alexametrics
26.6 C
Kudus
Wednesday, May 25, 2022

Terkikisnya Karakter Peserta Didik Dampak Pembelajaran Daring

PENDIDIKAN karakter adalah pendidikan yang dilakukan dengan pendekatan langsung kepada peserta didik. Untuk menanamkan nilai moral dan memberikan pelajaran kepada murid mengenai pengetahuan moral dalam upaya mencegah perilaku yang dilarang (John W.Santrock:2007).

Pendidikan karakter bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta didik yang memuat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai. Sumbernya dari agama, Pancasila, dan budaya.

Sebagai bangsa Indonesia, pembentukan karakter peserta didik harus mencakup sisi religius, kejujuran, sikap toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, kemandirian, sikap demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, sikap bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli terhadap lingkungan, peduli sosial, serta memiliki rasa tanggung jawab.


Seperti kita ketahui, proses globalisasi secara terus-menerus akan berdampak pada perubahan karakter masyarakat Indonesia. Kurangnya pendidikan karakter jelas akan menimbulkan krisis moral yang berakibat pada perilaku negatif, seperti pergaulan bebas, penyalahgunaan obat terlarang, pencurian, kekerasan terhadap anak, dan lain sebagainya. Sementara itu, pembentukan karakter peserta didik adalah tujuan utama dari pendidikan nasional yang terimplementasi dalam Kurikulum 2013.

Jika dilihat dari sudut pandang pendidikan karakter, pembelajaran daring yang saat ini dilakukan belum cukup efektif menyentuh sisi pendidikan karakter peserta didik. Sebab, pembelajaran daring tidak secara langsung dapat mengganti perubahan tingkah laku peserta didik.

Perlu disadari, ketidaksiapan guru dan peserta didik terhadap pembelajaran daring juga menjadi masalah. Perpindahan sistem belajar konvensional ke sistem daring yang mendadak, memaksa pola belajar serta kebiasaan peserta didik. Tetapi semua ini harus tetap dilaksanakan agar proses pembelajaran dapat berjalan lancar walaupun dalam kondisi pandemi Covid-19.

Baca Juga :  Menanamkan Karakter Peduli Sosial pada Siswa SD

Kalau kita perhatikan, banyak peserta didik yang mempunyai karakter belum sesuai dengan harapan para guru. Banyak guru yang mengeluh karena tugas-tugas yang terlambat dikerjakan, bahkan tidak dikerjakan sama sekali. Selain itu, banyak peserta didik yang hanya disibukkan bermain gadget, sehingga rasa sosialnya semakin berkurang.

Kadang untuk mengikuti belajar daring, sebagian peserta didik tega berbohong kepada orang tuanya minta uang dengan alasan membeli kuota internet, agar dapat ikut pembelajaran online. Namun uang tersebut digunakan untuk bermain game online. Artinya karakter disiplin, kejujuran, kemandirian, sikap menghargai, dan tanggung jawabnya sangat lemah.

Permasalahan tersebut telah dialami banyak guru dan sekolah. Tentu hal ini tidak dapat dibiarkan berlarut-larut supaya implementasi Kurikulum 2013 dalam penanaman moral dan nilai karakter tetap tercapai.

Adapun solusi untuk menangani permasalahan tersebut yang kami lakukan di SMP 2 Kudus adalah pemanggilan peserta didik dan wali murid secara periodik, kunjungan guru BK dan wali kelas ke rumah siswa bermasalah atau mengalami hambatan, serta menyampaikan pemberitahuan hingga peringatan secara berkala kepada peserta didik.

Kami juga membuka pelayanan konsultasi antara peserta didik dan orang tua serta pihak sekolah yang dapat dilakukan dengan cara datang langsung ke sekolah ataupun melalui telepon dan WA ke pihak guru. Kami juga tidak mengesampingkan peserta didik yang sudah tertib dalam pelaksanaan pembelajaran. Dengan selalu mengapresiasi kedisiplinan dan tanggung jawab mereka melalui ungkapan dalam setiap pembelajaran berlangsung.

Hal ini dimaksudkan agar pelaksanaan pembelajaran daring tetap terlaksana dengan baik. Penanaman karakter peserta didik juga dapat tercapai. (*)

PENDIDIKAN karakter adalah pendidikan yang dilakukan dengan pendekatan langsung kepada peserta didik. Untuk menanamkan nilai moral dan memberikan pelajaran kepada murid mengenai pengetahuan moral dalam upaya mencegah perilaku yang dilarang (John W.Santrock:2007).

Pendidikan karakter bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta didik yang memuat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai. Sumbernya dari agama, Pancasila, dan budaya.

Sebagai bangsa Indonesia, pembentukan karakter peserta didik harus mencakup sisi religius, kejujuran, sikap toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, kemandirian, sikap demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, sikap bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli terhadap lingkungan, peduli sosial, serta memiliki rasa tanggung jawab.

Seperti kita ketahui, proses globalisasi secara terus-menerus akan berdampak pada perubahan karakter masyarakat Indonesia. Kurangnya pendidikan karakter jelas akan menimbulkan krisis moral yang berakibat pada perilaku negatif, seperti pergaulan bebas, penyalahgunaan obat terlarang, pencurian, kekerasan terhadap anak, dan lain sebagainya. Sementara itu, pembentukan karakter peserta didik adalah tujuan utama dari pendidikan nasional yang terimplementasi dalam Kurikulum 2013.

Jika dilihat dari sudut pandang pendidikan karakter, pembelajaran daring yang saat ini dilakukan belum cukup efektif menyentuh sisi pendidikan karakter peserta didik. Sebab, pembelajaran daring tidak secara langsung dapat mengganti perubahan tingkah laku peserta didik.

Perlu disadari, ketidaksiapan guru dan peserta didik terhadap pembelajaran daring juga menjadi masalah. Perpindahan sistem belajar konvensional ke sistem daring yang mendadak, memaksa pola belajar serta kebiasaan peserta didik. Tetapi semua ini harus tetap dilaksanakan agar proses pembelajaran dapat berjalan lancar walaupun dalam kondisi pandemi Covid-19.

Baca Juga :  Generasi yang Harus Segera Bangkit

Kalau kita perhatikan, banyak peserta didik yang mempunyai karakter belum sesuai dengan harapan para guru. Banyak guru yang mengeluh karena tugas-tugas yang terlambat dikerjakan, bahkan tidak dikerjakan sama sekali. Selain itu, banyak peserta didik yang hanya disibukkan bermain gadget, sehingga rasa sosialnya semakin berkurang.

Kadang untuk mengikuti belajar daring, sebagian peserta didik tega berbohong kepada orang tuanya minta uang dengan alasan membeli kuota internet, agar dapat ikut pembelajaran online. Namun uang tersebut digunakan untuk bermain game online. Artinya karakter disiplin, kejujuran, kemandirian, sikap menghargai, dan tanggung jawabnya sangat lemah.

Permasalahan tersebut telah dialami banyak guru dan sekolah. Tentu hal ini tidak dapat dibiarkan berlarut-larut supaya implementasi Kurikulum 2013 dalam penanaman moral dan nilai karakter tetap tercapai.

Adapun solusi untuk menangani permasalahan tersebut yang kami lakukan di SMP 2 Kudus adalah pemanggilan peserta didik dan wali murid secara periodik, kunjungan guru BK dan wali kelas ke rumah siswa bermasalah atau mengalami hambatan, serta menyampaikan pemberitahuan hingga peringatan secara berkala kepada peserta didik.

Kami juga membuka pelayanan konsultasi antara peserta didik dan orang tua serta pihak sekolah yang dapat dilakukan dengan cara datang langsung ke sekolah ataupun melalui telepon dan WA ke pihak guru. Kami juga tidak mengesampingkan peserta didik yang sudah tertib dalam pelaksanaan pembelajaran. Dengan selalu mengapresiasi kedisiplinan dan tanggung jawab mereka melalui ungkapan dalam setiap pembelajaran berlangsung.

Hal ini dimaksudkan agar pelaksanaan pembelajaran daring tetap terlaksana dengan baik. Penanaman karakter peserta didik juga dapat tercapai. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/