alexametrics
30.2 C
Kudus
Sunday, May 15, 2022

Senyum, Salam, dan Sapa adalah Jati Diri Kita

RAMAH tamah menjadi kepribadian khas bangsa Indonesia dikenal hingga dunia. Keramahan itu dianggap sebagai cerminan dan menjadi contoh bangsa lain. Bentuk keramahan itu kerap terwujud dalam budaya salam, sapa dan senyum yang ada di setiap suku di Indonesia.

Penganut agama Islam meyakini senyuman yang tulus pada orang lain adalah ibadah. “Senyummu di hadapan saudaramu adalah shodaqoh bagimu.” (HR. Tirmidzi). Maka bukan hal yang merugikan ketika membalas senyuman orang lain. Dan menurut Mother Teresa “We shall never know all the good that a simple smile can do.”

Salam menurut KBBI adalah pernyataan hormat. Dengan kata lain salam merupakan suatu tindakan untuk memberikan rasa damai atau menyatakan hormat kepada orang lain. Banyak kalimat salam yang dimiliki bangsa Indonesia, sesuai suku ataupun agama kepercayaan yang dianut. Dalam kepercayaan agama, salam juga merupakan sebuah doa.


Dalam KBBI sapa berarti perkataan untuk menegur (mengajak bercakap-cakap dan sebagainya). Sapaan adalah bentuk komunikasi awal kita dengan orang lain. Lebih lengkap ketika kita mengucapkan salam, sapaan dan sambil tersenyum, hal yang nampaknya sepele, namun mempunyai dampak yang luar biasa. Perbuatan tersebut mampu menyembuhkan kekesalan, kegundahan, dan bahkan kesedihan.

Namun semenjak pandemi menerjang Indonesia dan dunia pada umumnya, masyarakat diharuskan melakukan kebiasaan baru seperti tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.01.07/Menkes/382/2020 tentang Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat di Tempat Dan Fasilitas Umum Dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Covid-19. Untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 (risiko tertular dan menularkan) harus dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan, antara lain memakai masker, menjaga jarak, tidak berkerumun, mencuci tangan dan mengurangi mobilisasi.

Masker yang dipakai sebagai perlindungan diri seolah menutup senyuman di bibir kita, membungkam sapa dan meniadakan salam. Fenomena ini menjadi kegelisahan tersendiri bagi pendidik setelah 3 semester siswa mengikuti pembelajaran jarak jauh tanpa interaksi tatap muka. Tidak dipungkiri, jeda waktu tanpa interaksi langsung tidak hanya mengurangi kedekatan guru dan murid tetapi juga memudarkan karakter ramah tamah dan sopan santun siswa.

Baca Juga :  Melatih Siswa Menyelesaikan Masalah serta Mengambil Keputusan

Pembelajaran tatap muka terbatas yang dilaksanakan sejak September 2021 nyatanya jelas memperlihatkan memudarnya budaya salam, sapa dan senyum pada siswa. Dengan alasan tertutup masker, siswa jarang menyunggingkan senyum pada sesama teman, bahkan pada guru. Mereka menganggap senyum pun tak akan nampak, padahal senyum yang tulus akan terlihat jelas melalui ekspresi mata.

Sulitnya mengenali wajah seseorang menjadi alasan tidak bertegur sapa dengan sesama siswa karena khawatir salah orang. Beberapa siswa bahkan enggan menyapa guru, apa lagi wajah mereka yang sulit dikenali membuat mereka merasa aman. Kesibukan mengawasi penerapan prokes seperti pengecekan suhu, penggunaan masker dan cuci tangan sebelum masuk lingkungan sekolah juga sering membuat bapak ibu guru lupa menyapa siswanya.

Penerapan prokes mestinya tidak menjadi sebab pudarnya budaya ramah tamah salam, sapa, dan senyum di lingkungan sekolah. Perlu ada upaya mengembalikan budaya salam, sapa dan senyum. Memberi salam dan menyapa sambil mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada sebagi pengganti jabat tangan. Dilengkapi senyuman dibalik masker, karena mata yang tersenyum tulus akan memancarkan keramahan.

Upaya ini tentunya harus dilakukan serentak seluruh warga sekolah. Kebijakan sekolah secara resmi disosialisasikan pada seluruh warga sekolah. Poster dapat ditempel di area sekolah yang mudah terlihat. Dengan keteladanan bapak ibu guru untuk mengajak siswa saling memberi salam, menyapa dan tersenyum ketika berpapasan atau ketika pembelajaran di kelas.

Pandemi yang terjadi tidak boleh melunturkan jati diri bangsa kita sebagai bangsa yang ramah. Masker bukan tabir untuk menghalangi sapa, salam dan senyum diantara kita. (*)

RAMAH tamah menjadi kepribadian khas bangsa Indonesia dikenal hingga dunia. Keramahan itu dianggap sebagai cerminan dan menjadi contoh bangsa lain. Bentuk keramahan itu kerap terwujud dalam budaya salam, sapa dan senyum yang ada di setiap suku di Indonesia.

Penganut agama Islam meyakini senyuman yang tulus pada orang lain adalah ibadah. “Senyummu di hadapan saudaramu adalah shodaqoh bagimu.” (HR. Tirmidzi). Maka bukan hal yang merugikan ketika membalas senyuman orang lain. Dan menurut Mother Teresa “We shall never know all the good that a simple smile can do.”

Salam menurut KBBI adalah pernyataan hormat. Dengan kata lain salam merupakan suatu tindakan untuk memberikan rasa damai atau menyatakan hormat kepada orang lain. Banyak kalimat salam yang dimiliki bangsa Indonesia, sesuai suku ataupun agama kepercayaan yang dianut. Dalam kepercayaan agama, salam juga merupakan sebuah doa.

Dalam KBBI sapa berarti perkataan untuk menegur (mengajak bercakap-cakap dan sebagainya). Sapaan adalah bentuk komunikasi awal kita dengan orang lain. Lebih lengkap ketika kita mengucapkan salam, sapaan dan sambil tersenyum, hal yang nampaknya sepele, namun mempunyai dampak yang luar biasa. Perbuatan tersebut mampu menyembuhkan kekesalan, kegundahan, dan bahkan kesedihan.

Namun semenjak pandemi menerjang Indonesia dan dunia pada umumnya, masyarakat diharuskan melakukan kebiasaan baru seperti tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.01.07/Menkes/382/2020 tentang Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat di Tempat Dan Fasilitas Umum Dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Covid-19. Untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 (risiko tertular dan menularkan) harus dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan, antara lain memakai masker, menjaga jarak, tidak berkerumun, mencuci tangan dan mengurangi mobilisasi.

Masker yang dipakai sebagai perlindungan diri seolah menutup senyuman di bibir kita, membungkam sapa dan meniadakan salam. Fenomena ini menjadi kegelisahan tersendiri bagi pendidik setelah 3 semester siswa mengikuti pembelajaran jarak jauh tanpa interaksi tatap muka. Tidak dipungkiri, jeda waktu tanpa interaksi langsung tidak hanya mengurangi kedekatan guru dan murid tetapi juga memudarkan karakter ramah tamah dan sopan santun siswa.

Baca Juga :  Disiplin Awal Pembentukan Karakter Siswa

Pembelajaran tatap muka terbatas yang dilaksanakan sejak September 2021 nyatanya jelas memperlihatkan memudarnya budaya salam, sapa dan senyum pada siswa. Dengan alasan tertutup masker, siswa jarang menyunggingkan senyum pada sesama teman, bahkan pada guru. Mereka menganggap senyum pun tak akan nampak, padahal senyum yang tulus akan terlihat jelas melalui ekspresi mata.

Sulitnya mengenali wajah seseorang menjadi alasan tidak bertegur sapa dengan sesama siswa karena khawatir salah orang. Beberapa siswa bahkan enggan menyapa guru, apa lagi wajah mereka yang sulit dikenali membuat mereka merasa aman. Kesibukan mengawasi penerapan prokes seperti pengecekan suhu, penggunaan masker dan cuci tangan sebelum masuk lingkungan sekolah juga sering membuat bapak ibu guru lupa menyapa siswanya.

Penerapan prokes mestinya tidak menjadi sebab pudarnya budaya ramah tamah salam, sapa, dan senyum di lingkungan sekolah. Perlu ada upaya mengembalikan budaya salam, sapa dan senyum. Memberi salam dan menyapa sambil mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada sebagi pengganti jabat tangan. Dilengkapi senyuman dibalik masker, karena mata yang tersenyum tulus akan memancarkan keramahan.

Upaya ini tentunya harus dilakukan serentak seluruh warga sekolah. Kebijakan sekolah secara resmi disosialisasikan pada seluruh warga sekolah. Poster dapat ditempel di area sekolah yang mudah terlihat. Dengan keteladanan bapak ibu guru untuk mengajak siswa saling memberi salam, menyapa dan tersenyum ketika berpapasan atau ketika pembelajaran di kelas.

Pandemi yang terjadi tidak boleh melunturkan jati diri bangsa kita sebagai bangsa yang ramah. Masker bukan tabir untuk menghalangi sapa, salam dan senyum diantara kita. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/