan udara segar, hutan jati juga pencegah pemanasan global (global warming) dan salah satu komoditas andalan Blora, selain minyak dan gas.

Sumur angguk menjadi ikon pariwisata di desa ini. Saat Menteri PDTT Abdul Halim Iskandar mengunjungi Nglobo, Gus Menteri menyebut desa ini sebagai Texas-nya Indonesia (Jawa Pos, 18/9/2021). Tak selamanya tinggal di dalam hutan itu terisolasi dan tak bisa berinovasi.

Terbukti, masyarakat Nglobo mampu memanfaatkan hasil alam untuk berinovasi. Hutan Jati yang menyelimuti desa menjadi berkah bagi warganya. Kita tahu, jati merupakan pohon yang memiliki banyak manfaat. Seluruh bagian, mulai daun sampai akar dapat dimanfaatkan manusia.

Baca Juga :  Pop-Up Book Solusi Tingkatkan Minat Baca Siswa

Daun digunakan bungkus makanan. Ciri khas Blora adalah ketika makan nasi pecel atau sate ayam, nasinya tidak di taruh piring tetapi dibungkus dengan daun jati. Batangnya dapat digunakan papan, perabot rumah tangga, dan yang jelas digunakan untuk rumah tempat tinggal. Hampir seluruh rumah tempat tinggal warga Desa Nglobo berdindingkan kayu jati. Kulit pohonnya (masyarakat menyebut blabokan) digunakan dinding pengganti papan. Rantingnya (rencek) digunakan bahan bakar pengganti gas. Tunggak (bonggol) jati digunakan untuk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Berangkat dari potensi ini, Posyantek Desa Nglobo merintis kerajinan akar kayu jati. Apalagi kegiatan ini dilakukan sebagai salah solusi dalam percepatan pemulihan ekonomi desa pasca-Covid-19. Konsep yang diusung Posyantek WKL, pertama, pemanfaatan limbah kayu sebagai aksesori dengan pemberdayaan masyarakat.

Konsep ini sangat luar biasa karena mencerminkan paradigma baru pembangunan yang bersifat ”people centred, participatory, empowering, and sustainable”. Kalau kita mau meneliti lebih luas, konsep pemanfaatan limbah kayu ini tidak semata-mata memenuhi kebutuhan dasar (basic needs), tetapi ada manfaat hakiki, yaitu untuk penanggulangan kemiskinan masyarakat Nglobo yang bermata pencaharian hampir 80 persen sebagai petani. Sebelumnya, sebagian besar limbah kayu digunakan kayu bakar.

Saat ini, telah mampu bersaing di pasar domestic. Seperti dikirim ke Jepara, Solo, Jogja, Cirebon, dan Bali. Bahkan sudah ke pasar global, seperti Amerika Serikat, Italia, dan Jerman. Ke depan, pengurus Posyantek Nglobo agar lebih inovatif menyulap limbah kayu menjadi karya kerajinan dengan metode custom craft berbagai macam suvenir, seperti suvenir pernikahan dan aksesori hotel, kerajinan untuk mengisi resort, kitchen ware, serta suvenir unik lain.

Konsep kedua, mengangkat limbah plastik. Dalam satu tahun diperkirakan ada 500 juta sampai 1 miliar kantong plastik digunakan manusia. Artinya, per menit ada sekitar 1 juta kantong plastik. Ketergantungan kepada plastik mengakibatkan jumlah sampah ini besar. Plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable), sehingga untuk terurai butuh waktu 100-500 tahun. Parahnya lagi, plastik akan mencemari tanah, air, laut, bahkan udara.

Berangkat dari keprihatinan itu, Posyantek KWL menggagas limbah plastik dijadikan berbagai macam aksesori, sebagai dukungan Desa Nglobo menjadi desa wisata. (*)

20 September lalu, Bupati Blora H. Arief Rohman, S.IP, M.Si mendampingi Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna Wadah Karya Lestari (WKL) Nglobo, Kecamatan Jiken, Blora, menerima penghargaan dari menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) sebagai juara II nasional Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna (Posyantek) Desa Berprestasi 2021 program Gebyar Teknologi Tepat Guna (TTG) XXII. Bersama Posyantek dari Kabupaten Sumedang sebagai juara I dan dari Kabupaten Riau menempati juara III.

Juara Desa Nglobo itu, berkat pengolahan limbah kayu jati dan limbah plastik, sumur angguk, pemandian air panas Plumpung, dan pemancingan Kedungdoso.

Posyantek adalah lembaga kemasyarakatan di kecamatan yang memberikan pelayanan teknis, informasi, dan orientasi berbagai jenis TTG. Posyantek hadir secara resmi di Indonesia sejak 1998, yaitu sejak dikeluarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 1998 tentang Operasionalisasi Pos Pelayanan Tehnologi Pedesaan (Posyantekdes).

Instruksi itu, diperkuat Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2010 tentang Pemberdayaan masyarakat melalui Pengelolaan Teknologi Tepat Guna. Dalam Permendagri ini, pula istilah Posyantekdes diubah menjadi Posyantek. Posyantek dibentuk untuk menjembatani masyarakat pengguna teknologi tepat guna dengan sumber TTG, memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan teknis, pelayanan informasi dan promosi berbagai  TTG kepada masyarakat, serta meningkatkan kerja sama dan koordinasi antarpemangku kepentingan dalam pemanfaatan TTG.

Posyantek mempunyai tugas memberikan pelayanan teknis, informasi, dan promosi jenis/spesifikasi TTG, memfasilitasi pemetaan TTG di masyarakat, menjembatani masyarakat sebagai pengguna TTG dengan sumber TTG, memotivasi penerapan TTG di masyarakat, memberikan layanan konsultasi, serta pendampingan kepada masyarakat dalam penerapan TTG.

Nglobo merupakan desa kecil yang terletak di ketinggian lebih dari 90 m di atas permukaan laut. Dikelilingi hutan jati. Tak salah jika yang dibidik Posyantek dengan pemanfaatan limbah kayu. Selain sebagai pemasok oksigen dan udara segar, hutan jati juga pencegah pemanasan global (global warming) dan salah satu komoditas andalan Blora, selain minyak dan gas.

Sumur angguk menjadi ikon pariwisata di desa ini. Saat Menteri PDTT Abdul Halim Iskandar mengunjungi Nglobo, Gus Menteri menyebut desa ini sebagai Texas-nya Indonesia (Jawa Pos, 18/9/2021). Tak selamanya tinggal di dalam hutan itu terisolasi dan tak bisa berinovasi.

Terbukti, masyarakat Nglobo mampu memanfaatkan hasil alam untuk berinovasi. Hutan Jati yang menyelimuti desa menjadi berkah bagi warganya. Kita tahu, jati merupakan pohon yang memiliki banyak manfaat. Seluruh bagian, mulai daun sampai akar dapat dimanfaatkan manusia.

Baca Juga :  Kemewahan Tinggal Kenangan, Kini Hidup Sederhana

Daun digunakan bungkus makanan. Ciri khas Blora adalah ketika makan nasi pecel atau sate ayam, nasinya tidak di taruh piring tetapi dibungkus dengan daun jati. Batangnya dapat digunakan papan, perabot rumah tangga, dan yang jelas digunakan untuk rumah tempat tinggal. Hampir seluruh rumah tempat tinggal warga Desa Nglobo berdindingkan kayu jati. Kulit pohonnya (masyarakat menyebut blabokan) digunakan dinding pengganti papan. Rantingnya (rencek) digunakan bahan bakar pengganti gas. Tunggak (bonggol) jati digunakan untuk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Berangkat dari potensi ini, Posyantek Desa Nglobo merintis kerajinan akar kayu jati. Apalagi kegiatan ini dilakukan sebagai salah solusi dalam percepatan pemulihan ekonomi desa pasca-Covid-19. Konsep yang diusung Posyantek WKL, pertama, pemanfaatan limbah kayu sebagai aksesori dengan pemberdayaan masyarakat.

Konsep ini sangat luar biasa karena mencerminkan paradigma baru pembangunan yang bersifat ”people centred, participatory, empowering, and sustainable”. Kalau kita mau meneliti lebih luas, konsep pemanfaatan limbah kayu ini tidak semata-mata memenuhi kebutuhan dasar (basic needs), tetapi ada manfaat hakiki, yaitu untuk penanggulangan kemiskinan masyarakat Nglobo yang bermata pencaharian hampir 80 persen sebagai petani. Sebelumnya, sebagian besar limbah kayu digunakan kayu bakar.

Saat ini, telah mampu bersaing di pasar domestic. Seperti dikirim ke Jepara, Solo, Jogja, Cirebon, dan Bali. Bahkan sudah ke pasar global, seperti Amerika Serikat, Italia, dan Jerman. Ke depan, pengurus Posyantek Nglobo agar lebih inovatif menyulap limbah kayu menjadi karya kerajinan dengan metode custom craft berbagai macam suvenir, seperti suvenir pernikahan dan aksesori hotel, kerajinan untuk mengisi resort, kitchen ware, serta suvenir unik lain.

Konsep kedua, mengangkat limbah plastik. Dalam satu tahun diperkirakan ada 500 juta sampai 1 miliar kantong plastik digunakan manusia. Artinya, per menit ada sekitar 1 juta kantong plastik. Ketergantungan kepada plastik mengakibatkan jumlah sampah ini besar. Plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable), sehingga untuk terurai butuh waktu 100-500 tahun. Parahnya lagi, plastik akan mencemari tanah, air, laut, bahkan udara.

Berangkat dari keprihatinan itu, Posyantek KWL menggagas limbah plastik dijadikan berbagai macam aksesori, sebagai dukungan Desa Nglobo menjadi desa wisata. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/