alexametrics
23.2 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Memaksimalkan Fungsi Bimbingan dan Konseling dengan Peran Alumni

KEGIATAN belajar mengajar di sekolah hingga saat ini belum bisa dilakukan secara penuh, walaupun sudah beberapa kali digelar uji coba pembelajaran tatap muka (PTM). Kondisi seperti ini, menuntut agar para guru bimbingan dan konseling (guru BK) lebih kreatif dalam memberikan layanan kepada siswa.

Setiap peserta didik dihadapkan pada situasi kehidupan yang kompleks, penuh peluang dan tantangan, serta ketidakmenentuan. Dalam konstelasi kehidupan tersebut, setiap peserta didik memerlukan berbagai kompetensi hidup untuk berkembang secara efektif, produktif dan bermartabat, serta bermaslahat bagi dirinya sendiri dan lingkungannya.

Bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dari pendidikan adalah upaya untuk memfasilitasi dan memandirikan peserta didik demi tercapainya perkembangan yang utuh dan optimal. Sesuai dengan hal itu, guru BK SMA Negeri 1 Sulang memberikan layanan kepada peserta didik sesuai dengan beberapa fungsi layanan bimbingan dan konseling. Yaitu fungsi fasilitasi yang memberikan kemudahan kepada para peserta didik dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang, serta memaksimalkan fungsi penyaluran, yaitu membantu peserta didik dalam merencanakan pendidikan, pekerjaan dan karir masa depan, termasuk juga memilih program peminatan yang sesuai dengan kemampuan, minat, bakat, serta keahliannya.


Selama ini, seringkali sekolah kesulitan melacak rekam jejak alumni. Dikarenakan setelah mereka menamatkan pendidikan di sekolah menengah (SMA) dan melanjutkan ke pendidikan tinggi, sudah sangat jarang berkomunikasi dengan pihak sekolah.

Berkaca pada permasalahan itu, para guru BK mendata keberadaan para alumni. Berdasarkan data ini, kemudian dijalin komunikasi, sehingga bisa diketahui perkembangan para alumni. Peran serta alumni inilah yang dicoba untuk dimaksimalkan untuk memberikan bukti dan contoh pada para adik kelasnya.

Mereka yang sudah berkarir sebagai ASN, pengusaha, profesional, atau mereka yang masih kuliah juga secara periodik dilibatkan sebagai narasumber untuk lebih meningkatkan motivasi para peserta didik. Banyak peserta didik yang hingga kelas XII masih bingung tentang masa depannya setelah menamatkan pendidikan menengahnya. Banyak keinginan dan rencana, namun banyak pula kendala yang mereka hadapi.

Baca Juga :  Asyik Belajar Matematika melalui Model NHT

Salah satu kegiatan yang telah dilakukan di SMA Negeri 1 Sulang adalah dengan melibatkan alumni sebagai narasumber yang saat ini berada di Eropa dalam program pertukaran budaya. Alumni ini dipilih lebih dahulu untuk berbagi pengalamannya, karena berdasar data di sekolah, menunjukkan banyak siswa yang sebenarnya ingin bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun faktor ekonomi menjadi salah satu alasan kegagalan rencana tersebut.

Beberapa kali terjadi, siswa sudah dinyatakan diterima di perguruan tinggi negeri, namun akhirnya urung melanjutkan, karena keadaan ekonomi orang tua kurang mendukung. Ada juga siswa yang sebenarnya mempunyai cita-cita tinggi dan memiliki prestasi akademik yang bagus, namun merasa tidak ada dukungan ekonomi dari keluarga, akhirnya tidak berani mengukuti seleksi masuk perguruan tinggi.

Pada kegiatan ini, alumni berbagi pengalamannya kepada para adik kelasnya menggunakan aplikasi Zoom. Sebab, saat ini belum memungkinkan untuk tatap muka. Alumni yang saat ini berada di Paris, Perancis, berbagi kisah tentang program pertukaran budaya yang saat ini dilakukan. Program pertukaran budaya sendiri masih sangat terbatas informasinya, sehingga dirasa sangat perlu untuk disosialisasikan, agar siswa-siswa yang memiliki potensi mempunyai gambaran bagaimana cara mengembangkan potensi.

Pada kegiatan ini, dijelaskan bagaimana cara mencari informasi negara tujuan, keluarga asuh, pendaftaran dan komunikasi awal dengan calon keluarga yang akan menampung, serta proses administrasi dan izin. Dijelaskan juga tentang hak dan kewajiban yang diperoleh dan tantangan serta kendala. Kegiatan pertukaran budaya tersebut, memungkinkan siswa selain berada di Eropa juga bisa memperoleh uang saku bulanan. Uang saku inilah yang digunakan untuk bisa melanjutkan ke pendidikan tinggi. (*)

KEGIATAN belajar mengajar di sekolah hingga saat ini belum bisa dilakukan secara penuh, walaupun sudah beberapa kali digelar uji coba pembelajaran tatap muka (PTM). Kondisi seperti ini, menuntut agar para guru bimbingan dan konseling (guru BK) lebih kreatif dalam memberikan layanan kepada siswa.

Setiap peserta didik dihadapkan pada situasi kehidupan yang kompleks, penuh peluang dan tantangan, serta ketidakmenentuan. Dalam konstelasi kehidupan tersebut, setiap peserta didik memerlukan berbagai kompetensi hidup untuk berkembang secara efektif, produktif dan bermartabat, serta bermaslahat bagi dirinya sendiri dan lingkungannya.

Bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dari pendidikan adalah upaya untuk memfasilitasi dan memandirikan peserta didik demi tercapainya perkembangan yang utuh dan optimal. Sesuai dengan hal itu, guru BK SMA Negeri 1 Sulang memberikan layanan kepada peserta didik sesuai dengan beberapa fungsi layanan bimbingan dan konseling. Yaitu fungsi fasilitasi yang memberikan kemudahan kepada para peserta didik dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang, serta memaksimalkan fungsi penyaluran, yaitu membantu peserta didik dalam merencanakan pendidikan, pekerjaan dan karir masa depan, termasuk juga memilih program peminatan yang sesuai dengan kemampuan, minat, bakat, serta keahliannya.

Selama ini, seringkali sekolah kesulitan melacak rekam jejak alumni. Dikarenakan setelah mereka menamatkan pendidikan di sekolah menengah (SMA) dan melanjutkan ke pendidikan tinggi, sudah sangat jarang berkomunikasi dengan pihak sekolah.

Berkaca pada permasalahan itu, para guru BK mendata keberadaan para alumni. Berdasarkan data ini, kemudian dijalin komunikasi, sehingga bisa diketahui perkembangan para alumni. Peran serta alumni inilah yang dicoba untuk dimaksimalkan untuk memberikan bukti dan contoh pada para adik kelasnya.

Mereka yang sudah berkarir sebagai ASN, pengusaha, profesional, atau mereka yang masih kuliah juga secara periodik dilibatkan sebagai narasumber untuk lebih meningkatkan motivasi para peserta didik. Banyak peserta didik yang hingga kelas XII masih bingung tentang masa depannya setelah menamatkan pendidikan menengahnya. Banyak keinginan dan rencana, namun banyak pula kendala yang mereka hadapi.

Baca Juga :  Guruku adalah Orang Tuaku di Sekolah

Salah satu kegiatan yang telah dilakukan di SMA Negeri 1 Sulang adalah dengan melibatkan alumni sebagai narasumber yang saat ini berada di Eropa dalam program pertukaran budaya. Alumni ini dipilih lebih dahulu untuk berbagi pengalamannya, karena berdasar data di sekolah, menunjukkan banyak siswa yang sebenarnya ingin bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun faktor ekonomi menjadi salah satu alasan kegagalan rencana tersebut.

Beberapa kali terjadi, siswa sudah dinyatakan diterima di perguruan tinggi negeri, namun akhirnya urung melanjutkan, karena keadaan ekonomi orang tua kurang mendukung. Ada juga siswa yang sebenarnya mempunyai cita-cita tinggi dan memiliki prestasi akademik yang bagus, namun merasa tidak ada dukungan ekonomi dari keluarga, akhirnya tidak berani mengukuti seleksi masuk perguruan tinggi.

Pada kegiatan ini, alumni berbagi pengalamannya kepada para adik kelasnya menggunakan aplikasi Zoom. Sebab, saat ini belum memungkinkan untuk tatap muka. Alumni yang saat ini berada di Paris, Perancis, berbagi kisah tentang program pertukaran budaya yang saat ini dilakukan. Program pertukaran budaya sendiri masih sangat terbatas informasinya, sehingga dirasa sangat perlu untuk disosialisasikan, agar siswa-siswa yang memiliki potensi mempunyai gambaran bagaimana cara mengembangkan potensi.

Pada kegiatan ini, dijelaskan bagaimana cara mencari informasi negara tujuan, keluarga asuh, pendaftaran dan komunikasi awal dengan calon keluarga yang akan menampung, serta proses administrasi dan izin. Dijelaskan juga tentang hak dan kewajiban yang diperoleh dan tantangan serta kendala. Kegiatan pertukaran budaya tersebut, memungkinkan siswa selain berada di Eropa juga bisa memperoleh uang saku bulanan. Uang saku inilah yang digunakan untuk bisa melanjutkan ke pendidikan tinggi. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/