alexametrics
29.2 C
Kudus
Monday, May 23, 2022

PBL Tingkatkan Keterampilan Proses Belajar IPA

PEMBELAJARAN tatap muka (PTM) benar-benar membawa angin segar di dunia pendidikan. Terutama pada tingkat SMP. Sebab, semua siswa dapat masuk sekolah kembali secara normal, meski dengan tetap mematuhi protol kesehatan (prokes) yang sangat ketat. Imbauan mematuhi 5M (mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas) tertulis pada baner di sejumlah sudut.

Masa pandemi memang membawa perubahan yang sangat besar di setiap sendi kehidupan masyarakat. Khususnya dunia pendidikan. Bagaimana tidak, pembelajaran yang selama ini dilakukan dengan tatap muka setiap hari, tiba-tiba berubah dengan moda dalam jaringan (daring) atau online. Tentu saja membutuhkan keterampilan maupun pengetahuan dari berbagai pihak.

Sekolah segera meminta para guru untuk menyiapkan metode pembelajaran daring yang dapat dengan mudah dimengerti siswa. Misalnya dengan aplikasi WA yang sangat familiar dengan masyarakat. Ada juga yang menggunakan Google Classroom, Google Meet, Microsoft Team, dan lain-lain. Semuanya berusaha memberikan layanan kepada siswa, agar para siswa tetap belajar di masa yang serba terbatas.


Dengan mulai diberlakukannya PTM terbatas sejak Oktober, mulailah dunia pendidikan menggelar PTM dengan menghadirkan siswa ke sekolah dengan bergantian atau sesi. Pembelajaran hanya dilakukan dua jam di sekolah tanpa jeda istirahat.

Di sekolah guru mulai mengajar dengan menerapkan metode dan model-model pembelajaran yang menarik dan merangsang siswa untuk belajar secara aktif. Dengan model pembelajaran yang diterapkan dalam pembelajaran di sekolah secara langsung, siswa diajak kembali melakukan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang selama ini hanya dilakukan dengan daring seperti dengan video. Meski video pembelajaran itu lebih baik, tetapi ternyata tidak menjamin siswa lebih faham. Di lapangan ternyata penjelasan guru secara langsung lebih mudah dipahami siswa.

Baca Juga :  Program Sekolah Penggerak

Salah satu model pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan proses belajar IPA adalah model PBL (problem based learning) atau pembelajaran berbasis masalah (PBM). Model pembelajaran ini, banyak menumbuhkembangkan kreativitas belajar siswa, baik secara individu maupun kelompok. Hampir setiap langkah menuntut keaktifan pembelajar. Guru lebih berperan sebagai stimuli, membimbing kegiatan pembelajar dan menentukan arah apa yang harus dilakukan pembelajar (Mustaji, 2005:73).

Kelebihan penggunaan model pembelajaran ini, pembelajaran menjadi lebih bermakna. Salah satu materi yang dapat diajarkan dengan model pembelajaran ini, materi kelas VII SMP semester gasal adalah unsur, senyawa, dan campuran.

Pada sub pokok bahasan pemisahan campuran ini, siswa diajarkan dengan model PBL dengan metode pemisahan campuran melalui praktik penyaringan air. Terbukti, model pembelajaran ini dapat meningkatkan keaktifan maupun keterampilan proses belajar IPA. Antara lain, siswa menjadi aktif bertanya, berdiskusi membahas permasalahan yang sedang dipelajari, serta menanggapi pendapat temannya dari kelompok lain saat kelompok lain presentasi. Selain itu, siswa juga terampil melakukan praktikum atau percobaan, menyusun kesimpulan, serta dapat membuat laporan kegiatan yang telah mereka praktikkan. (*)

PEMBELAJARAN tatap muka (PTM) benar-benar membawa angin segar di dunia pendidikan. Terutama pada tingkat SMP. Sebab, semua siswa dapat masuk sekolah kembali secara normal, meski dengan tetap mematuhi protol kesehatan (prokes) yang sangat ketat. Imbauan mematuhi 5M (mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas) tertulis pada baner di sejumlah sudut.

Masa pandemi memang membawa perubahan yang sangat besar di setiap sendi kehidupan masyarakat. Khususnya dunia pendidikan. Bagaimana tidak, pembelajaran yang selama ini dilakukan dengan tatap muka setiap hari, tiba-tiba berubah dengan moda dalam jaringan (daring) atau online. Tentu saja membutuhkan keterampilan maupun pengetahuan dari berbagai pihak.

Sekolah segera meminta para guru untuk menyiapkan metode pembelajaran daring yang dapat dengan mudah dimengerti siswa. Misalnya dengan aplikasi WA yang sangat familiar dengan masyarakat. Ada juga yang menggunakan Google Classroom, Google Meet, Microsoft Team, dan lain-lain. Semuanya berusaha memberikan layanan kepada siswa, agar para siswa tetap belajar di masa yang serba terbatas.

Dengan mulai diberlakukannya PTM terbatas sejak Oktober, mulailah dunia pendidikan menggelar PTM dengan menghadirkan siswa ke sekolah dengan bergantian atau sesi. Pembelajaran hanya dilakukan dua jam di sekolah tanpa jeda istirahat.

Di sekolah guru mulai mengajar dengan menerapkan metode dan model-model pembelajaran yang menarik dan merangsang siswa untuk belajar secara aktif. Dengan model pembelajaran yang diterapkan dalam pembelajaran di sekolah secara langsung, siswa diajak kembali melakukan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang selama ini hanya dilakukan dengan daring seperti dengan video. Meski video pembelajaran itu lebih baik, tetapi ternyata tidak menjamin siswa lebih faham. Di lapangan ternyata penjelasan guru secara langsung lebih mudah dipahami siswa.

Baca Juga :  Guru Dituntut Lebih Kreatif dan Inovatif

Salah satu model pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan proses belajar IPA adalah model PBL (problem based learning) atau pembelajaran berbasis masalah (PBM). Model pembelajaran ini, banyak menumbuhkembangkan kreativitas belajar siswa, baik secara individu maupun kelompok. Hampir setiap langkah menuntut keaktifan pembelajar. Guru lebih berperan sebagai stimuli, membimbing kegiatan pembelajar dan menentukan arah apa yang harus dilakukan pembelajar (Mustaji, 2005:73).

Kelebihan penggunaan model pembelajaran ini, pembelajaran menjadi lebih bermakna. Salah satu materi yang dapat diajarkan dengan model pembelajaran ini, materi kelas VII SMP semester gasal adalah unsur, senyawa, dan campuran.

Pada sub pokok bahasan pemisahan campuran ini, siswa diajarkan dengan model PBL dengan metode pemisahan campuran melalui praktik penyaringan air. Terbukti, model pembelajaran ini dapat meningkatkan keaktifan maupun keterampilan proses belajar IPA. Antara lain, siswa menjadi aktif bertanya, berdiskusi membahas permasalahan yang sedang dipelajari, serta menanggapi pendapat temannya dari kelompok lain saat kelompok lain presentasi. Selain itu, siswa juga terampil melakukan praktikum atau percobaan, menyusun kesimpulan, serta dapat membuat laporan kegiatan yang telah mereka praktikkan. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/