alexametrics
24.2 C
Kudus
Saturday, May 21, 2022

Euforia PTM Terbatas: Kewajiban atau Kejujuran?

SEKOLAH yang menjadi tempat dasar dalam berinteraksi antara guru dengan siswa, seolah-olah sirna. Interaksi daring tidak terasa, hanya seperti bayangan semu. Pembelajaran daring memicu adanya suatu permasalahan yang meresahkan di lingkup pendidikan. Pasalnya, siswa kehilangan momen interaksi dengan guru secara langsung dengan begitu para siswa merasa kehilangan euforia dalam belajar. Pembelajaran daring menyebabkan kurangnya pengawasan dari guru secara langsung. Maka rasa tanggung jawab siswa untuk belajar akan luntur sendirinya. Selain itu, tekanan dari orang tua selama pembelajaran di rumah mampu menumbuhkan beban psikis anak.

Adanya suatu permasalahan tersebut, apakah pembelajaran tatap muka harus dilarang seterusnya? Tentu ada suatu tantangan yang akan memicu diri apabila pembelajaran tatap muka (PTM) diberlakukan di masa pandemi. Capaian pembelajaran atau kerugian belajar selama pembelajaran daring telah melandai bahkan beban belajar anak telah menyerang psikologisnya. Hal paling dilematis juga dirasakan oleh orang tua, mereka harus menyaksikan bagaimana sulitnya bagi seorang anak harus sekolah daring, bukan hanya masalah fasilitas tetapi efektivitas siswa dalam menyerap materi pelajaran. Melihat berbagai dampak yang dirasakan oleh semua pihak di dunia pendidikan, pemerintah mencanangkan diberlakukannya PTM kembali untuk menghindari dampak negatif pembelajaran daring terhadap anak-anak. Tetapi tidak semua daerah dapat melakukan PTM dengan segera, karena yang dapat memberlakukan hanya daerah yang berada di PPKM level 1,2, dan 3. Semua pihak yang berada di lingkup sekolah khusunya tenaga pendidik sudah melakukan vaksinasi, sarana dan prasarana penunjang protokol kesehatan, tingkat kasus postif, izin orang tua. Sedangkan sekolah yang belum memenuhi syarat tersebut dilarang mencuri start untuk PTM terbatas karena keselamatan siswa, guru, dan lingkungan sekolah menjadi hal utama.

Salah satu sekolah yang sudah melaksanakan PTM terbatas adalah SMA Negeri 2 Blora. Meski menuai pro-kontra baik kalangan orang tua maupun satuan tenaga pendidikan tetapi PTM terbatas harus tetap dilaksanakan untuk melahirkan warga bangsa yang berpendidikan dengan mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal. Menurut laman resmi covid19.go.id. Ada tiga hal yang mendasari diberlakukannya PTM. Pertama, untuk menghindari ancaman putus sekolah. Kedua, untuk menghindari penurunan capaian belajar siswa dan ketiga untuk mengurangi risiko psikososial atau kondisi individu yang mencakup aspek psikis, dan sosial pada siswa.


Sisi pro adanya PTM, dilihat dari sambutan baik oleh siswa yang sudah jenuh akan pembelajaran daring. Mereka sudah tidak sabar untuk berinteraksi kembali dengan teman-temannya. Kejenuhan siswa akan belajar secara daring memicu merosotnya semangat siswa untuk menyerap materi pelajaran sehingga membuat prestasi siswa menurun. PTM terbatas juga dapat meminimalisasi kesenjangan digital antara satuan pendidikan yang berada di wilayah terjangkau internet dengan baik dan yang tidak. Dengan begitu, siswa yang berada di wilayah sulit jangkauan internet bisa tetap mendapatkan pembelajaran yang optimal. PTM terbatas menjadi penting untuk menghindari learning loss. Bahkan, PTM juga disambut baik oleh orang tua siswa, mayoritas orang tua mengeluh anaknya yang terlalu asyik di rumah sehingga kehilangan kesempatan belajar. Jangan sampai kemalasan anak bersekolah membuat dia lupa akan kewajibannya untuk belajar. Orang tua siswa juga bisa merasakan dampak dari pembelajaran jarak jauh anaknya, orang tua bisa stres yang menyebabkan kekerasan pada anak. Oleh karena itu mayoritas orang tua mengizinkan dan menanti kabar baik pemerintah untuk memberlakukan pembelajaran tatap muka kembali meksipun terbatas dan harus dengan prokes ketat.

Baca Juga :  Latihan Menari Salah Satunya Bikin Cerdas

Di sisi lain tidak sedikit juga pihak yang was-was dengan sekolah tatap muka ini. Terlebih virus ini masih ada dan belum adanya vaksinasi untuk anak di bawah 12 tahun. Orang tua khawatir akan kesehatan anaknya. Para orang tua juga khawatir, anak-anak mereka belum mampu menjaga prokes dan kebersihan sekolah belum terjamin.

Pemberlakuan PTM juga diragukan kehadirannya, apabila sarana dan prasarana di sekolah tidak menunjang seperti tidak adanya tempat untuk cuci tangan, tidak menerapkan pedoman kesehatan jangka panjang termasuk memastikan fasilitas air, sanitasi, dan kebersihan yang layak bagi siswa. Masih banyak siswa yang belum terbiasa menggunakan masker dalam waktu lama karena merasa pengap atau tidak nyaman sehingga melepaskan maskernya. Adanya peristiwa tersebut, tidak menjamin guru mampu mengawasi dan mengatur siswa setiap saat. Pasti guru akan kuwalahan.

Terlepas dari pro dan kontra yang ada, kerja sama dan komunikasi yang baik antara siswa, guru, dan orang tua siswa dapat menciptakan suatu keberhasilan dengan adanya pemberlakuan PTM terbatas. Hal tersebut juga menjadi polemik untuk kita semua, terutama para pemangku kebijakan. Kerja sama dan komunikasi yang baik antarsemua pihak menjadi kunci agar pembelajaran tatap muka terbatas dapat berjalan dengan efektif sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran dan meningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Ada atau tidaknya pembelajaran tatap muka terbatas bukan menjadi suatu permasalahan yang harus didebatkan. Hal terpenting adalah menjaga prokes, menciptakan lingkungan sehat dan terus menjaga pola hidup sehat dari diri sendiri. (*)

SEKOLAH yang menjadi tempat dasar dalam berinteraksi antara guru dengan siswa, seolah-olah sirna. Interaksi daring tidak terasa, hanya seperti bayangan semu. Pembelajaran daring memicu adanya suatu permasalahan yang meresahkan di lingkup pendidikan. Pasalnya, siswa kehilangan momen interaksi dengan guru secara langsung dengan begitu para siswa merasa kehilangan euforia dalam belajar. Pembelajaran daring menyebabkan kurangnya pengawasan dari guru secara langsung. Maka rasa tanggung jawab siswa untuk belajar akan luntur sendirinya. Selain itu, tekanan dari orang tua selama pembelajaran di rumah mampu menumbuhkan beban psikis anak.

Adanya suatu permasalahan tersebut, apakah pembelajaran tatap muka harus dilarang seterusnya? Tentu ada suatu tantangan yang akan memicu diri apabila pembelajaran tatap muka (PTM) diberlakukan di masa pandemi. Capaian pembelajaran atau kerugian belajar selama pembelajaran daring telah melandai bahkan beban belajar anak telah menyerang psikologisnya. Hal paling dilematis juga dirasakan oleh orang tua, mereka harus menyaksikan bagaimana sulitnya bagi seorang anak harus sekolah daring, bukan hanya masalah fasilitas tetapi efektivitas siswa dalam menyerap materi pelajaran. Melihat berbagai dampak yang dirasakan oleh semua pihak di dunia pendidikan, pemerintah mencanangkan diberlakukannya PTM kembali untuk menghindari dampak negatif pembelajaran daring terhadap anak-anak. Tetapi tidak semua daerah dapat melakukan PTM dengan segera, karena yang dapat memberlakukan hanya daerah yang berada di PPKM level 1,2, dan 3. Semua pihak yang berada di lingkup sekolah khusunya tenaga pendidik sudah melakukan vaksinasi, sarana dan prasarana penunjang protokol kesehatan, tingkat kasus postif, izin orang tua. Sedangkan sekolah yang belum memenuhi syarat tersebut dilarang mencuri start untuk PTM terbatas karena keselamatan siswa, guru, dan lingkungan sekolah menjadi hal utama.

Salah satu sekolah yang sudah melaksanakan PTM terbatas adalah SMA Negeri 2 Blora. Meski menuai pro-kontra baik kalangan orang tua maupun satuan tenaga pendidikan tetapi PTM terbatas harus tetap dilaksanakan untuk melahirkan warga bangsa yang berpendidikan dengan mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal. Menurut laman resmi covid19.go.id. Ada tiga hal yang mendasari diberlakukannya PTM. Pertama, untuk menghindari ancaman putus sekolah. Kedua, untuk menghindari penurunan capaian belajar siswa dan ketiga untuk mengurangi risiko psikososial atau kondisi individu yang mencakup aspek psikis, dan sosial pada siswa.

Sisi pro adanya PTM, dilihat dari sambutan baik oleh siswa yang sudah jenuh akan pembelajaran daring. Mereka sudah tidak sabar untuk berinteraksi kembali dengan teman-temannya. Kejenuhan siswa akan belajar secara daring memicu merosotnya semangat siswa untuk menyerap materi pelajaran sehingga membuat prestasi siswa menurun. PTM terbatas juga dapat meminimalisasi kesenjangan digital antara satuan pendidikan yang berada di wilayah terjangkau internet dengan baik dan yang tidak. Dengan begitu, siswa yang berada di wilayah sulit jangkauan internet bisa tetap mendapatkan pembelajaran yang optimal. PTM terbatas menjadi penting untuk menghindari learning loss. Bahkan, PTM juga disambut baik oleh orang tua siswa, mayoritas orang tua mengeluh anaknya yang terlalu asyik di rumah sehingga kehilangan kesempatan belajar. Jangan sampai kemalasan anak bersekolah membuat dia lupa akan kewajibannya untuk belajar. Orang tua siswa juga bisa merasakan dampak dari pembelajaran jarak jauh anaknya, orang tua bisa stres yang menyebabkan kekerasan pada anak. Oleh karena itu mayoritas orang tua mengizinkan dan menanti kabar baik pemerintah untuk memberlakukan pembelajaran tatap muka kembali meksipun terbatas dan harus dengan prokes ketat.

Baca Juga :  Tata Krama Siswa di Masa Pandemi

Di sisi lain tidak sedikit juga pihak yang was-was dengan sekolah tatap muka ini. Terlebih virus ini masih ada dan belum adanya vaksinasi untuk anak di bawah 12 tahun. Orang tua khawatir akan kesehatan anaknya. Para orang tua juga khawatir, anak-anak mereka belum mampu menjaga prokes dan kebersihan sekolah belum terjamin.

Pemberlakuan PTM juga diragukan kehadirannya, apabila sarana dan prasarana di sekolah tidak menunjang seperti tidak adanya tempat untuk cuci tangan, tidak menerapkan pedoman kesehatan jangka panjang termasuk memastikan fasilitas air, sanitasi, dan kebersihan yang layak bagi siswa. Masih banyak siswa yang belum terbiasa menggunakan masker dalam waktu lama karena merasa pengap atau tidak nyaman sehingga melepaskan maskernya. Adanya peristiwa tersebut, tidak menjamin guru mampu mengawasi dan mengatur siswa setiap saat. Pasti guru akan kuwalahan.

Terlepas dari pro dan kontra yang ada, kerja sama dan komunikasi yang baik antara siswa, guru, dan orang tua siswa dapat menciptakan suatu keberhasilan dengan adanya pemberlakuan PTM terbatas. Hal tersebut juga menjadi polemik untuk kita semua, terutama para pemangku kebijakan. Kerja sama dan komunikasi yang baik antarsemua pihak menjadi kunci agar pembelajaran tatap muka terbatas dapat berjalan dengan efektif sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran dan meningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Ada atau tidaknya pembelajaran tatap muka terbatas bukan menjadi suatu permasalahan yang harus didebatkan. Hal terpenting adalah menjaga prokes, menciptakan lingkungan sehat dan terus menjaga pola hidup sehat dari diri sendiri. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/