alexametrics
29.4 C
Kudus
Friday, May 13, 2022

Menumbuhkan Karakter Positif Siswa

PENDIDIKAN merupakan suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar serta proses pembelajaran, agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Agar memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, komunikasi, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Fungsi dan tujuan pembangunan nasional terdapat dalam Pasal 3 Undang-Undang No 20 Tahun 2003 berbunyi: Pendidikan nasional bertujuan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri ,dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Karakter merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang yang lain. Karakter disebut juga watak atau tabiat. Kurikulum 2013 memberikan porsi pendidikan karakter lebih besar dibanding keterampilan dan pengetahuan pada jenjang pendidikan dasar.


Pendidikan karakter harus terus ditumbuhkan. Pendidikan karakter akan terus digunakan sampai kapanpun. Materi pembelajaran dipastikan bisa berubah sepanjang keilmuan terkini. Sedangkan pendidikan karakter yang di dalamnya ada kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan lain-lain akan selalu utuh. Berakhlak mulia itu hal yang sangat penting.

Namun, kenyataan yang terjadi di lapangan menunjukkan pendidikan karakter belum mampu diintegrasikan dalam pembelajaran di kelas. Juga belum menjadi pembiasaan di keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Pendidikan karakter tidak lebih penting dibanding dengan pengetahuan dan keterampilan. Pendidikan karakter tidak menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kenaikan kelas, kelulusan siswa, dan hal lain di luar dunia pendidikan.

Pada usia dini, karakter anak terbentuk dari kepercayaan, nilai, kebiasaan baik dan buruk, reflek, intuisi, serta persepsi. Dalam hal ini anak membutuhkan rasa aman, cinta, dan penerimaan orang tua.

Orang tua tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik yang cukup seperti makan, minum, dan asupan gizi, tetapi juga kebutuhan yang berkaitan dengan emosional dan sosial. Hubungan yang hangat antara orang tua dan lingkungan terhadap anak menentukan motivasi anak untuk belajar, serta menjadi fondasi utama membangun karakter anak.

Baca Juga :  Guruku adalah Orang Tuaku di Sekolah

Selain membekali siswa dengan kemampuan akademis, pendidikan karakter dinilai menjadi poin penting menumbuhkan generasi-generasi dengan karakter positif. Agar anak tumbuh sesuai dengan karakter yang diharapkan, orang tua dan guru perlu perlu memiliki visi dan misi yang sejalan.

Agar visi dan misi sejalan, sekolah dan orang tua harus dapat melakukan kerja sama. Orang tua mengajarkan nilai-nilai dan karakter yang baik selama anak di rumah. Sedangkan guru mengajarkan nilai-nilai dan karakter yang baik di sekolah. Guru dan orang tua melakukan pertemuan di awal tahun ajaran atau bahkan sebelum tahun ajaran berlangsung.

Dalam pertemuan itu, ditanamkan kesadaran pentingnya peran guru dan orang tua dalam menumbuhkan karakter anak. Orang tua perlu memahami bahwa karakter anak terbentuk melalui apa yang dilihat, didengar, dan dilakukan secara berulang-ulang.

Terutama di rumah anak menghabiskan banyak waktunya. Untuk memperkuat pemahaman orang tua, guru bisa memaparkan beberapa penelitian tentang pengaruh kuat orang tua dalam menumbuhkan karakter anak.

Berikut strategi menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter dalam pembelajaran di kelas, meliputi, pertama, memberikan teladan yang baik dari orang tua dan guru. Sebab, orang tua dan guru menjadi contoh utama (role model) bagi anak, karena bertemu setiap hari.

Kedua, mengajak anak kecil/usia SD untuk beraktivitas bersama orang tuanya. Ketiga, memberikan penilaian terhadap apa yang anak lakukan. Tujuannya untuk mengajarkan anak mengenai perasaan. Keempat, menanamkan nilai-nilai kebaikan di tengah keluarga. Kelima, mengenalkan tata tertib sekolah dan mematuhi.

Jika kegiatan pembelajaran di kelas kita menggunakan strategi-strategi tersebut, tanpa disadari, hal tersebut dapat meningkatkan prestasi akademik mereka dan menjadikan mereka generasi berkarakter yang nantinya akan tumbuh menjadi penerus bangsa. Untuk itu, harus ditanamkan sikap religius, nasionalisme, gotong royong, integritas, dan sikap mandiri. (*)

PENDIDIKAN merupakan suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar serta proses pembelajaran, agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Agar memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, komunikasi, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Fungsi dan tujuan pembangunan nasional terdapat dalam Pasal 3 Undang-Undang No 20 Tahun 2003 berbunyi: Pendidikan nasional bertujuan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri ,dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Karakter merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang yang lain. Karakter disebut juga watak atau tabiat. Kurikulum 2013 memberikan porsi pendidikan karakter lebih besar dibanding keterampilan dan pengetahuan pada jenjang pendidikan dasar.

Pendidikan karakter harus terus ditumbuhkan. Pendidikan karakter akan terus digunakan sampai kapanpun. Materi pembelajaran dipastikan bisa berubah sepanjang keilmuan terkini. Sedangkan pendidikan karakter yang di dalamnya ada kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan lain-lain akan selalu utuh. Berakhlak mulia itu hal yang sangat penting.

Namun, kenyataan yang terjadi di lapangan menunjukkan pendidikan karakter belum mampu diintegrasikan dalam pembelajaran di kelas. Juga belum menjadi pembiasaan di keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Pendidikan karakter tidak lebih penting dibanding dengan pengetahuan dan keterampilan. Pendidikan karakter tidak menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kenaikan kelas, kelulusan siswa, dan hal lain di luar dunia pendidikan.

Pada usia dini, karakter anak terbentuk dari kepercayaan, nilai, kebiasaan baik dan buruk, reflek, intuisi, serta persepsi. Dalam hal ini anak membutuhkan rasa aman, cinta, dan penerimaan orang tua.

Orang tua tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik yang cukup seperti makan, minum, dan asupan gizi, tetapi juga kebutuhan yang berkaitan dengan emosional dan sosial. Hubungan yang hangat antara orang tua dan lingkungan terhadap anak menentukan motivasi anak untuk belajar, serta menjadi fondasi utama membangun karakter anak.

Baca Juga :  Inovasi Pembelajaran PAI pada Masa Pandemi Covid-19

Selain membekali siswa dengan kemampuan akademis, pendidikan karakter dinilai menjadi poin penting menumbuhkan generasi-generasi dengan karakter positif. Agar anak tumbuh sesuai dengan karakter yang diharapkan, orang tua dan guru perlu perlu memiliki visi dan misi yang sejalan.

Agar visi dan misi sejalan, sekolah dan orang tua harus dapat melakukan kerja sama. Orang tua mengajarkan nilai-nilai dan karakter yang baik selama anak di rumah. Sedangkan guru mengajarkan nilai-nilai dan karakter yang baik di sekolah. Guru dan orang tua melakukan pertemuan di awal tahun ajaran atau bahkan sebelum tahun ajaran berlangsung.

Dalam pertemuan itu, ditanamkan kesadaran pentingnya peran guru dan orang tua dalam menumbuhkan karakter anak. Orang tua perlu memahami bahwa karakter anak terbentuk melalui apa yang dilihat, didengar, dan dilakukan secara berulang-ulang.

Terutama di rumah anak menghabiskan banyak waktunya. Untuk memperkuat pemahaman orang tua, guru bisa memaparkan beberapa penelitian tentang pengaruh kuat orang tua dalam menumbuhkan karakter anak.

Berikut strategi menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter dalam pembelajaran di kelas, meliputi, pertama, memberikan teladan yang baik dari orang tua dan guru. Sebab, orang tua dan guru menjadi contoh utama (role model) bagi anak, karena bertemu setiap hari.

Kedua, mengajak anak kecil/usia SD untuk beraktivitas bersama orang tuanya. Ketiga, memberikan penilaian terhadap apa yang anak lakukan. Tujuannya untuk mengajarkan anak mengenai perasaan. Keempat, menanamkan nilai-nilai kebaikan di tengah keluarga. Kelima, mengenalkan tata tertib sekolah dan mematuhi.

Jika kegiatan pembelajaran di kelas kita menggunakan strategi-strategi tersebut, tanpa disadari, hal tersebut dapat meningkatkan prestasi akademik mereka dan menjadikan mereka generasi berkarakter yang nantinya akan tumbuh menjadi penerus bangsa. Untuk itu, harus ditanamkan sikap religius, nasionalisme, gotong royong, integritas, dan sikap mandiri. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/