alexametrics
31.8 C
Kudus
Thursday, May 12, 2022

Konsep 3A (Asah, Asih, Asuh) Di Masa Pandemi

KI Hadjar Dewantoro menjelaskan bahwa pembelajaran pada anak dilaksanakan dengan memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada anak, selama tidak ada bahaya yang mengancam anak. Pendapat Ki Hajar Dewantoro tersebut menjelaskan bahwa guru berperan sebagai fasilitator bagi proses perkembangan anak. Konsep dan pandangan filosofis Ki Hajar Dewantara dimana salah satunya merupakan konsep filosofi yang dewasa ini sangat dibutuhkan dalam menjalankan pendidikan di Indonesia yaitu konsep filosofi 3A (asah, asih, asuh).

Sedangkan menurut Rahardjo (2009) sistem among berkaitan dengan kata dasar Mong yang mencakup Among, Momong dan Ngemong, biasa disebut “Tiga Mong”, yaitu memberikan pengasuhan, perhatian, dan stimulasi pada anak untuk mengembangkan aspek perkembangan anak. Berbagai pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem among dapat diimplikasikan dalam kegiatan pembelajaran untuk menanamkan nilai karakter anak. Tahapan penanaman karakter pada anak  dalam pembelajaran berbasis sistem among/3A (asah, asih, asuh).

Asah yang berarti mendidik, mendidik berarti tidak hanya menyampaikan materi pembelajaran, tapi bisa membentuk anak menjadi berkarakter. Asih artinya mencintai, yang berarti antara guru dan anak didik harus ada rasa sayang menyanyangi, antar anak didik juga. Sedangkan Asuh artinya membina, yang berarti Guru sebagai fasilitator harus bisa membimbing anak kearah yang lebih baik. Guru harus bisa memberi suri tauladan kepada anak ke dalam hal kebaikan. Ketiga tiganya ini bisa tercapai apabila KBM dilaksanakan dengan cara tatap muka.


Sistem among/3A (asah, asih, asuh) dapat diterapkan dalam proses pembelajaran untuk menanamkan nilai karakter pada anak. Penerapan sistem among/3A (asah, asih, asuh) dalam pembelajaran untuk menanamkan nilai karakter pada anak  dilaksanakan selama proses pembelajaran dari kegiatan awal, inti, istirahat, dan penutup. Dalam menerapkan sistem among (asah, asih, asuh) guru berperan sebagai: Pertama, sumber informasi dalam memberikan pengetahuan pada anak usia dini. Kedua, tauladan atau contoh dalam berbuatan, perkataan, dan berpakaian. Ketiga, pendamping dan fasilitator untuk anak selama proses pembelajaran.

Baca Juga :  Meningkatkan Literasi pada Siswa SD

Dalam penerapan sistem among (asah, asih, asuh) untuk menanamkan nilai karakter pada anak usia dini meliputi bebrapa tahapan, yaitu: penyusunan silabus, penyususan RPP, menentukan media, serta menyusun dan melakukan penilaian. Sistem among (asah, asih, asuh) dapat diterapkan dalam proses pembelajaran baik dari pendidikan usia dini sampai pendidikan tinggi. Sistem among/3A (asah, asih, asuh) sesuai dengan teori belajar humanisme dimana sebuah proses pembelajaran memanusiakan manusia dengan peran masing-masing guru dan anak dalam membangun pengetahuan. Sistem among (asah, asih, asuh) tidak hanya digunakan untuk menanamkan nilai karakter saja, tetapi dapat digunakan untuk membangun pengetahuan sehingga akan tercapai generasi bangsa yang memiliki kecerdasan spritual atau religius, emosional, dan intelektual.

Tetapi sejak pandemi Covid-19, guru sama sekali tidak bisa menerapkan konsep among/3A karena KBM dilaksanakan daring. Pembelajaran daring mempunyai banyak kelemahan, diantaranya pertama tidak bisa langsung bisa bertemu dengan anak didik, sehingga guru kurang paham tentang karasteristik anak. Kedua keterbatasan ekonomi masyarakat di pedesaan, sehingga banyak anak yang belum mempunyai android.

Semoga pandemi cepat berlalu dan Indonesia cepat pulih seperti semula, sehingga konsep kuno among/3A bisa diterapkan kembali, dan Tujuan Pendidikan Nasional bisa tercapai. (*)

KI Hadjar Dewantoro menjelaskan bahwa pembelajaran pada anak dilaksanakan dengan memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada anak, selama tidak ada bahaya yang mengancam anak. Pendapat Ki Hajar Dewantoro tersebut menjelaskan bahwa guru berperan sebagai fasilitator bagi proses perkembangan anak. Konsep dan pandangan filosofis Ki Hajar Dewantara dimana salah satunya merupakan konsep filosofi yang dewasa ini sangat dibutuhkan dalam menjalankan pendidikan di Indonesia yaitu konsep filosofi 3A (asah, asih, asuh).

Sedangkan menurut Rahardjo (2009) sistem among berkaitan dengan kata dasar Mong yang mencakup Among, Momong dan Ngemong, biasa disebut “Tiga Mong”, yaitu memberikan pengasuhan, perhatian, dan stimulasi pada anak untuk mengembangkan aspek perkembangan anak. Berbagai pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem among dapat diimplikasikan dalam kegiatan pembelajaran untuk menanamkan nilai karakter anak. Tahapan penanaman karakter pada anak  dalam pembelajaran berbasis sistem among/3A (asah, asih, asuh).

Asah yang berarti mendidik, mendidik berarti tidak hanya menyampaikan materi pembelajaran, tapi bisa membentuk anak menjadi berkarakter. Asih artinya mencintai, yang berarti antara guru dan anak didik harus ada rasa sayang menyanyangi, antar anak didik juga. Sedangkan Asuh artinya membina, yang berarti Guru sebagai fasilitator harus bisa membimbing anak kearah yang lebih baik. Guru harus bisa memberi suri tauladan kepada anak ke dalam hal kebaikan. Ketiga tiganya ini bisa tercapai apabila KBM dilaksanakan dengan cara tatap muka.

Sistem among/3A (asah, asih, asuh) dapat diterapkan dalam proses pembelajaran untuk menanamkan nilai karakter pada anak. Penerapan sistem among/3A (asah, asih, asuh) dalam pembelajaran untuk menanamkan nilai karakter pada anak  dilaksanakan selama proses pembelajaran dari kegiatan awal, inti, istirahat, dan penutup. Dalam menerapkan sistem among (asah, asih, asuh) guru berperan sebagai: Pertama, sumber informasi dalam memberikan pengetahuan pada anak usia dini. Kedua, tauladan atau contoh dalam berbuatan, perkataan, dan berpakaian. Ketiga, pendamping dan fasilitator untuk anak selama proses pembelajaran.

Baca Juga :  Guru Dan Literasi Digital Di Masa Pandemi

Dalam penerapan sistem among (asah, asih, asuh) untuk menanamkan nilai karakter pada anak usia dini meliputi bebrapa tahapan, yaitu: penyusunan silabus, penyususan RPP, menentukan media, serta menyusun dan melakukan penilaian. Sistem among (asah, asih, asuh) dapat diterapkan dalam proses pembelajaran baik dari pendidikan usia dini sampai pendidikan tinggi. Sistem among/3A (asah, asih, asuh) sesuai dengan teori belajar humanisme dimana sebuah proses pembelajaran memanusiakan manusia dengan peran masing-masing guru dan anak dalam membangun pengetahuan. Sistem among (asah, asih, asuh) tidak hanya digunakan untuk menanamkan nilai karakter saja, tetapi dapat digunakan untuk membangun pengetahuan sehingga akan tercapai generasi bangsa yang memiliki kecerdasan spritual atau religius, emosional, dan intelektual.

Tetapi sejak pandemi Covid-19, guru sama sekali tidak bisa menerapkan konsep among/3A karena KBM dilaksanakan daring. Pembelajaran daring mempunyai banyak kelemahan, diantaranya pertama tidak bisa langsung bisa bertemu dengan anak didik, sehingga guru kurang paham tentang karasteristik anak. Kedua keterbatasan ekonomi masyarakat di pedesaan, sehingga banyak anak yang belum mempunyai android.

Semoga pandemi cepat berlalu dan Indonesia cepat pulih seperti semula, sehingga konsep kuno among/3A bisa diterapkan kembali, dan Tujuan Pendidikan Nasional bisa tercapai. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/